TULUNGAGUNG - Museum Wajakensis Tulungagung menjadi salah satu destinasi edukatif yang wajib dikunjungi saat berada di kota marmer. Tak sekadar tempat wisata, Museum Wajakensis Tulungagung menyimpan jejak penting sejarah manusia purba Homo wajakensis sekaligus ratusan koleksi benda cagar budaya.
Museum Wajakensis Tulungagung dikenal sebagai ikon sejarah daerah karena menghadirkan replika manusia purba yang pernah menggemparkan dunia ilmiah pada akhir abad ke-19. Nama museum ini diambil dari penemuan fosil Wajak 1 dan Wajak 2 yang ditemukan di wilayah Tulungagung selatan.
Bagi wisatawan yang ingin berlibur sambil belajar, Museum Wajakensis Tulungagung menawarkan pengalaman berbeda. Pengunjung dapat melihat langsung replika Homo wajakensis, artefak arkeologi, hingga koleksi etnografi yang menggambarkan kehidupan masyarakat masa lalu.
Dibangun Sejak 1996
Museum Wajakensis didirikan pada akhir 1996 sebagai museum umum daerah. Kepemilikannya berada di bawah Pemerintah Kabupaten Tulungagung, sementara pengelolaannya diserahkan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat.
Pembangunan museum ini tidak lepas dari banyaknya temuan benda cagar budaya di Tulungagung, termasuk dari situs-situs candi. Bahkan, pengumpulan benda bersejarah telah dilakukan sejak masa Bupati pertama Tulungagung pada periode 1856 hingga 1886.
Awalnya, benda-benda tersebut hanya disimpan di ruang kaca sebelum akhirnya dikelola secara lebih sistematis melalui museum daerah.
Replika Homo Wajakensis
Salah satu daya tarik utama museum ini adalah replika Homo wajakensis. Fosil aslinya memang tidak disimpan di Tulungagung, tetapi replika tersebut memberikan gambaran utuh tentang bentuk manusia purba yang diperkirakan hidup sekitar 40.000 hingga 35.000 tahun lalu.
Homo wajakensis sendiri dikenal sebagai salah satu Homo sapiens awal di Pulau Jawa. Penemuannya dikaitkan dengan penelitian paleoantropolog Belanda, Eugène Dubois, yang meneliti fosil tersebut pada akhir abad ke-19.
Replika tengkorak dan gambaran postur tubuhnya menjadi sarana edukasi penting bagi pelajar dan mahasiswa yang ingin memahami evolusi manusia di Indonesia.
268 Koleksi Beragam
Tak hanya soal manusia purba, museum ini menyimpan total 268 koleksi yang terbagi dalam tiga kategori utama.
Pertama, koleksi arkeologi sebanyak 128 benda. Koleksi ini didominasi peninggalan era Hindu-Buddha seperti arca dan prasasti. Beberapa arca yang menarik perhatian antara lain patung Buddha Akshobhya serta Dwarapala—yang oleh warga setempat dikenal sebagai Reco Pentung—patung raksasa penjaga gerbang bangunan suci.
Kedua, koleksi numismatik dan heraldik, termasuk mata uang dan lambang-lambang bersejarah. Ketiga, koleksi etnografi sebanyak 140 benda yang mencerminkan kehidupan sosial budaya masyarakat masa lalu, seperti alat penangkap ikan tradisional dan mainan anak-anak tempo dulu.
Koleksi-koleksi tersebut menjadi bukti nyata perjalanan panjang peradaban di Tulungagung, mulai dari masa klasik hingga kolonial.
Fungsi Edukasi dan Literasi Sejarah
Pihak pengelola museum menegaskan bahwa keberadaan Museum Wajakensis bukan sekadar tempat penyimpanan benda kuno. Museum ini berfungsi sebagai ruang literasi sejarah bagi masyarakat, terutama generasi muda.
Pelajar dan mahasiswa didorong untuk datang dan menggali informasi langsung dari koleksi yang ada. Melalui museum, masyarakat dapat memahami bahwa benda-benda bersejarah di sekitar mereka memiliki nilai penting sebagai identitas budaya.
Museum juga menjadi pengingat bahwa peradaban masa lalu memiliki kecanggihan tersendiri, baik dalam aspek teknologi, seni, maupun sistem sosial.
Destinasi Wisata Edukatif
Sebagai destinasi wisata edukatif, Museum Wajakensis Tulungagung layak masuk daftar kunjungan. Letaknya yang strategis membuatnya mudah diakses wisatawan lokal maupun luar daerah.
Di tengah arus modernisasi, museum ini menjadi ruang refleksi bahwa sejarah dan budaya adalah warisan yang harus dijaga. Keberadaan replika Homo wajakensis hingga ratusan koleksi arkeologi mempertegas posisi Tulungagung sebagai salah satu daerah penting dalam peta sejarah Indonesia.
Mengunjungi museum bukan hanya tentang melihat benda kuno, tetapi memahami perjalanan panjang peradaban manusia. Dari Wajak hingga era Hindu-Buddha, semuanya terangkum dalam satu ruang bernama Museum Wajakensis.
Editor : Divka Vance Yandriana