RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Tulungagung menyimpan jejak panjang peradaban yang membentang sejak era kerajaan Hindu-Buddha hingga masa kemerdekaan Indonesia. Kabupaten di selatan Jawa Timur ini bukan hanya dikenal sebagai daerah agraris dan penghasil marmer, tetapi juga memiliki akar sejarah kuat yang tercatat dalam prasasti kuno.
Sejarah Tulungagung juga tak lepas dari asal-usul namanya yang sarat makna filosofis. Nama “Tulungagung” berasal dari dua kata dalam bahasa Jawa, yakni “tulung” yang berarti pertolongan dan “agung” yang berarti besar. Makna tersebut mencerminkan harapan masyarakat akan perlindungan dan berkah besar, yang diyakini berkaitan dengan peristiwa sejarah maupun kepercayaan spiritual di masa lampau.
Dalam lintasan sejarah Tulungagung, wilayah ini telah menjadi bagian dari kekuasaan sejumlah kerajaan besar di Jawa Timur. Bukti tertua yang menguatkan eksistensinya adalah Prasasti Lawadan tahun 1205 Masehi yang ditemukan di Desa Boyolangu.
Bukti Prasasti Lawadan dan Kerajaan Kediri
Prasasti Lawadan menjadi dokumen penting dalam sejarah Tulungagung. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri dan menyebut pendirian bangunan suci di wilayah ini.
Temuan itu menunjukkan bahwa pada awal abad ke-13, kawasan Tulungagung telah menjadi bagian dari peradaban maju di bawah kekuasaan Kediri. Kerajaan Kediri sendiri dikenal sebagai salah satu kerajaan besar di Jawa Timur yang memiliki pengaruh luas dalam bidang politik, ekonomi, dan kebudayaan.
Keberadaan prasasti tersebut sekaligus menegaskan bahwa wilayah Tulungagung telah memiliki struktur sosial dan keagamaan yang mapan sejak lebih dari delapan abad lalu.
Peran Penting di Era Majapahit
Memasuki abad ke-13 hingga ke-15, Tulungagung tetap memegang peran penting pada masa kejayaan Majapahit. Sejumlah bukti arkeologis seperti candi dan arca menunjukkan kesinambungan budaya Hindu-Buddha yang kuat.
Peninggalan tersebut menjadi indikasi bahwa wilayah ini bukan sekadar daerah pinggiran, melainkan memiliki kontribusi dalam jaringan pemerintahan dan kebudayaan Majapahit. Bahkan, beberapa tokoh lokal dipercaya menjadi bagian dari struktur pemerintahan kerajaan tersebut.
Jejak sejarah ini memperkaya narasi tentang posisi strategis Tulungagung dalam percaturan politik dan budaya Nusantara pada masa klasik.
Masuknya Islam dan Pengaruh Mataram
Perubahan besar terjadi ketika Islam mulai masuk ke wilayah Tulungagung. Proses islamisasi berlangsung secara bertahap melalui peran para wali dan pedagang yang menyebarkan ajaran agama sekaligus membangun jaringan ekonomi.
Seiring melemahnya Majapahit, Tulungagung masuk dalam pengaruh Kesultanan Mataram Islam. Budaya Islam mulai berbaur dengan tradisi lokal serta warisan Hindu-Buddha.
Perpaduan tersebut melahirkan bentuk sinkretisme unik yang masih dapat ditemukan dalam tradisi masyarakat hingga kini. Ritual adat, seni budaya, hingga pola kehidupan sosial menunjukkan akulturasi yang harmonis antara berbagai pengaruh sejarah.
Masa Kolonial dan Tanam Paksa
Pada masa penjajahan Belanda, Tulungagung masuk dalam wilayah administrasi Karesidenan Kediri. Pemerintah kolonial menerapkan sistem tanam paksa yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Petani diwajibkan menanam komoditas tertentu untuk kepentingan kolonial. Eksploitasi ekonomi ini menimbulkan penderitaan dan tekanan sosial yang tidak ringan bagi rakyat.
Meski demikian, masyarakat Tulungagung tetap bertahan dan perlahan beradaptasi dengan perubahan zaman yang penuh tantangan.
Tulungagung di Era Kemerdekaan
Setelah Indonesia merdeka pada 1945, Tulungagung resmi menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur. Status administratifnya sebagai kabupaten terus berkembang seiring dengan dinamika pembangunan nasional.
Sejarah Tulungagung dari masa kerajaan, era kolonial, hingga kemerdekaan menunjukkan transformasi panjang sebuah wilayah yang terus beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya.
Kini, Tulungagung dikenal luas sebagai daerah dengan potensi pertanian, industri marmer, serta destinasi wisata alam yang berkembang. Namun di balik kemajuan tersebut, warisan sejarah tetap menjadi fondasi penting.
Nama Tulungagung yang berarti pertolongan besar bukan sekadar rangkaian kata. Ia merepresentasikan harapan, perjuangan, dan perjalanan panjang masyarakatnya dalam menghadapi berbagai fase sejarah.
Sejarah Tulungagung membuktikan bahwa sebuah daerah dapat bertahan dan tumbuh melalui berbagai zaman, mulai dari kerajaan Hindu-Buddha, pengaruh Islam dan Mataram, masa kolonial, hingga Indonesia merdeka.
Warisan prasasti, jejak candi, serta nilai budaya yang terus hidup menjadikan Tulungagung sebagai salah satu wilayah dengan kekayaan sejarah yang layak untuk terus digali dan dikenang.
Editor : Dinar Ananda Putri