TULUNGAGUNG – Reco Sewu Tulungagung menjadi salah satu lokasi yang menyita perhatian publik karena kemegahan sekaligus nuansa mistisnya. Terletak di kawasan Pantai Popoh, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, kompleks ini merupakan makam Haji Kusmiran Karso Diwiryo, pendiri perusahaan rokok Rejo Pentung yang pernah berjaya di Jawa Timur.
Kompleks Reco Sewu Tulungagung berdiri megah tak jauh dari pesisir selatan. Dari gerbang masuk, pengunjung langsung disambut deretan arca yang berjajar di kanan dan kiri pagar. Menurut keterangan penjaga setempat, jumlah arca di kawasan ini mencapai sekitar 2.999 buah—angka yang seluruhnya berkaitan dengan filosofi angka sembilan.
Bangunan ini mulai dibangun pada 1990 dan diresmikan sekitar 1995. Tak lama setelah itu, sang pendiri wafat pada 21 Februari 1997 dan dimakamkan di dalam kompleks tersebut bersama istrinya yang meninggal pada 15 Juni 2013.
Dikelilingi Ribuan Arca dan Filosofi Angka Sembilan
Salah satu ciri khas Reco Sewu Tulungagung adalah ribuan arca yang memenuhi hampir seluruh sudut bangunan. Arca-arca tersebut sebagian besar merupakan arca Dwarapala berukuran besar yang ditempatkan di gerbang dan pagar utama.
Penjaga kompleks menjelaskan bahwa angka-angka di area makam ini serba sembilan. Tangga menuju makam berjumlah sembilan anak tangga. Ukuran relief terkecil disebut 9 sentimeter, sementara elemen-elemen lain juga dirancang agar jika dijumlahkan tetap bermuara pada angka sembilan.
Angka tersebut diyakini melambangkan Wali Songo, sembilan wali penyebar agama Islam di Tanah Jawa. Meski sang pendiri beragama Islam, ia juga dikenal memegang kuat tradisi Kejawen dan adat leluhur.
Di empat sudut bangunan juga terdapat patung naga sebagai simbol penjaga. Kompleks ini tak hanya menjadi makam pribadi, tetapi juga ruang simbolik yang memadukan unsur Islam, budaya Jawa, dan kepercayaan tradisional.
Jejak Kejayaan Rokok Rejo Pentung
Nama Haji Kusmiran Karso Diwiryo dikenal sebagai pendiri rokok Rejo Pentung, merek yang pernah merajai pasar rokok di Jawa Timur pada masanya. Kejayaan bisnis tersebut menjadi latar belakang berdirinya bangunan Reco Sewu Tulungagung sebagai simbol pencapaian hidupnya.
Area kompleks disebut mencakup lahan cukup luas hingga mendekati kawasan penginapan di sekitar pantai. Bangunan utama difungsikan sebagai makam keluarga, sementara sebagian area lain dibuka untuk umum.
Di salah satu sisi terdapat bangunan yang disebut sebagai pesanggrahan atau tempat pertemuan keluarga. Ada pula lokasi yang dikenal sebagai Pesanggrahan Madya Nirwana di area pesisir.
Ritual, Pesanggrahan, dan Mitos Pantai Selatan
Reco Sewu Tulungagung juga dikenal sebagai lokasi ritual. Menurut penjaga, sebelum masa pandemi, pengunjung yang datang untuk ritual mencapai sekitar 70 persen dari total tamu. Mereka biasanya datang pada malam-malam tertentu seperti Jumat Legi, Jumat Kliwon, atau Selasa Kliwon.
Selain makam utama, terdapat bangunan yang dikaitkan dengan Palereman Nyai Roro Kidul. Sosok Nyai Roro Kidul memang lekat dengan mitos pesisir selatan Jawa, termasuk kawasan Pantai Popoh.
Di bawah rumpun bambu kuning di sekitar area tersebut terdapat gundukan tanah yang oleh warga setempat disebut punden. Beberapa pengunjung meyakini tanah tersebut membawa berkah. Bahkan beredar cerita bahwa tanah yang diambil akan kembali seperti semula keesokan harinya.
Meski demikian, penjaga menegaskan bahwa masyarakat setempat lebih menekankan pada “nguri-uri budaya” atau merawat tradisi leluhur, bukan memuja.
Sumber Air dan Simbol Kehidupan
Di bagian belakang kompleks terdapat sumber air yang dialirkan ke kolam kecil bertuliskan pesan tentang kehidupan. Air tersebut dipercaya sebagian orang memiliki khasiat, bahkan disebut bisa membuat awet muda.
Namun, penjaga lokasi memilih bersikap netral. Ia menyebut tugasnya hanya merawat area, sementara urusan kepercayaan diserahkan kepada masing-masing pengunjung.
Secara keseluruhan, Reco Sewu Tulungagung bukan sekadar makam pendiri rokok. Kompleks ini menjadi perpaduan antara simbol kejayaan ekonomi, spiritualitas Jawa, dan warisan budaya lokal yang masih hidup hingga kini.
Di tengah gemuruh ombak Pantai Popoh, bangunan penuh arca ini berdiri sebagai monumen pribadi sekaligus ruang refleksi tentang hubungan manusia, tradisi, dan keyakinan.
Editor : Dyah Wulandari