Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gunung Budek Tulungagung, Gunung 585 Mdpl yang Lahir dari Sumpah Seorang Ibu

Divka Vance Yandriana • Kamis, 19 Februari 2026 | 20:55 WIB
Gunung Budeg Tulungagung, gunung api purba penuh legenda dan perjuangan pelestarian 20 tahun yang bikin kagum
Gunung Budeg Tulungagung, gunung api purba penuh legenda dan perjuangan pelestarian 20 tahun yang bikin kagum

JAKARTA - Di balik lanskapnya yang tenang, Gunung Budek di Tulungagung menyimpan legenda pilu tentang cinta, kasta, dan sumpah seorang ibu. Gunung setinggi sekitar 585 mdpl ini berada di Desa Tanggung, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung.

Secara fisik, Gunung Budek dikenal ramah bagi pendaki pemula. Jalurnya relatif landai, vegetasi cukup terbuka, dan dari puncaknya hamparan kota Tulungagung terlihat jelas. Namun yang membuatnya istimewa bukan hanya pemandangan, melainkan kisah asal-usul namanya.

Cinta Beda Kasta Joko Bodo dan Roro Kembang Sore

Legenda setempat menyebut nama Gunung Budek berkaitan dengan kisah Joko Bodo dan Roro Kembang Sore. Joko Bodo hanyalah pemuda biasa, sementara Roro Kembang Sore adalah putri bangsawan dari Kerajaan Lembu Peteng.

Perbedaan status sosial membuat cinta mereka tak direstui. Namun melihat kesungguhan Joko Bodo, sang putri memberi satu syarat berat: ia harus bertapa selama 40 hari 40 malam, beralaskan batu dan berpayung cikrek (anyaman sederhana dari daun).

Tanpa ragu, Joko Bodo menerima tantangan tersebut. Ia pergi menjalani pertapaan, tetapi satu hal terlewat—ia tak berpamitan kepada ibunya, Mbok Rondo.

Baca Juga: Museum Wajakensis Tulungagung, Ikon Sejarah Homo Wajakensis yang Simpan 268 Koleksi Cagar Budaya

Sumpah yang Mengubah Takdir

Hari demi hari berlalu. Mbok Rondo mencari anaknya ke berbagai penjuru. Hingga akhirnya ia menemukan Joko Bodo yang tengah bertapa di sebuah bukit.

Sang ibu memanggilnya berulang kali. Namun Joko Bodo memilih diam. Ia mengira suara ibunya hanyalah godaan yang dapat menggagalkan semedinya.

Karena tak mendapat jawaban, amarah dan kekecewaan sang ibu memuncak. Dari lisannya terucap kalimat yang menjadi akhir kisah: “Dasar budek seperti batu!”

Baca Juga: Tim Satu Bikin Dayoung Terharu, Korean Challenge MasterChef Indonesia Makin Sengit

Dalam bahasa Jawa, “budek” berarti tuli atau tidak bisa mendengar. Seketika itu pula Joko Bodo berubah menjadi batu. Bukit tempat ia bertapa kemudian dikenal sebagai Gunung Budek.

Jejak Cerita yang Masih Hidup

Hingga kini, masyarakat sekitar meyakini legenda tersebut sebagai asal-usul nama Gunung Budek. Cerita ini menjadi bagian dari tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun.

Bagi para pendaki, Gunung Budek mungkin hanya bukit santai dengan panorama indah. Namun bagi warga lokal, setiap langkah menuju puncaknya seolah menyusuri jejak kisah Joko Budek—seorang anak yang terjebak antara ambisi cinta dan restu orang tua.

Legenda ini juga mengandung pesan moral kuat tentang pentingnya bakti kepada orang tua serta konsekuensi dari mengabaikan panggilan seorang ibu.

Baca Juga: Pandji Pragiwaksono Dilaporkan ke Polisi Terkait Materi 'Mensrea', Wapres Gibran Rakabuming Pasang Badan: Itu Kritik dan Evaluasi Biasa!

Gunung Budek bukan sekadar titik ketinggian di peta. Ia adalah simbol cerita rakyat yang masih hidup di tengah masyarakat Tulungagung, mengingatkan bahwa nama sebuah tempat sering kali lahir dari peristiwa yang sarat makna.

Editor : Divka Vance Yandriana
#tulungagung #cerita rakyat #Gunung Budeg Tulungagung