Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Misteri Makam Pendiri Reco Pentung di Pantai Popoh: Jejak Sumiran Karsodiwiryo, 2.999 Arca dan Ritual Malam Jumat Kliwon

Dyah Wulandari • Kamis, 19 Februari 2026 | 17:10 WIB

Misteri makam pendiri Reco Pentung di Pantai Popoh Tulungagung, dikelilingi 2.999 arca dan kisah ritual budaya Jawa.
Misteri makam pendiri Reco Pentung di Pantai Popoh Tulungagung, dikelilingi 2.999 arca dan kisah ritual budaya Jawa.

TULUNGAGUNG - Kompleks makam pendiri Reco Pentung di kawasan Pantai Popoh, Kecamatan Besuki, kembali menjadi sorotan. Makam pendiri Reco Pentung tersebut dikenal unik karena dikelilingi ribuan arca, simbol angka sembilan, serta kisah ritual yang hingga kini masih menarik pengunjung dari berbagai daerah.

Makam pendiri Reco Pentung itu adalah pusara Sumiran Karsodiwiryo, sosok pengusaha kretek yang pernah membawa merek Reco Pentung berjaya di Jawa Timur. Di masa keemasannya, pabrik rokok tersebut mempekerjakan ribuan buruh dan menjadi kebanggaan warga Tulungagung.

Kini, makam pendiri Reco Pentung berdiri megah di area yang dikenal dengan nama Reco Sewu. Kompleks tersebut mulai dibangun sekitar 1990 dan diresmikan beberapa tahun kemudian. Sumiran wafat pada 21 Februari 1997 dan dimakamkan berdampingan dengan istrinya di lokasi tersebut.

Baca Juga: Kabar Gembira! THR dan TPG Februari 2026 Segera Cair, Menkeu Siapkan Dana Jumbo Rp55 Triliun, Guru Wajib Cek Info GTK!

Ribuan Arca dan Filosofi Angka Sembilan

Sejak memasuki gerbang, pengunjung langsung disambut deretan arca di sisi kanan dan kiri pagar. Menurut keterangan penjaga, jumlah arca di kompleks ini mencapai sekitar 2.999 buah—angka yang jika dijumlahkan tetap menghasilkan angka sembilan.

Tangga menuju makam pun berjumlah sembilan anak tangga. Ukuran relief arca terkecil disebut sekitar 9 sentimeter. Bahkan beberapa ornamen dan simbol di area tersebut juga merujuk pada filosofi angka sembilan.

Baca Juga: Dompet Tebal di Awal Ramadan! THR Idul Fitri 2026 Naik Drastis Jadi Rp55 Triliun, Menkeu Beri Bocoran Jadwal Pencairan ASN, TNI, dan Polri

Angka sembilan dalam tradisi Jawa sering dikaitkan dengan Wali Songo, sembilan tokoh penyebar Islam di Tanah Jawa. Unsur simbolik ini memperlihatkan kuatnya sentuhan budaya Jawa dalam pembangunan kompleks makam pendiri Reco Pentung tersebut.

Di setiap sudut bangunan juga terdapat ornamen naga. Bangunan utama difungsikan sebagai makam pribadi, sementara sebagian area lain diperuntukkan bagi kegiatan keluarga dan masyarakat.

Ritual dan Pesanggrahan Nyai Roro Kidul

Di dalam kawasan yang sama terdapat bangunan yang disebut sebagai pesanggrahan atau tempat pertemuan keluarga. Tak jauh dari sana, terdapat lokasi yang diyakini sebagian masyarakat sebagai tempat ritual, termasuk area yang dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul.

Baca Juga: Pecah Rekor! Pencairan THR ASN 2026 Dipastikan Cair Awal Ramadan, Menkeu Siapkan Rp55 Triliun, Cek Jadwal Lengkapnya di Sini

Beberapa pengunjung datang pada malam-malam tertentu seperti Jumat Legi, Jumat Kliwon, atau Selasa Kliwon. Mereka melakukan doa dan ritual pribadi, sebagian dengan tujuan mencari berkah, kesehatan, hingga kelancaran usaha.

Penjaga lokasi menyebut, dahulu mayoritas pengunjung melakukan ritual di area pesanggrahan. Namun kini banyak yang langsung menuju pesisir pantai.

Meski begitu, keluarga besar Sumiran menegaskan bahwa pendiri Reco Pentung adalah seorang muslim yang tetap memegang ajaran agama. Unsur budaya Jawa di kompleks makam lebih dimaknai sebagai bentuk pelestarian tradisi, bukan praktik menyimpang.

Baca Juga: Kabar Gembira! Menteri Keuangan Percepat Pencairan THR ASN 2026 di Awal Ramadan, Anggaran Fantastis Rp55 Triliun Siap Meluncur ke Rekening

Sumber Air dan “Cuci Pak Suryan”

Salah satu titik yang menarik perhatian adalah sumber air yang dikenal dengan sebutan “cuci Pak Suryan”. Air tersebut dialirkan melalui pipa dan bisa digunakan pengunjung.

Di sekitar sumber air tertulis pesan tentang air sebagai simbol kehidupan—membersihkan dan menyegarkan tanpa membeda-bedakan. Sebagian masyarakat mempercayai air tersebut membawa keberkahan.

Baca Juga: Kabar Gembira! Pemerintah Resmi Reaktivasi PBI BPJS Kesehatan untuk 11 Juta Peserta, Pasien Penyakit Kronis Jadi Prioritas Utama Tanpa Ribet Administr

Selain itu, terdapat pula gundukan tanah yang oleh warga sekitar disebut sebagai punden. Tanah tersebut diyakini memiliki keunikan tersendiri karena teksturnya tetap padat meski sering diambil pengunjung.

Namun kembali ditegaskan, penjaga hanya bertugas merawat area dan tidak terlibat dalam aktivitas ritual yang dilakukan pengunjung.

Jejak Kejayaan Reco Pentung

Kompleks makam ini dibangun di atas tanah milik keluarga. Selain makam, kawasan tersebut juga mencakup penginapan dan area pertemuan. Bangunan megah ini menjadi simbol kejayaan Reco Pentung di masa lalu.

Baca Juga: Gawat! Data BPJS Berantakan, 120 Ribu Pasien Penyakit Kritis Nyaris Terlantar Gara-Gara Status BPJS Kesehatan PBI Dinonaktifkan

Reco Pentung sendiri pernah menjadi salah satu produsen rokok besar di Jawa Timur sebelum akhirnya berhenti beroperasi pada pertengahan 1990-an akibat persaingan industri dan kenaikan cukai.

Kini, yang tersisa adalah bangunan makam dengan ribuan arca dan cerita yang menyertainya. Bagi sebagian warga, lokasi ini bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan simbol sejarah perjuangan seorang anak buruh yang pernah membangun kerajaan kretek dari nol.

Makam pendiri Reco Pentung di Pantai Popoh menjadi pertemuan antara sejarah industri, budaya Jawa, dan berbagai tafsir masyarakat yang terus hidup hingga sekarang.

Baca Juga: Pasien Cuci Darah Tak Perlu Cemas! Pelayanan BPJS PBI RSCM Tetap Normal Meski Status Nonaktif, Nyawa Nomor Satu!

Editor : Dyah Wulandari
#pantai popoh #rokok kretek #Reco Sewu #Sumiran Karsodiwirjo