TULUNGAGUNG - Kompleks makam pendiri Reco Pentung di kawasan Pantai Popoh, Kecamatan Besuki, kembali menjadi sorotan. Makam pendiri Reco Pentung tersebut dikenal unik karena dikelilingi ribuan arca, simbol angka sembilan, serta kisah ritual yang hingga kini masih menarik pengunjung dari berbagai daerah.
Makam pendiri Reco Pentung itu adalah pusara Sumiran Karsodiwiryo, sosok pengusaha kretek yang pernah membawa merek Reco Pentung berjaya di Jawa Timur. Di masa keemasannya, pabrik rokok tersebut mempekerjakan ribuan buruh dan menjadi kebanggaan warga Tulungagung.
Kini, makam pendiri Reco Pentung berdiri megah di area yang dikenal dengan nama Reco Sewu. Kompleks tersebut mulai dibangun sekitar 1990 dan diresmikan beberapa tahun kemudian. Sumiran wafat pada 21 Februari 1997 dan dimakamkan berdampingan dengan istrinya di lokasi tersebut.
Ribuan Arca dan Filosofi Angka Sembilan
Sejak memasuki gerbang, pengunjung langsung disambut deretan arca di sisi kanan dan kiri pagar. Menurut keterangan penjaga, jumlah arca di kompleks ini mencapai sekitar 2.999 buah—angka yang jika dijumlahkan tetap menghasilkan angka sembilan.
Tangga menuju makam pun berjumlah sembilan anak tangga. Ukuran relief arca terkecil disebut sekitar 9 sentimeter. Bahkan beberapa ornamen dan simbol di area tersebut juga merujuk pada filosofi angka sembilan.
Angka sembilan dalam tradisi Jawa sering dikaitkan dengan Wali Songo, sembilan tokoh penyebar Islam di Tanah Jawa. Unsur simbolik ini memperlihatkan kuatnya sentuhan budaya Jawa dalam pembangunan kompleks makam pendiri Reco Pentung tersebut.
Di setiap sudut bangunan juga terdapat ornamen naga. Bangunan utama difungsikan sebagai makam pribadi, sementara sebagian area lain diperuntukkan bagi kegiatan keluarga dan masyarakat.
Ritual dan Pesanggrahan Nyai Roro Kidul
Di dalam kawasan yang sama terdapat bangunan yang disebut sebagai pesanggrahan atau tempat pertemuan keluarga. Tak jauh dari sana, terdapat lokasi yang diyakini sebagian masyarakat sebagai tempat ritual, termasuk area yang dikaitkan dengan Nyi Roro Kidul.
Beberapa pengunjung datang pada malam-malam tertentu seperti Jumat Legi, Jumat Kliwon, atau Selasa Kliwon. Mereka melakukan doa dan ritual pribadi, sebagian dengan tujuan mencari berkah, kesehatan, hingga kelancaran usaha.
Penjaga lokasi menyebut, dahulu mayoritas pengunjung melakukan ritual di area pesanggrahan. Namun kini banyak yang langsung menuju pesisir pantai.
Meski begitu, keluarga besar Sumiran menegaskan bahwa pendiri Reco Pentung adalah seorang muslim yang tetap memegang ajaran agama. Unsur budaya Jawa di kompleks makam lebih dimaknai sebagai bentuk pelestarian tradisi, bukan praktik menyimpang.
Sumber Air dan “Cuci Pak Suryan”
Salah satu titik yang menarik perhatian adalah sumber air yang dikenal dengan sebutan “cuci Pak Suryan”. Air tersebut dialirkan melalui pipa dan bisa digunakan pengunjung.
Di sekitar sumber air tertulis pesan tentang air sebagai simbol kehidupan—membersihkan dan menyegarkan tanpa membeda-bedakan. Sebagian masyarakat mempercayai air tersebut membawa keberkahan.
Selain itu, terdapat pula gundukan tanah yang oleh warga sekitar disebut sebagai punden. Tanah tersebut diyakini memiliki keunikan tersendiri karena teksturnya tetap padat meski sering diambil pengunjung.
Namun kembali ditegaskan, penjaga hanya bertugas merawat area dan tidak terlibat dalam aktivitas ritual yang dilakukan pengunjung.
Jejak Kejayaan Reco Pentung
Kompleks makam ini dibangun di atas tanah milik keluarga. Selain makam, kawasan tersebut juga mencakup penginapan dan area pertemuan. Bangunan megah ini menjadi simbol kejayaan Reco Pentung di masa lalu.
Reco Pentung sendiri pernah menjadi salah satu produsen rokok besar di Jawa Timur sebelum akhirnya berhenti beroperasi pada pertengahan 1990-an akibat persaingan industri dan kenaikan cukai.
Kini, yang tersisa adalah bangunan makam dengan ribuan arca dan cerita yang menyertainya. Bagi sebagian warga, lokasi ini bukan sekadar tempat pemakaman, melainkan simbol sejarah perjuangan seorang anak buruh yang pernah membangun kerajaan kretek dari nol.
Makam pendiri Reco Pentung di Pantai Popoh menjadi pertemuan antara sejarah industri, budaya Jawa, dan berbagai tafsir masyarakat yang terus hidup hingga sekarang.
Editor : Dyah Wulandari