TULUNGAGUNG – Pabrik Gula Kunir Tulungagung menjadi salah satu saksi bisu perjalanan panjang sejarah industri gula di wilayah selatan Jawa Timur. Dibangun pada tahun 1827 oleh pemerintah kolonial Belanda, kawasan ini kini menjelma menjadi destinasi nongkrong favorit anak muda dengan deretan kafe yang ramai setiap malam.
Pabrik Gula Kunir Tulungagung berlokasi di Jalan Raya Blitar, tepatnya di Kelurahan Kaliwungu, Kecamatan Ngunut. Letaknya cukup strategis dan mudah dijangkau dari berbagai arah. Dari Pasar Ngunut, pengunjung cukup melaju ke arah timur sekitar 1,5 kilometer hingga menemukan area bekas pabrik yang berada tak jauh dari kawasan PT Perkebunan Nusantara.
Keberadaan Pabrik Gula Kunir Tulungagung tak hanya menyimpan cerita kejayaan industri gula pada masa kolonial, tetapi juga kisah kehancuran saat masa peperangan. Transformasinya dari kawasan industri tua yang terbengkalai menjadi pusat aktivitas malam hari menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Dibangun Belanda Sejak 1827
Secara historis, Pabrik Gula Kunir Tulungagung didirikan pada 1827, di masa ekspansi industri gula oleh pemerintah Hindia Belanda. Saat itu, Tulungagung dikenal sebagai salah satu wilayah potensial penghasil tebu karena kondisi tanahnya yang subur.
Namun, perjalanan pabrik ini tidak selalu mulus. Pada masa Agresi Militer dan pendudukan Jepang, hampir seluruh bangunan di area pabrik luluh lantak. Banyak bagian bangunan hancur dan tak menyisakan struktur utuh. Kini, yang tersisa hanyalah sebagian tembok serta bangunan bekas kantor pabrik yang masih berdiri meski dalam kondisi memprihatinkan.
Bangunan kantor tersebut masih menunjukkan jejak arsitektur lama. Di dalamnya terdapat ukiran-ukiran yang melingkari lantai setiap ruangan. Detail ornamen ini menjadi bukti bahwa bangunan tersebut pernah menjadi pusat administrasi penting di masanya. Sayangnya, kurangnya perawatan membuat dinding dan interior dipenuhi coretan, sehingga mengurangi nilai historisnya.
Dari Kawasan Terbengkalai Jadi Pusat Nongkrong
Sejak tidak lagi digunakan sekitar tahun 1930, area Pabrik Gula Kunir Tulungagung sempat dikenal sebagai kawasan yang sepi dan terkesan menyeramkan. Warga pun jarang melintas atau masuk ke area tersebut.
Namun, situasi itu berubah drastis dalam beberapa tahun terakhir. Kini, kiri dan kanan jalan di sekitar bekas pabrik dipenuhi kafe dan tempat makan yang ramai pengunjung, terutama pada malam hari. Deretan lampu yang menghiasi halaman kafe menciptakan suasana hangat dan estetik.
Anak-anak muda Tulungagung menjadikan kawasan ini sebagai salah satu spot favorit untuk berkumpul. Meja dan kursi tertata rapi di halaman, menciptakan konsep semi-outdoor yang nyaman. Suasana yang dulu identik dengan bangunan tua kini berubah menjadi pusat aktivitas sosial yang hidup.
Transformasi ini menunjukkan bagaimana ruang bersejarah dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa sepenuhnya menghapus identitas masa lalunya.
Potensi Wisata Sejarah Tulungagung
Melihat nilai sejarah yang dimiliki, Pabrik Gula Kunir Tulungagung sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai wisata heritage. Jejak arsitektur kolonial, kisah pendirian pada abad ke-19, hingga dinamika masa perang bisa menjadi daya tarik edukatif bagi generasi muda.
Kabupaten Tulungagung sendiri dikenal memiliki sejumlah situs bersejarah yang tersebar di berbagai kecamatan. Pengembangan kawasan bekas pabrik gula ini dapat menjadi bagian dari paket wisata sejarah sekaligus wisata kuliner malam.
Meski berada di bawah pengawasan Pabrik Gula Mojopanggung, pelestarian bangunan lama tetap menjadi tantangan. Tanpa perawatan serius, sisa-sisa bangunan bersejarah tersebut berpotensi semakin rusak.
Ke depan, kolaborasi antara pemerintah daerah, pengelola kawasan, dan komunitas sejarah diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara fungsi komersial dan pelestarian cagar budaya.
Kini, Pabrik Gula Kunir Tulungagung bukan lagi sekadar cerita tentang bangunan tua peninggalan Belanda. Ia telah bertransformasi menjadi simbol perubahan—dari industri kolonial, reruntuhan perang, hingga ruang publik yang hidup di tengah masyarakat modern Tulungagung.
Editor : Dyah Wulandari