TULUNGAGUNG - Warisan geologi Tulungagung kembali mencuri perhatian. Kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini menyimpan jejak panjang sejarah bumi dan manusia, mulai dari masa paleolitik hingga era klasik dan Islam. Tak hanya dikenal sebagai kota marmer, warisan geologi Tulungagung juga diakui memiliki nilai ilmiah nasional bahkan internasional.
Warisan geologi Tulungagung tersebar di sedikitnya lima kecamatan, mencakup situs goa, bentang alam karst, hingga ketidakselarasan batuan yang menjadi bukti dinamika pembentukan Pulau Jawa. Salah satu yang paling fenomenal adalah Kompleks Goa Wajak di Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat.
Di lokasi inilah ditemukan fosil Homo sapiens awal berusia sekitar 40.000 hingga 35.000 tahun lalu. Temuan tersebut memperkuat posisi Tulungagung sebagai salah satu titik penting penelitian manusia purba di Indonesia.
Goa Wajak dan Jejak Manusia Awal Jawa
Kompleks Goa Wajak dikenal sebagai situs geoarkeologi berperingkat internasional. Struktur geologinya tersusun atas batu gamping Formasi Campurdarat berumur Miosen awal yang telah mengalami diagenesis lanjut.
Goa ini unik karena atapnya telah runtuh dan membentuk ceruk besar. Dari lokasi tersebut ditemukan fosil tengkorak, rahang, dan gigi manusia purba yang diduga merupakan penduduk awal Pulau Jawa.
Sejumlah publikasi internasional pernah membahas temuan ini, termasuk penelitian yang menyebut manusia Wajak sebagai penghuni awal Jawa. Nilai ilmiahnya sangat tinggi karena menjadi rekaman kehidupan manusia puluhan ribu tahun silam.
Song Gentong, Rekaman Alam dan Kehidupan Purba
Selain Goa Wajak, ada pula Goa Song Gentong di Desa Besole, Kecamatan Besuki. Situs ini tersusun atas batu gamping masif yang berubah menjadi marmer akibat proses geologi jutaan tahun.
Di lokasi tersebut ditemukan berbagai fosil, mulai dari foraminifera besar, koral, ganggang hijau, hingga moluska, reptil, dan mamalia. Tak hanya itu, arkeolog juga menemukan alat batu, alat tulang, ornamen dari cangkang moluska, serta pecahan tembikar.
Temuan tersebut menunjukkan adanya aktivitas manusia sekitar 5.000 hingga 7.000 tahun lalu. Dari aspek estetika, bentang alamnya berupa menara kembar batu gamping yang menjulang, menjadikannya lanskap karst yang unik dan fotogenik.
Namun, kawasan ini menghadapi ancaman degradasi akibat aktivitas pertambangan di sekitarnya. Padahal, secara ilmiah dan edukatif, nilainya sangat strategis sebagai laboratorium alam terbuka.
Goa Tengger dan Sungai Bawah Tanah Aktif
Situs lain yang tak kalah penting adalah Goa Tengger di Desa Tenggarejo, Kecamatan Tanggunggunung. Goa ini memiliki sistem sungai bawah tanah aktif dengan ornamen stalaktit dan stalagmit yang berkembang baik.
Fosil foraminifera planktonik dan bentonik ditemukan di dalamnya, termasuk sisa vertebrata seperti tengkorak kerbau. Dari sisi geodiversity, Goa Tengger menjadi bukti pembentukan sistem karst dan kehidupan masa lampau.
Nilai estetikanya juga tinggi, menjadikannya potensial dikembangkan sebagai geowisata berbasis konservasi dan edukasi.
Ketidakselarasan Winong dan Jejak Oligosen–Miosen
Warisan geologi Tulungagung tak hanya soal goa. Di Desa Winong, Kecamatan Kalidawir, terdapat situs ketidakselarasan batuan yang menunjukkan kontak antara Formasi Arjosari (Oligosen) dan Formasi Campurdarat (Miosen awal).
Fenomena ini menjadi bukti proses pengangkatan Pulau Jawa dari lingkungan laut dalam menuju laut dangkal. Struktur lapisan batuannya yang miring hingga 55 derajat memperlihatkan dinamika tektonik jutaan tahun silam.
Situs ini dinilai memiliki nilai ilmiah tinggi karena jarang ditemukan pembanding serupa di wilayah lain.
Watu Ijo dan Alterasi Hidrotermal
Di Desa Panggunguni, Kecamatan Pucanglaban, terdapat Watu Ijo yang tersusun atas batu gamping Formasi Wonosari yang mengalami alterasi hidrotermal. Proses pemanasan alami ini mengubah karakter batuan dan menjadi rekaman penting aktivitas geologi masa lampau.
Meski berperingkat lokal, situs ini tetap berpotensi sebagai objek penelitian dan pendidikan kebumian.
Potensi Edukasi dan Pariwisata Berkelanjutan
Keseluruhan situs tersebut membentuk kawasan warisan geologi dan geoarkeologi yang unik. Nilai ilmiah, estetika, dan edukasinya menyatu dalam satu bentang alam karst selatan Jawa.
Warisan geologi Tulungagung bukan hanya aset sejarah, tetapi juga peluang pengembangan pariwisata berbasis konservasi. Jika dikelola berkelanjutan, kawasan ini dapat menjadi pusat riset, pendidikan kebumian, sekaligus destinasi geowisata unggulan.
Dengan jejak manusia purba 40 ribu tahun lalu hingga rekaman dinamika bumi jutaan tahun, Tulungagung menegaskan posisinya sebagai salah satu laboratorium geologi alam terpenting di Indonesia.
Editor : Divka Vance Yandriana