Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Bangkrutnya Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung, Dari Raksasa 4.500 Buruh hingga Diterpa Mitos Nyiroro Kidul

Dyah Wulandari • Rabu, 18 Februari 2026 | 20:30 WIB

Bangkrutnya Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung, dari kejayaan 4.500 buruh hingga diterpa mitos Nyiroro Kidul
Bangkrutnya Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung, dari kejayaan 4.500 buruh hingga diterpa mitos Nyiroro Kidul

TULUNGAGUNG – Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung pernah menjadi simbol kejayaan industri kretek di Jawa Timur bagian selatan. Berdiri sejak 1946, perusahaan ini bukan sekadar produsen rokok, melainkan denyut nadi ekonomi ribuan keluarga. Namun, di balik kejayaan tersebut, terselip kisah kebangkrutan dan mitos yang hingga kini masih diperbincangkan.

Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung didirikan oleh Sumiran Karsodiwirjo pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Dari skala rumahan, usaha itu berkembang pesat menjadi salah satu pabrik rokok kretek terbesar di Tulungagung. Puncak kejayaannya terjadi pada era 1980-an hingga 1990-an.

Saat itu, nama Reco Pentung bukan hanya merek dagang. Ia menjadi identitas kota. Ribuan masyarakat menggantungkan hidup pada industri ini. Data yang beredar menyebutkan jumlah tenaga kerja pernah mencapai sekitar 4.500 orang, mayoritas kaum ibu yang bekerja sebagai pelinting rokok kretek.

Baca Juga: Gunung Cilik Tulungagung dan Kisah Resi Winadi: Jejak Roro Kembangsore, Cinta Tragis hingga Asal-Usul Gunung Budeg

Raksasa Industri Lokal

Di masa jayanya, Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung menjadi ikon kebanggaan daerah. Aktivitas produksi berlangsung setiap hari, menciptakan perputaran ekonomi yang besar. Dari buruh linting hingga distribusi, ribuan keluarga merasakan dampaknya.

Keberadaan pabrik ini bahkan disebut sebagai salah satu motor penggerak ekonomi rakyat di Tulungagung. Kota kecil di selatan Jawa Timur itu dikenal luas karena produk kreteknya.

Baca Juga: Makam Tumenggung Surontani Tulungagung: Jejak Tokoh Sakti Pembabat Hutan Wajak Kidul dan Misteri Macan Putih Gaib

Namun, memasuki akhir 1990-an hingga awal 2000-an, situasi berubah. Industri rokok nasional mengalami tekanan berat akibat kenaikan cukai, regulasi ketat, dan persaingan dengan perusahaan besar bermodal kuat.

Sekitar 2001–2002, Reco Pentung resmi dinyatakan pailit. Ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian. Sengketa pesangon dan perebutan aset sempat mencuat ke publik. Bahkan pada 2016, mantan karyawan tercatat pernah menggelar aksi protes menuntut hak mereka.

Kebangkrutan itu menjadi pukulan telak bagi Tulungagung. Kota yang pernah berdenyut oleh industri kretek tiba-tiba kehilangan salah satu penopang ekonominya.

Baca Juga: Gunung Budeg Tulungagung: Gunung Api Purba di Tengah Kota, Kisah Joko Budek hingga Perjuangan 20 Tahun Menjaga Alam

Antara Regulasi dan Manajemen

Banyak pihak menilai kejatuhan Reco Pentung dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan internal. Kenaikan pajak cukai rokok membuat biaya produksi melonjak. Di sisi lain, persaingan dengan perusahaan raksasa seperti Gudang Garam dan Djarum semakin ketat.

Perusahaan-perusahaan besar tersebut memiliki modal triliunan rupiah dan teknologi modern, sementara Reco Pentung masih mengandalkan sistem produksi semi-manual dan jaringan distribusi lokal.

Baca Juga: Asal Usul Nama Tulungagung, Kisah Tulunging Agung dari Banjir Sungai Brantas hingga Jadi Simbol Doa dan Kebangkitan

Di tengah perubahan pasar dan selera konsumen, adaptasi menjadi tantangan berat. Pada akhirnya, badai regulasi dan manajemen membuat raksasa lokal ini tumbang.

Mitos Nyiroro Kidul dan Klarifikasi Keluarga

Selain kisah industri, Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung juga lekat dengan cerita mistis. Kesuksesan luar biasa yang diraih pada masa lalu kerap dikaitkan dengan praktik pesugihan dan sosok legendaris Nyiroro Kidul.

Baca Juga: Kriteria Desil Penerima Bansos 2026 Resmi Diubah, Kemensos Coret Ratusan Ribu PKH dan Bantuan Sembako di Luar Desil 1–4

Isu ini muncul karena kedekatan pendiri perusahaan dengan budaya Jawa serta keberadaan padepokan yang dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap seni dan tradisi. Di dalamnya terdapat patung tokoh-tokoh legenda, termasuk representasi Nyiroro Kidul.

Namun keluarga Sumiran Karsodiwirjo telah berulang kali membantah anggapan tersebut. Mereka menegaskan bahwa keberhasilan perusahaan murni hasil kerja keras, strategi bisnis, dan ketekunan sang pendiri.

Bagi kalangan pecinta budaya Jawa, sosok Nyiroro Kidul bukan semata simbol pesugihan, melainkan bagian dari warisan legenda dan penghormatan terhadap alam serta tradisi lokal.

Baca Juga: Bansos Bantuan Pangan 2026 Cair Jelang Ramadan, 35,04 Juta KPM Dapat Beras dan Minyak, Cek Nama di Sini!

Warisan Sejarah Industri Tulungagung

Kini, bangunan bekas Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung masih berdiri, meski sebagian terbengkalai. Dinding-dinding tua menjadi saksi bisu masa ketika ribuan buruh keluar masuk setiap hari.

Kisah Reco Pentung bukan hanya cerita tentang rokok. Ia adalah potret dinamika industri nasional, dampak sosial kebangkrutan, dan bagaimana budaya lokal membentuk narasi sebuah perusahaan.

Baca Juga: BSU Ketenagakerjaan 2026 Cair Rp600.000? Ini Syarat Penerima, Skema Transfer ke Bank Himbara dan Penegasan Resmi Pemerintah

Dari kejayaan 4.500 buruh hingga bangkrut di awal 2000-an, perjalanan Reco Pentung mengajarkan bahwa keberhasilan industri membutuhkan adaptasi berkelanjutan. Mitos mungkin menyelimuti, tetapi faktor ekonomi dan manajerial tetap menjadi penentu utama.

Bagi warga Tulungagung, nama Reco Pentung tetap hidup sebagai simbol kerja keras dan kebangkitan ekonomi rakyat—sebuah bab penting dalam sejarah industri rokok Indonesia

Editor : Dyah Wulandari
#pabrik rokok #mitos nyi roro kidul #industri rokok #Sumiran Karsodiwirjo #Reco Pentung Tulungagung