TULUNGAGUNG - Misteri Wajakensis Tulungagung kembali menjadi perbincangan hangat. Fosil Homo wajakensis yang menghebohkan dunia pada akhir abad ke-19 ternyata menyimpan kisah panjang, termasuk soal lokasi asli penemuannya yang kerap disalahpahami masyarakat.
Dalam sebuah diskusi sejarah di Tulungagung, Guru Sejarah MAN 1 Tulungagung, Triyono, memaparkan fakta menarik tentang Wajakensis Tulungagung. Ia menegaskan, banyak orang keliru mengira fosil tersebut ditemukan di Desa Wajak Kidul atau Wajak Lor seperti yang dikenal sekarang.
Padahal, menurutnya, istilah “Wajak” pada masa kolonial memiliki cakupan wilayah yang jauh lebih luas dibanding pembagian administratif saat ini.
Bukan di Wajak Lor atau Wajak Kidul
Triyono menjelaskan bahwa pada masa kolonial Belanda, wilayah yang disebut “Wajak” meliputi hampir seluruh kawasan Tulungagung selatan. Jika ditarik dengan batas modern, wilayah itu membentang dari perempatan Tamanan ke arah selatan.
“Sekarang itu masuk Kecamatan Campurdarat. Dulu istilahnya distrik Wajak,” ujarnya.
Lokasi awal penemuan fosil Homo wajakensis disebut berada di sekitar area pabrik marmer lama. Di sana terdapat penanda tugu bertahun 1859 yang kerap dijadikan patokan historis.
Temuan awal justru berasal dari laporan mandor pabrik yang secara tak sengaja menemukan fosil tengkorak saat penggalian. Laporan itu kemudian menyebar hingga ke Eropa melalui publikasi ilmiah.
Peran Eugène Dubois
Penemuan Wajakensis Tulungagung tak lepas dari nama Eugène Dubois. Ia awalnya seorang dokter Belanda yang tertarik pada laporan fosil tersebut.
Dubois kemudian bergabung sebagai dokter tentara Hindia Belanda dan meminta ditempatkan di wilayah yang berkaitan dengan temuan tersebut. Pada 1889, ia melakukan penelitian lanjutan dan menemukan fosil yang kemudian dikenal sebagai Wajak 1 dan Wajak 2.
Penemuan ini menggemparkan dunia ilmiah internasional karena fosil tersebut dikategorikan sebagai Homo sapiens awal—berbeda dari jenis manusia purba sebelumnya seperti Pithecanthropus.
Nama “wajakensis” sendiri diambil dari distrik Wajak, sesuai lokasi administratif saat itu.
Homo Wajakensis Lebih Modern
Triyono menjelaskan perbedaan mendasar antara Homo wajakensis dan manusia purba sebelumnya. Jika Pithecanthropus memiliki volume otak lebih kecil dan ciri fisik lebih primitif, Homo wajakensis sudah menunjukkan karakter lebih modern.
Volume otaknya lebih besar, posturnya tegak, dan tingkat kecerdasannya dinilai lebih berkembang. Bahkan, manusia Wajak diduga sudah mulai mengenal pola hidup menetap dan bercocok tanam, tidak sepenuhnya nomaden.
Karena itu, Wajakensis Tulungagung kerap disebut sebagai salah satu representasi Homo sapiens awal di Pulau Jawa, dengan usia sekitar 40.000 hingga 35.000 tahun lalu.
Ekspedisi Penelusuran Ulang
Menariknya, pada 2011, tim kajian sejarah lokal bersama akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Airlangga (Unair) melakukan penelusuran ulang lokasi penemuan fosil tersebut.
Berbekal laporan dan buku lama, termasuk catatan penelitian terdahulu, mereka mencocokkan deskripsi lokasi dengan kondisi geografis saat ini.
Hasilnya, tim berhasil mengidentifikasi kawasan yang diyakini sebagai lokasi penemuan Homo wajakensis. Meski demikian, titik koordinat persisnya belum bisa dipastikan secara detail.
“Kita bisa menemukan lokasinya, tapi tidak bisa menentukan titik persisnya di sudut mana,” jelas Triyono.
Pentingnya Pelurusan Sejarah
Triyono menekankan pentingnya pelurusan informasi sejarah agar masyarakat tidak salah kaprah. Kesalahan memahami istilah administratif masa lalu bisa menimbulkan interpretasi keliru tentang situs penting seperti Wajakensis Tulungagung.
Ia juga menyoroti bahwa penemuan Homo wajakensis menjadi salah satu tonggak penting dalam kajian paleoantropologi Indonesia. Temuan tersebut menempatkan Tulungagung dalam peta penelitian manusia purba dunia.
Dengan rekam jejak ilmiah yang kuat dan dukungan penelitian lintas kampus, Wajakensis Tulungagung bukan sekadar cerita lokal. Ia adalah bagian dari sejarah evolusi manusia yang memiliki dampak global.
Kini, tantangannya adalah bagaimana menjaga situs bersejarah tersebut sekaligus meningkatkan literasi sejarah masyarakat. Sebab, di balik nama Wajakensis, tersimpan identitas dan kebanggaan Tulungagung yang mendunia.
Editor : Divka Vance Yandriana