JAKARTA - Asal usul nama Tulungagung menyimpan kisah panjang tentang perjuangan manusia menaklukkan alam. Jauh sebelum dikenal sebagai daerah penghasil marmer dan lumbung pertanian di Jawa Timur, wilayah ini adalah hamparan rawa luas bernama Bonorowo yang kerap dilanda banjir akibat luapan Sungai Brantas.
Dalam catatan sejarah lokal, asal usul nama Tulungagung tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis ekstrem tersebut. Wilayah yang berada di lembah selatan Gunung Wilis ini dulunya merupakan dataran rendah cekung yang menjadi muara alami aliran sungai. Air yang melimpah justru berubah menjadi bencana tahunan.
Nama awal daerah ini adalah Ngowo, berasal dari kata “rowo” atau rawa. Sebutan itu mencerminkan identitas wilayah yang selalu digenangi air. Masyarakat hidup di rumah panggung, sawah kerap gagal panen, dan penyakit mudah menyebar akibat sanitasi buruk.
Baca Juga: Jadwal Penerbitan SKTP dan Pembayaran TPG Februari 2026, Cek Data Anda Sebelum Batas Sinkronisasi
Bonorowo dan Derita Berabad-abad
Rawa Bonorowo menjadi simbol penderitaan masyarakat Ngowo. Saat musim hujan tiba, luapan Sungai Brantas dan anak-anak sungainya mengubah daratan menjadi lautan lumpur.
Banjir merusak sawah sebelum panen, ternak mati, dan wabah penyakit seperti malaria mudah menyebar. Jalur transportasi terputus. Hubungan antardusun terisolasi. Kehidupan ekonomi berjalan lambat dan penuh ketidakpastian.
Kondisi itu berlangsung berabad-abad. Wilayah ini meski subur karena endapan vulkanik, sulit berkembang akibat persoalan hidrologi. Nama Ngowo pun identik dengan daerah terbelakang dan penuh tantangan.
Namun di balik keterbatasan, tumbuh semangat kolektif untuk berubah. Warga bersama pemimpin lokal mulai membangun tanggul sederhana, menggali saluran air, dan melakukan kerja bakti untuk mengurangi genangan.
Pitulungan Agung: Titik Balik Sejarah
Perubahan besar terjadi ketika upaya pengelolaan air dilakukan lebih sistematis. Pada masa pengaruh Kesultanan Mataram hingga era kolonial, proyek drainase dan penguatan tanggul mulai digarap lebih serius.
Baca Juga: Ini Dia Besaran TPG 2026, Guru ASN Terima 1 Kali Gaji Pokok, TPG 2026 Dipastikan Cair Setiap Bulan
Saluran air diperbesar, tanggul diperkuat, dan genangan rawa perlahan surut. Lahan-lahan kering baru terbuka. Area pertanian meluas. Produktivitas meningkat.
Keberhasilan mengendalikan Bonorowo inilah yang kemudian dikenal sebagai pitulungan agung atau pertolongan besar. Dari sinilah muncul gagasan mengganti nama Ngowo menjadi Tulungagung.
Nama baru tersebut bukan sekadar simbol administratif. Ia adalah ekspresi rasa syukur dan optimisme. Tulung berarti pertolongan atau sumber, sedangkan agung berarti besar. Secara filosofis, Tulungagung dapat dimaknai sebagai “pertolongan besar” sekaligus “sumber air yang agung”.
Air yang dulu menjadi musuh kini berubah menjadi sahabat. Dari sumber bencana menjadi sumber kehidupan.
Hari Jadi 18 November 1205
Meski perubahan nama diperkirakan terjadi pada abad ke-17 hingga ke-18, hari jadi Kabupaten Tulungagung ditetapkan jauh lebih awal, yakni 18 November 1205.
Tanggal tersebut merujuk pada temuan Prasasti Lawadan atau dikenal juga sebagai Prasasti Boyolangu. Prasasti ini dikeluarkan oleh Raja Kertajaya dari Kerajaan Kadiri.
Isi prasasti mencatat pemberian status sima atau tanah perdikan kepada rakyat Tani Lawadan atas kesetiaan mereka menghadapi serangan musuh. Sengkala tahun dalam prasasti tersebut diterjemahkan sebagai 18 November 1205 Masehi.
Penetapan hari jadi berdasarkan prasasti ini bukan menandai lahirnya nama Tulungagung, melainkan tonggak eksistensi komunitas terorganisir di wilayah tersebut. Artinya, kawasan ini telah memiliki peran penting sejak era kerajaan kuno Jawa Timur.
Identitas Baru dan Semangat Perjuangan
Perubahan nama dari Ngowo menjadi Tulungagung menandai transformasi identitas. Dari citra daerah rawa penuh bencana menjadi wilayah yang mampu mengelola sumber daya air secara produktif.
Nama Tulungagung menyimpan doa dan harapan. Ia menjadi pengingat bahwa kemajuan lahir dari perjuangan panjang melawan alam dan keterbatasan.
Hari ini, Tulungagung dikenal sebagai daerah agraris produktif dan sentra industri marmer. Namun di balik wajah modernnya, tersimpan memori kolektif tentang rawa Bonorowo dan pitulungan agung yang mengubah sejarahnya.
Asal usul nama Tulungagung bukan sekadar cerita legenda. Ia adalah narasi tentang ketangguhan, kerja keras, dan kemampuan beradaptasi. Dari rawa yang menenggelamkan, lahir sebuah kabupaten yang berdiri tegak dengan identitas baru yang penuh makna.
Editor : Dyah Wulandari