Sejarah Makam Tumenggung Surontani tak bisa dilepaskan dari awal berdirinya Desa Wajak Kidul. Dalam cerita turun-temurun, Tumenggung Surontani dikenal sebagai tokoh sakti yang membuka hutan belantara hingga menjadi kawasan pemukiman dan desa yang berkembang. Peran tokoh ini disebut sebagai salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan wilayah Tulungagung.
Selain nilai sejarah, Makam Tumenggung Surontani juga dikenal memiliki aura mistis yang kuat. Masyarakat sekitar mempercayai adanya penjaga gaib berupa macan putih yang konon akan menampakkan diri kepada orang yang datang dengan niat buruk.
Cerita inilah yang membuat situs makam ini tidak hanya menjadi lokasi ziarah sejarah, tetapi juga menjadi bagian dari cerita budaya lokal.
Sejarah Tumenggung Surontani dan Awal Desa Wajak Kidul
Berdasarkan cerita masyarakat, Tumenggung Surontani merupakan tokoh penting yang berperan dalam pembukaan wilayah hutan menjadi desa. Pada masa itu, wilayah Wajak Kidul masih berupa hutan lebat dan belum dihuni penduduk secara permanen.
Kemampuan kepemimpinan dan kesaktian yang dimiliki Tumenggung Surontani dipercaya membantu membuka lahan, membangun sistem pertanian, serta menciptakan tatanan kehidupan masyarakat awal di wilayah tersebut.
Dari sinilah Wajak Kidul berkembang menjadi salah satu desa yang memiliki sejarah panjang di Tulungagung.
Hingga kini, makam Tumenggung Surontani berada di tengah permukiman warga. Kondisi kompleks makam terbilang terawat karena adanya peran juru kunci serta masyarakat sekitar yang rutin menjaga kebersihan dan kelestarian area makam.
Mitos Macan Putih Penjaga Makam
Selain sisi sejarah, cerita mistis menjadi bagian yang tak terpisahkan dari situs makam ini. Salah satu mitos yang paling dikenal adalah keberadaan macan putih gaib. Sosok ini dipercaya sebagai penjaga kawasan makam sekaligus simbol perlindungan terhadap tempat tersebut.
Masyarakat meyakini macan putih hanya akan menampakkan diri kepada orang yang datang dengan niat buruk. Sebaliknya, bagi peziarah yang datang dengan niat baik, dipercaya akan mendapatkan ketenangan dan keselamatan selama berada di area makam.
Cerita ini masih hidup di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari identitas budaya lokal. Meski belum dapat dibuktikan secara ilmiah, kisah tersebut tetap dijaga sebagai warisan cerita leluhur.
Tradisi Ziarah dan Hari Ramai Pengunjung
Situs makam ini juga menjadi tujuan ziarah masyarakat, terutama pada hari-hari tertentu dalam penanggalan Jawa. Salah satu waktu yang disebut paling ramai adalah Jumat Legi. Pada hari tersebut, banyak peziarah datang untuk berdoa maupun sekadar mengenang jasa tokoh pendiri desa.
Selain masyarakat lokal, pengunjung dari luar daerah juga mulai berdatangan. Mereka tertarik dengan nilai sejarah, cerita budaya, hingga sisi spiritual yang melekat pada makam Tumenggung Surontani.
Warisan Sejarah dan Budaya yang Perlu Dijaga
Keberadaan makam ini menjadi bukti bahwa setiap wilayah di Tulungagung memiliki sejarah dan tokoh pentingnya masing-masing. Situs seperti Makam Tumenggung Surontani menjadi pengingat perjalanan panjang terbentuknya desa-desa di wilayah tersebut.
Pelestarian situs sejarah seperti ini membutuhkan peran bersama, baik dari pemerintah daerah, juru kunci, maupun masyarakat sekitar. Selain menjaga nilai sejarah, pelestarian juga menjadi upaya mempertahankan identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
Dengan perpaduan sejarah, budaya, dan cerita mistis, Makam Tumenggung Surontani tetap menjadi salah satu situs yang memiliki daya tarik tersendiri di Tulungagung.
Editor : Fadhilah Salsa Bella