Dalam beberapa waktu terakhir, Kembang Sore Tulungagung disebut mengalami penurunan jumlah akibat berbagai faktor lingkungan dan aktivitas manusia.
Isu mengenai Kembang Sore Tulungagung mencuat dalam sebuah kegiatan masyarakat yang menghadirkan para sesepuh Tulungagung, tokoh desa, serta warga lintas daerah. Dalam forum tersebut, muncul berbagai cerita sejarah hingga kondisi terkini tanaman yang dikenal mekar pada waktu sore hari tersebut.
Kembang Sore Tulungagung sejak lama diyakini menjadi simbol kearifan lokal dan memiliki nilai historis bagi masyarakat. Namun kini, keberadaannya disebut mulai berkurang karena perubahan lingkungan dan kurangnya perlindungan.
Kembang Sore Tulungagung dan Jejak Sejarah Lokal
Para sesepuh menyebut Kembang Sore Tulungagung sudah dikenal sejak zaman dahulu. Tanaman ini sering dikaitkan dengan kehidupan masyarakat agraris Tulungagung tempo dulu. Bahkan, beberapa tokoh menyebut tanaman ini menjadi bagian cerita rakyat dan tradisi lokal.
Dalam kegiatan tersebut, disampaikan bahwa dahulu masyarakat sangat menjaga kelestarian tanaman lokal, termasuk Kembang Sore. Namun, seiring perkembangan zaman, perhatian terhadap tanaman lokal mulai menurun.
Selain faktor alam, penggunaan pestisida dan penyemprotan bahan kimia juga disebut ikut mempercepat kerusakan tanaman. Beberapa warga bahkan mengaku melihat tanaman Kembang Sore berguguran dalam jumlah besar dalam beberapa tahun terakhir.
Dukungan Tokoh Masyarakat Desa Ambulu
Tokoh masyarakat Desa Ambulu menjadi salah satu pihak yang aktif menyuarakan pentingnya menjaga Kembang Sore Tulungagung. Mereka mengajak masyarakat untuk kembali peduli terhadap tanaman khas daerah.
Dalam pernyataan yang disampaikan, tokoh masyarakat menilai perlu adanya perhatian serius dari pemerintah daerah. Mereka berharap ada program konservasi tanaman lokal agar tidak punah.
Selain itu, masyarakat Ambulu juga mengusulkan edukasi kepada generasi muda mengenai pentingnya menjaga warisan alam daerah. Hal ini dinilai penting karena banyak generasi muda yang sudah tidak mengenal Kembang Sore secara langsung.
Harapan Perhatian Pemerintah Kabupaten Tulungagung
Dalam diskusi masyarakat, muncul harapan agar pemerintah daerah memberi perhatian khusus terhadap keberadaan Kembang Sore Tulungagung. Masyarakat berharap ada kebijakan perlindungan tanaman lokal serta program penghijauan berbasis tanaman khas daerah.
Sebagian warga menilai jika tidak ada langkah konkret, maka Kembang Sore Tulungagung berpotensi hilang dalam beberapa dekade ke depan. Apalagi, perubahan penggunaan lahan dan pembangunan infrastruktur disebut semakin mengurangi habitat alami tanaman tersebut.
Masyarakat juga berharap ada penelitian lebih lanjut mengenai karakteristik dan manfaat Kembang Sore. Hal ini dinilai penting untuk memperkuat dasar pelestarian secara ilmiah.
Identitas Lokal dan Kebanggaan Daerah
Kembang Sore Tulungagung tidak hanya dianggap sebagai tanaman biasa, tetapi juga simbol identitas daerah. Beberapa warga bahkan mengaitkan tanaman ini dengan filosofi kehidupan masyarakat yang menghargai kesederhanaan dan keindahan alam.
Kegiatan masyarakat lintas daerah yang dihadiri peserta dari berbagai wilayah seperti Kalimantan, Sumatera, Lampung, Bali hingga Papua juga menunjukkan bahwa Kembang Sore Tulungagung mulai dikenal lebih luas.
Momen ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekayaan lokal Tulungagung memiliki nilai budaya tinggi yang perlu dijaga bersama.
Ke depan, masyarakat berharap ada kolaborasi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan generasi muda untuk memastikan Kembang Sore Tulungagung tetap lestari. Upaya pelestarian dinilai bukan hanya menjaga tanaman, tetapi juga menjaga identitas dan sejarah Tulungagung.
Editor : Fadhilah Salsa Bella