Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Terkuak! Penemuan Homo Wajakensis di Tulungagung, Fosil Manusia Purba 40 Ribu Tahun Ini Disebut Cikal Bakal Ras Melayu

Cholifatun Nisak • Kamis, 19 Februari 2026 | 14:20 WIB
Penemuan Homo Wajakensis di Tulungagung ungkap fosil manusia purba 40 ribu tahun, diduga cikal bakal ras Melayu.
Penemuan Homo Wajakensis di Tulungagung ungkap fosil manusia purba 40 ribu tahun, diduga cikal bakal ras Melayu.

RADAR TULUNGAGUNG- Penemuan Homo Wajakensis di Tulungagung menjadi salah satu temuan arkeologi paling fenomenal di Indonesia. Fosil manusia purba yang ditemukan di Dusun Ngelempung, Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat ini bahkan telah mendunia sejak lebih dari seabad lalu.

Penemuan Homo Wajakensis di Tulungagung pertama kali tercatat pada 1889. Fosil tersebut ditemukan di wilayah yang pada masa kolonial Belanda masuk dalam Distrik Wajak, sehingga nama “Wajakensis” melekat hingga kini. Temuan ini disebut sebagai salah satu manusia purba yang paling mendekati evolusi manusia modern.

Tak heran, penemuan Homo Wajakensis di Tulungagung kerap menjadi rujukan penting dalam kajian paleoantropologi. Para arkeolog menyebut fosil ini sebagai bukti bahwa wilayah selatan Jawa Timur telah dihuni manusia purba sekitar 40.000 tahun lalu.

Ciri Fisik Mendekati Manusia Modern

Secara anatomis, Homo Wajakensis memiliki perpaduan ciri unik. Struktur tengkoraknya sekilas menyerupai kera, tetapi tubuhnya sudah tegak seperti manusia modern. Wajahnya datar dan lebar, dengan hidung menonjol serta pipi agak miring.

Kapasitas otaknya mencapai sekitar 1.300 cc, mendekati rata-rata manusia masa kini. Tinggi badannya diperkirakan berkisar 130 hingga 170 sentimeter. Kombinasi ini membuat Homo Wajakensis disebut sebagai salah satu bentuk evolusi manusia yang sudah cukup maju.

Menariknya, manusia Wajak diyakini telah memiliki kemampuan memasak makanan. Hal tersebut menunjukkan tingkat kecerdasan dan adaptasi yang lebih tinggi dibanding manusia purba sebelumnya. Bukti ini memperkuat dugaan bahwa sekitar 40.000 tahun lalu, wilayah Tulungagung sudah dihuni Homo sapiens dengan karakteristik khas.

Para ahli bahkan menyebut manusia Wajak sebagai ras tersendiri karena sulit dicocokkan dengan ras-ras pokok yang ada saat ini. Dari populasi inilah diperkirakan muncul subras Melayu Indonesia yang kemudian berevolusi menjadi ras Austromelanesoid.

Jejak Sejarah di Museum Wajakensis

Jejak penemuan Homo Wajakensis kini dapat disaksikan di Museum Wajakensis. Museum yang berada di Kecamatan Boyolangu ini menyimpan replika tengkorak, patung manusia Wajak, serta dokumentasi sejarah penemuan fosil tersebut.

Museum tersebut menjadi pusat edukasi sejarah lokal sekaligus destinasi wisata ilmiah. Banyak pelajar dan peneliti datang untuk mempelajari lebih dalam tentang manusia purba yang pernah mendiami kawasan ini.

Secara administratif, lokasi penemuan fosil berada di wilayah Cerme, Desa Gamping, Campurdarat. Namun karena pada masa Belanda wilayah itu masuk Distrik Wajak, nama Wajakensis tetap digunakan hingga sekarang.

Temuan Fosil Zaman Mesolitikum

Tak hanya Homo Wajakensis, penelitian arkeologi di Tulungagung juga menemukan jejak kehidupan manusia purba dari zaman Mesolitikum. Tim kajian sejarah sosial dan budaya melakukan ekspedisi di Dusun Bol, Desa Ngepoh, Kecamatan Tanggunggunung.

Dari lokasi tersebut ditemukan 157 fosil yang terdiri atas 41 fosil tulang, 24 fosil terumbu karang, dan 92 fosil gastropoda. Fosil gastropoda berupa siput, kerang, keong, dan tiram diduga merupakan sisa makanan manusia purba.

Benda-benda prasejarah itu diperkirakan berusia antara 8.000 hingga 4.000 tahun sebelum Masehi. Fosil ditemukan di sepanjang aliran mata air pada tanah bercelah, yang mengindikasikan kawasan tersebut pernah menjadi lokasi hunian manusia purba.

Penemuan ini semakin menguatkan bahwa Tulungagung bukan sekadar daerah pesisir biasa. Wilayah ini menyimpan jejak panjang sejarah manusia, mulai dari Homo Wajakensis hingga komunitas pemburu-peramu zaman Mesolitikum.

Dengan potensi arkeologi yang besar, Tulungagung layak disebut sebagai salah satu situs penting dalam sejarah evolusi manusia di Indonesia. Penemuan Homo Wajakensis di Tulungagung bukan hanya kebanggaan daerah, tetapi juga bagian dari mozaik besar perjalanan manusia Nusantara.

Editor : Cholifatun Nisak
#fosil Wajak #tulungagung #manusia purba #museum wajakensis #Homo Wajakensis