TULUNGAGUNG – Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung pernah menjadi simbol kejayaan industri kretek di Jawa Timur bagian selatan. Berdiri sejak 1946, perusahaan ini bukan sekadar produsen rokok, melainkan denyut nadi ekonomi ribuan keluarga. Namun, di balik kejayaan tersebut, terselip kisah kebangkrutan dan mitos yang hingga kini masih diperbincangkan.
Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung didirikan oleh Sumiran Karsodiwirjo pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Dari skala rumahan, usaha itu berkembang pesat menjadi salah satu pabrik rokok kretek terbesar di Tulungagung. Puncak kejayaannya terjadi pada era 1980-an hingga 1990-an.
Saat itu, nama Reco Pentung bukan hanya merek dagang. Ia menjadi identitas kota. Ribuan masyarakat menggantungkan hidup pada industri ini. Data yang beredar menyebutkan jumlah tenaga kerja pernah mencapai sekitar 4.500 orang, mayoritas kaum ibu yang bekerja sebagai pelinting rokok kretek.
Raksasa Industri Lokal
Di masa jayanya, Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung menjadi ikon kebanggaan daerah. Aktivitas produksi berlangsung setiap hari, menciptakan perputaran ekonomi yang besar. Dari buruh linting hingga distribusi, ribuan keluarga merasakan dampaknya.
Keberadaan pabrik ini bahkan disebut sebagai salah satu motor penggerak ekonomi rakyat di Tulungagung. Kota kecil di selatan Jawa Timur itu dikenal luas karena produk kreteknya.
Namun, memasuki akhir 1990-an hingga awal 2000-an, situasi berubah. Industri rokok nasional mengalami tekanan berat akibat kenaikan cukai, regulasi ketat, dan persaingan dengan perusahaan besar bermodal kuat.
Sekitar 2001–2002, Reco Pentung resmi dinyatakan pailit. Ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian. Sengketa pesangon dan perebutan aset sempat mencuat ke publik. Bahkan pada 2016, mantan karyawan tercatat pernah menggelar aksi protes menuntut hak mereka.
Kebangkrutan itu menjadi pukulan telak bagi Tulungagung. Kota yang pernah berdenyut oleh industri kretek tiba-tiba kehilangan salah satu penopang ekonominya.
Antara Regulasi dan Manajemen
Banyak pihak menilai kejatuhan Reco Pentung dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Kenaikan pajak cukai rokok membuat biaya produksi melonjak. Di sisi lain, persaingan dengan perusahaan raksasa seperti Gudang Garam dan Djarum semakin ketat.
Perusahaan-perusahaan besar tersebut memiliki modal triliunan rupiah dan teknologi modern, sementara Reco Pentung masih mengandalkan sistem produksi semi-manual dan jaringan distribusi lokal.
Di tengah perubahan pasar dan selera konsumen, adaptasi menjadi tantangan berat. Pada akhirnya, badai regulasi dan manajemen membuat raksasa lokal ini tumbang.
Mitos Nyiroro Kidul dan Klarifikasi Keluarga
Selain kisah industri, Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung juga lekat dengan cerita mistis. Kesuksesan luar biasa yang diraih pada masa lalu kerap dikaitkan dengan praktik pesugihan dan sosok legendaris Nyiroro Kidul.
Isu ini muncul karena kedekatan pendiri perusahaan dengan budaya Jawa serta keberadaan padepokan yang dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap seni dan tradisi. Di dalamnya terdapat patung tokoh-tokoh legenda, termasuk representasi Nyiroro Kidul.
Namun keluarga Sumiran Karsodiwirjo telah berulang kali membantah anggapan tersebut. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan murni hasil kerja keras, strategi bisnis, dan ketekunan sang pendiri.
Bagi kalangan pecinta budaya Jawa, sosok Nyiroro Kidul bukan semata simbol pesugihan, melainkan bagian dari warisan legenda dan penghormatan terhadap alam serta tradisi lokal.
Warisan Sejarah Industri Tulungagung
Kini, bangunan bekas Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung masih berdiri, meski sebagian terbengkalai. Dinding-dinding tua menjadi saksi bisu masa ketika ribuan buruh keluar masuk setiap hari.
Kisah Reco Pentung bukan hanya cerita tentang rokok. Ia adalah potret dinamika industri nasional, dampak sosial kebangkrutan, dan bagaimana budaya lokal membentuk narasi sebuah perusahaan.
Dari kejayaan 4.500 buruh hingga bangkrut di awal 2000-an, perjalanan Reco Pentung mengajarkan bahwa keberhasilan industri membutuhkan adaptasi berkelanjutan. Mitos mungkin menyelimuti, tetapi faktor ekonomi dan manajerial tetap menjadi penentu utama.
Bagi warga Tulungagung, nama Reco Pentung tetap hidup sebagai simbol kerja keras dan kebangkitan ekonomi rakyat—sebuah bab penting dalam sejarah industri rokok Indonesia
Editor : Dyah Wulandari