Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Reco Sewu Tulungagung, Makam Pendiri Rokok Rejo Pentung yang Dikelilingi 2.999 Arca dan Sarat Ritual Kejawen

Dyah Wulandari • Rabu, 18 Februari 2026 | 20:40 WIB

Reco Sewu Tulungagung, makam pendiri rokok Rejo Pentung di Pantai Popoh, dikelilingi 2.999 arca dan sarat ritual
Reco Sewu Tulungagung, makam pendiri rokok Rejo Pentung di Pantai Popoh, dikelilingi 2.999 arca dan sarat ritual

TULUNGAGUNG – Reco Sewu Tulungagung menjadi salah satu lokasi yang menyita perhatian publik karena kemegahan sekaligus nuansa mistisnya. Terletak di kawasan Pantai Popoh, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, kompleks ini merupakan makam Haji Kusmiran Karso Diwiryo, pendiri perusahaan rokok Rejo Pentung yang pernah berjaya di Jawa Timur.

Kompleks Reco Sewu Tulungagung berdiri megah tak jauh dari pesisir selatan. Dari gerbang masuk, pengunjung langsung disambut deretan arca yang berjajar di kanan dan kiri pagar. Menurut keterangan penjaga setempat, jumlah arca di kawasan ini mencapai sekitar 2.999 buah—angka yang seluruhnya berkaitan dengan filosofi angka sembilan.

Bangunan ini mulai dibangun pada 1990 dan diresmikan sekitar 1995. Tak lama setelah itu, sang pendiri wafat pada 21 Februari 1997 dan dimakamkan di dalam kompleks tersebut bersama istrinya yang meninggal pada 15 Juni 2013.

Baca Juga: Terbengkalai dan Penuh Mitos, Bekas Pabrik Gula Kunir di Ngunut Tulungagung Ternyata Pernah Jadi yang Paling Modern di Keresidenan Kediri

Dikelilingi Ribuan Arca dan Filosofi Angka Sembilan

Salah satu ciri khas Reco Sewu Tulungagung adalah ribuan arca yang memenuhi hampir seluruh sudut bangunan. Arca-arca tersebut sebagian besar merupakan arca Dwarapala berukuran besar yang ditempatkan di gerbang dan pagar utama.

Penjaga kompleks menjelaskan bahwa angka-angka di area makam ini serba sembilan. Tangga menuju makam berjumlah sembilan anak tangga. Ukuran relief terkecil disebut 9 sentimeter, sementara elemen-elemen lain juga dirancang agar jika dijumlahkan tetap bermuara pada angka sembilan.

Baca Juga: Bangkrutnya Pabrik Rokok Reco Pentung Tulungagung, Dari Raksasa 4.500 Buruh hingga Diterpa Mitos Nyiroro Kidul

Angka tersebut diyakini melambangkan Wali Songo, sembilan wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Meski sang pendiri beragama Islam, ia juga dikenal memegang kuat tradisi Kejawen dan adat leluhur.

Di empat sudut bangunan juga terdapat patung naga sebagai simbol penjaga. Kompleks ini tak hanya menjadi makam pribadi, tetapi juga ruang simbolik yang memadukan unsur Islam, budaya Jawa, dan kepercayaan tradisional.

Jejak Kejayaan Rokok Rejo Pentung

Nama Haji Kusmiran Karso Diwiryo dikenal sebagai pendiri rokok Rejo Pentung, merek yang pernah merajai pasar rokok di Jawa Timur pada masanya. Kejayaan bisnis tersebut menjadi latar belakang berdirinya bangunan Reco Sewu Tulungagung sebagai simbol pencapaian hidupnya.

Baca Juga: Mengulik Sejarah Pabrik Gula Kunir Tulungagung, Dibangun Belanda 1827 hingga Kini Jadi Surga Nongkrong Anak Muda

Area kompleks disebut mencakup lahan cukup luas hingga mendekati kawasan penginapan di sekitar pantai. Bangunan utama difungsikan sebagai makam keluarga, sementara sebagian area lain dibuka untuk umum.

Di salah satu sisi terdapat bangunan yang disebut sebagai pesanggrahan atau tempat pertemuan keluarga. Ada pula lokasi yang dikenal sebagai Pesanggrahan Madya Nirwana di area pesisir.

Ritual, Pesanggrahan, dan Mitos Pantai Selatan

Reco Sewu Tulungagung juga dikenal sebagai lokasi ritual. Menurut penjaga, sebelum masa pandemi, pengunjung yang datang untuk ritual mencapai sekitar 70 persen dari total tamu. Mereka biasanya datang pada malam-malam tertentu seperti Jumat Legi, Jumat Kliwon, atau Selasa Kliwon.

Baca Juga: Asal Usul Nama Tulungagung, Kisah Tulunging Agung dari Banjir Sungai Brantas hingga Jadi Simbol Doa dan Kebangkitan

Selain makam utama, terdapat bangunan yang dikaitkan dengan Palereman Nyai Roro Kidul. Sosok Nyai Roro Kidul memang lekat dengan mitos pesisir selatan Jawa, termasuk kawasan Pantai Popoh.

Di bawah rumpun bambu kuning di sekitar area tersebut terdapat gundukan tanah yang oleh warga setempat disebut punden. Beberapa pengunjung meyakini tanah tersebut membawa berkah. Bahkan beredar cerita bahwa tanah yang diambil akan kembali seperti semula keesokan harinya.

Meski demikian, penjaga menegaskan bahwa masyarakat setempat lebih menekankan pada “nguri-uri budaya” atau merawat tradisi leluhur, bukan memuja.

Baca Juga: Gunung Budeg Tulungagung: Gunung Api Purba di Tengah Kota, Kisah Joko Budek hingga Perjuangan 20 Tahun Menjaga Alam

Sumber Air dan Simbol Kehidupan

Di bagian belakang kompleks terdapat sumber air yang dialirkan ke kolam kecil bertuliskan pesan tentang kehidupan. Air tersebut dipercaya sebagian orang memiliki khasiat, bahkan disebut bisa membuat awet muda.

Namun, penjaga lokasi memilih bersikap netral. Ia menyebut tugasnya hanya merawat area, sementara urusan kepercayaan diserahkan kepada masing-masing pengunjung.

Baca Juga: Makam Tumenggung Surontani Tulungagung: Jejak Tokoh Sakti Pembabat Hutan Wajak Kidul dan Misteri Macan Putih Gaib

Secara keseluruhan, Reco Sewu Tulungagung bukan sekadar makam pendiri rokok. Kompleks ini menjadi perpaduan antara simbol kejayaan ekonomi, spiritualitas Jawa, dan warisan budaya lokal yang masih hidup hingga kini.

Di tengah gemuruh ombak Pantai Popoh, bangunan penuh arca ini berdiri sebagai monumen pribadi sekaligus ruang refleksi tentang hubungan manusia, tradisi, dan keyakinan.

Editor : Dyah Wulandari
#ritual kejawen #pantai popoh #rokok #Reco Sewu