Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Misteri Tombak Kanjeng Kyai Upas Tulungagung Terkuak, Dari Pusaka Majapahit hingga Diyakini Tolak Bala dan Cegah Banjir

Fadhilah Salsa Bella • Kamis, 19 Februari 2026 | 14:15 WIB

Misteri Tombak Kanjeng Kyai Upas Tulungagung, pusaka tolak bala yang dipercaya melindungi daerah dan dijamas setiap bulan Suro.
Misteri Tombak Kanjeng Kyai Upas Tulungagung, pusaka tolak bala yang dipercaya melindungi daerah dan dijamas setiap bulan Suro.
RADAR TULUNGAGUNG - Tombak Kanjeng Kyai Upas menjadi salah satu pusaka paling sakral yang hingga kini masih dijaga dan dihormati masyarakat. Tradisi jamasan Tombak Kanjeng Kyai Upas yang rutin dilakukan setiap bulan Suro bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga dipercaya memiliki kekuatan spiritual bagi keselamatan daerah.

Kepercayaan terhadap Tombak Kanjeng Kyai Upas berkembang turun-temurun. Banyak masyarakat meyakini pusaka ini bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga simbol perlindungan daerah dari bencana, termasuk banjir dan mara bahaya lainnya.

Dalam berbagai cerita yang beredar, Tombak Kanjeng Kyai Upas disebut sebagai pusaka pengayoman masyarakat. Keyakinan ini diperkuat dengan tradisi ritual tahunan yang selalu menarik perhatian warga dan menjadi bagian penting identitas budaya daerah.

Baca Juga: Misteri Homo Wajakensis di Tulungagung Terungkap: Penelusuran Lokasi Penemuan Fosil Manusia Purba yang Mendunia

Asal Usul Tombak Kanjeng Kyai Upas

Sejarah Tombak Kanjeng Kyai Upas dipercaya berkaitan dengan era kerajaan besar di Nusantara. Dalam kisah lisan masyarakat, pusaka ini dikaitkan dengan perjalanan tokoh-tokoh penting masa lalu dan masa kerajaan Jawa kuno.

Beberapa cerita menyebut pusaka ini memiliki hubungan dengan masa kerajaan besar di Jawa, termasuk kisah tokoh spiritual dan bangsawan yang dipercaya menjaga wilayah dari ancaman luar. Meski tidak semua catatan sejarah tertulis menjelaskan secara detail, keberadaan pusaka ini tetap dihormati sebagai warisan leluhur.

Dalam cerita rakyat, pusaka ini juga dikaitkan dengan tokoh-tokoh spiritual yang memiliki peran penting dalam menjaga wilayah dari gangguan fisik maupun nonfisik. Cerita tersebut menjadi bagian penting yang memperkuat nilai budaya masyarakat setempat.

Tradisi Jamasan Setiap Bulan Suro

Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah ritual jamasan atau pencucian pusaka yang dilakukan setiap bulan Suro. Tradisi ini menjadi agenda budaya tahunan yang melibatkan pemerintah daerah, tokoh adat, dan masyarakat.

Ritual jamasan dipercaya bukan sekadar membersihkan pusaka secara fisik, tetapi juga membersihkan energi negatif. Dalam tradisi Jawa, bulan Suro dianggap sebagai waktu sakral untuk refleksi spiritual dan pelestarian nilai budaya.

Setiap pelaksanaan jamasan, masyarakat datang untuk menyaksikan secara langsung. Selain sebagai bentuk pelestarian budaya, kegiatan ini juga memperkuat rasa kebersamaan dan identitas daerah.

Baca Juga: Karier Melejit! Arbil Fahrizan D'Academy 7 Raih Kontrak Mewah hingga FTV, Ternyata Begini Hubungan Sebenarnya dengan Coach Melili

Diyakini Sebagai Pusaka Tolak Bala

Dalam kepercayaan masyarakat, Tombak Kanjeng Kyai Upas dikenal sebagai pusaka tolak bala. Banyak cerita yang menyebut pusaka ini mampu melindungi daerah dari bencana alam maupun gangguan gaib.

Beberapa cerita rakyat bahkan mengaitkan pusaka ini dengan peristiwa banjir besar di masa lalu. Konon, keberadaan pusaka dipercaya membantu meredam dampak bencana dan menjaga keseimbangan alam.

Meski secara ilmiah tidak dapat dibuktikan, nilai kepercayaan ini tetap hidup dalam masyarakat. Bagi sebagian warga, pusaka ini menjadi simbol harapan akan keselamatan dan kesejahteraan bersama.

Pusaka Budaya yang Dijaga Hingga Kini

Saat ini, Tombak Kanjeng Kyai Upas tidak hanya dipandang sebagai benda pusaka, tetapi juga simbol sejarah dan identitas budaya daerah. Pengelolaan pusaka melibatkan keluarga pewaris dan pemerintah daerah secara bersama-sama.

Pusaka ini tidak digunakan untuk kepentingan peperangan, melainkan sebagai simbol perlindungan dan pengayoman masyarakat. Nilai filosofis inilah yang membuat pusaka tetap dihormati hingga sekarang.

Masyarakat berharap keberadaan Tombak Kanjeng Kyai Upas tetap terjaga sebagai warisan budaya. Selain sebagai peninggalan sejarah, pusaka ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga tradisi dan nilai leluhur di tengah modernisasi.

Ke depan, pelestarian budaya seperti ritual jamasan diharapkan tetap menjadi agenda rutin. Tidak hanya untuk menjaga tradisi, tetapi juga sebagai sarana edukasi generasi muda tentang sejarah dan budaya daerah.

Baca Juga: Tangis Pecah di Bioskop! Akademia D'Academy 7 Tak Kuasa Tahan Haru Saat Nobar Film Rumah Tanpa Cahaya, Ternyata Ini Penyebabnya

Editor : Fadhilah Salsa Bella
#Pusaka Tulungagung #Sejarah Pusaka Jawa #Tombak Kanjeng Kyai Upas #Tradisi Jamasan Suro #Ritual Budaya Tulungagung