RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Tulungagung tak hanya berbicara tentang usia panjang sebuah kabupaten di Jawa Timur, tetapi juga legenda pertolongan agung yang menjadi asal-usul namanya. Kisah ini berkembang di tengah masyarakat dan diyakini sebagai bagian dari identitas daerah yang kini dikenal sebagai salah satu lumbung sejarah di selatan Jawa Timur.
Dalam sejarah Tulungagung, legenda tersebut bermula dari seorang pangeran Kerajaan Kediri bernama Adipati Kalang. Dikisahkan, ia tersesat di hutan belantara setelah kudanya terpeleset. Dalam kondisi terjebak di tebing curam, sang adipati berteriak meminta pertolongan.
Teriakan “tolong, tolong” itu didengar warga desa sekitar. Dengan gotong royong, mereka menyelamatkannya menggunakan tali dan bambu. Peristiwa inilah yang kemudian disebut sebagai pertolongan agung, cikal bakal nama Tulungagung.
Legenda Tulung Agung dan Bendungan Penyelamat
Sebagai ungkapan syukur atas keselamatannya, Adipati Kalang membangun bendungan dan sistem irigasi di wilayah tersebut. Infrastruktur itu dibuat untuk mencegah banjir yang kerap melanda daerah sekitar.
Bendungan tersebut dinamai Tulung Agung. Kata “tulung” berarti pertolongan, sedangkan “agung” bermakna besar. Nama itu menjadi simbol besarnya bantuan rakyat kepada sang adipati, sekaligus lambang kuatnya budaya gotong royong masyarakat.
Legenda ini memperkaya narasi sejarah Tulungagung, yang tak hanya berdiri di atas fakta administratif, tetapi juga kisah heroik dan nilai kebersamaan.
Jejak Kerajaan Kediri dan Majapahit
Selain legenda rakyat, sejarah Tulungagung juga tercatat dalam sumber arkeologis. Wilayah ini sudah dikenal sejak era Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-8 Masehi.
Prasasti Lawadan yang ditemukan di Desa Boyolangu bertarikh 1205 M menyebut daerah ini sebagai bagian dari wilayah Kerajaan Kediri. Penemuan prasasti tersebut menjadi dasar penetapan hari jadi Tulungagung pada 18 November 1205.
Memasuki masa kejayaan Majapahit pada abad ke-13 hingga 15, Tulungagung berkembang sebagai pusat penghasil beras dan senjata. Keris buatan empu lokal bahkan dikenal hingga mancanegara, menunjukkan tingginya peradaban dan keterampilan masyarakat saat itu.
Bukti kejayaan Hindu-Buddha juga dapat dilihat dari peninggalan arkeologi seperti Candi Sanggrahan di Boyolangu dan Candi Gayatri di Kedungwaru. Situs-situs ini menjadi saksi bisu peran penting Tulungagung dalam peta sejarah Nusantara.
Masa Kolonial dan Perlawanan Rakyat
Memasuki abad ke-18, Belanda mulai masuk ke wilayah Tulungagung sebagai bagian dari kekuasaan kolonial di Jawa. Wilayah ini dijadikan daerah administratif di bawah sistem pemerintahan kolonial.
Pada 1901, Belanda secara resmi menetapkan Tulungagung sebagai regentschap atau kabupaten. Kebijakan tanam paksa (cultuurstelsel) diterapkan dan berdampak besar pada kehidupan petani. Banyak rakyat menderita akibat eksploitasi hasil bumi.
Namun, semangat perlawanan tak pernah padam. Salah satu tokoh yang dikenal dalam sejarah Tulungagung adalah Kiai Hasan Munadi. Ia merupakan ulama pejuang yang memimpin gerilya melawan Belanda di kawasan Gunung Wilis.
Perlawanan rakyat terus berlanjut hingga masa pendudukan Jepang dan menjelang kemerdekaan Indonesia. Banyak pemuda Tulungagung bergabung dengan laskar perjuangan seperti PETA dan Hizbullah.
Identitas Sejarah yang Terjaga
Rangkaian legenda, prasasti, peninggalan candi, hingga catatan perjuangan rakyat menunjukkan bahwa sejarah Tulungagung terbentuk dari berbagai lapisan zaman. Dari era kerajaan Hindu-Buddha, masa kejayaan agraris Majapahit, hingga periode kolonial dan perjuangan kemerdekaan.
Legenda pertolongan agung tetap menjadi cerita yang hidup di tengah masyarakat. Ia bukan sekadar dongeng, tetapi simbol nilai gotong royong dan solidaritas yang diwariskan lintas generasi.
Kini, Tulungagung dikenal sebagai daerah dengan potensi pertanian, industri marmer, serta destinasi wisata alam yang berkembang pesat. Namun di balik kemajuan itu, jejak sejarah panjangnya tetap menjadi fondasi identitas daerah.
Sejarah Tulungagung membuktikan bahwa sebuah nama dapat lahir dari peristiwa sederhana namun sarat makna. Dari teriakan minta tolong di hutan belantara, hingga menjadi simbol pertolongan besar dan kebersamaan rakyat.
Warisan sejarah dan legenda ini terus diceritakan, mengingatkan generasi masa kini bahwa Tulungagung bukan hanya wilayah administratif, tetapi tanah dengan kisah perjuangan dan nilai luhur yang patut dijaga.
Editor : Dinar Ananda Putri