Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Suku Tertua di Indonesia Terungkap, Suku Wajak Tulungagung Disebut Sudah Ada 1 Juta Tahun Lalu dan Terkait Homo Wajakensis

Cholifatun Nisak • Kamis, 19 Februari 2026 | 14:15 WIB

 

Suku tertua di Indonesia disebut berasal dari Suku Wajak Tulungagung, terkait penemuan Homo Wajakensis 40 ribu tahun lalu.
Suku tertua di Indonesia disebut berasal dari Suku Wajak Tulungagung, terkait penemuan Homo Wajakensis 40 ribu tahun lalu.

RADAR TULUNGAGUNG - Misteri Suku tertua di Indonesia kembali menjadi perbincangan hangat. Nama Suku Wajak dari Tulungagung, Jawa Timur, disebut-sebut sebagai suku tertua di Indonesia yang telah ada sejak ratusan ribu hingga satu juta tahun lalu. Klaim ini diperkuat dengan penemuan fosil manusia purba jenis Homo Wajakensis di wilayah tersebut.

Pembahasan mengenai Suku tertua di Indonesia tak bisa dilepaskan dari temuan arkeologi penting di Desa Wajak, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Di kawasan inilah fosil manusia purba ditemukan dan menjadi salah satu bukti keberadaan manusia sejak puluhan ribu tahun silam.

Keberadaan Suku tertua di Indonesia ini diyakini telah berlangsung sangat lama. Bahkan, sejumlah sumber menyebut eksistensinya sudah dimulai antara 500 ribu hingga satu juta tahun lalu. Meski angka tersebut masih menjadi perdebatan ilmiah, temuan Homo Wajakensis menguatkan bahwa wilayah Tulungagung pernah dihuni manusia purba dengan karakteristik unik.

Penemuan Homo Wajakensis di Tulungagung

Fosil Homo Wajakensis pertama kali ditemukan pada 24 Oktober 1888 oleh Van Rietschoten di lereng pegunungan kapur barat laut Campurdarat, Tulungagung. Tengkorak tersebut ditemukan saat eksplorasi pertambangan marmer.

Meski kondisi fosil dalam keadaan rusak, empat gigi geraham masih menempel pada rahang. Penemuan ini kemudian dilaporkan kepada CPH Sluiter dan diteruskan kepada peneliti ternama Belanda, Eugene Dubois, yang saat itu tengah melakukan penelitian di Sumatera.

Dubois menyebut manusia Wajak memiliki kemiripan dengan tipe Papua dibandingkan tipe Melayu. Ia kemudian melakukan ekskavasi lanjutan di lokasi tersebut pada 1890 hingga 1892 dan berhasil menemukan spesimen kedua yang dikenal sebagai Wajak 2, serta fragmen tulang mamalia lainnya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa sekitar 40.000 tahun lalu wilayah Indonesia, khususnya Tulungagung, telah dihuni Homo sapiens dengan ras yang sulit dicocokkan dengan ras modern saat ini. Karena itu, manusia Wajak dianggap sebagai ras tersendiri dalam kajian antropologi.

Kehebatan Suku Wajak dan Dugaan Migrasi

Selain dikenal sebagai Suku tertua di Indonesia, masyarakat meyakini Suku Wajak memiliki kemampuan luar biasa, terutama di bidang kemaritiman. Konon, mereka mampu mengarungi samudra luas hanya dengan sampan sederhana yang dibuat dari batang pohon besar yang dilubangi.

Namun, keberadaan Suku Wajak disebut menghilang sekitar 20.000 tahun lalu. Hilangnya suku ini masih menjadi misteri. Sejumlah teori menyebut adanya eksodus atau migrasi besar-besaran ke Jepang, tepatnya ke Pulau Ainu dan wilayah Jomon.

Migrasi itu diduga dipicu bencana besar akibat letusan gunung berapi di Nusantara, seperti Gunung Toba, Gunung Dempo, dan Gunung Krakatau, yang menyebabkan tsunami dahsyat. Meski begitu, teori tersebut belum memiliki bukti ilmiah yang benar-benar kuat.

Karena minimnya catatan sejarah tertulis, kisah tentang Suku Wajak berkembang di tengah masyarakat sebagai perpaduan antara fakta ilmiah, cerita turun-temurun, dan mitos.

Kebanggaan Masyarakat Desa Wajak

Terlepas dari berbagai perdebatan, masyarakat Desa Wajak tetap meyakini bahwa leluhur mereka adalah bagian dari Suku tertua di Indonesia. Rasa bangga itu mengakar kuat dan menjadi identitas kultural tersendiri bagi warga setempat.

Penemuan Homo Wajakensis bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga simbol penting perjalanan panjang manusia di Nusantara. Tulungagung pun menjadi salah satu wilayah strategis dalam peta penelitian arkeologi dan antropologi Indonesia.

Hingga kini, kajian tentang manusia Wajak terus dilakukan untuk mengungkap lebih jauh asal-usul, pola migrasi, hingga hubungan genetiknya dengan populasi modern. Satu hal yang pasti, jejak Suku Wajak telah menempatkan Tulungagung sebagai salah satu situs penting dalam sejarah peradaban manusia di Indonesia.

Editor : Cholifatun Nisak
#sejarah tulungagung #Suku Wajak #manusia purba #Homo Wajakensis #Suku tertua di Indonesia