Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gunung Cilik Tulungagung, Jejak Resi Winadi dan Tragedi Cinta Roro Kembang Sore

Divka Vance Yandriana • Kamis, 19 Februari 2026 | 21:10 WIB
Legenda Gunung Cilik Tulungagung, kisah Resi Winadi dan tragedi cinta Roro Kembang Sore.
Legenda Gunung Cilik Tulungagung, kisah Resi Winadi dan tragedi cinta Roro Kembang Sore.

TULUNGAGUNG – Setiap daerah memiliki tokoh yang dikenang karena jasa maupun kisah hidupnya. Di Kabupaten Tulungagung, salah satu legenda yang masih hidup hingga kini berpusat di Gunung Cilik, sebuah bukit kecil di Desa Bolo, Kecamatan Kauman.

Gunung Cilik dikenal sebagai lokasi pertapaan seorang pendeta wanita sakti bernama Resi Winadi. Dalam sejumlah babad lokal yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tulungagung, Resi Winadi diyakini sebagai samaran dari Roro Kembang Sore, putri Kadipaten Betak.

Putri Cantik yang Difitnah

Roro Kembang Sore disebut sebagai putri Pangeran Bedalem dari Kadipaten Betak. Kecantikannya termasyhur hingga membuat Pangeran Lembu Peteng, putra Raja Majapahit, jatuh hati.

Pertemuan keduanya berawal di Taman Sari Betak dan berkembang menjadi kisah asmara yang mendalam. Namun hubungan itu ditentang Pangeran Kalang, paman Kembang Sore, yang kemudian menuduh sang putri berbuat asusila.

Fitnah tersebut memicu konflik berdarah. Dalam pengejaran yang terjadi, Pangeran Lembu Peteng tewas dibunuh dan jasadnya dibuang ke sungai. Roro Kembang Sore yang menyaksikan kejadian itu melarikan diri dalam duka mendalam.

Baca Juga: PP Pesangon Pensiunan 2026 Segera Disahkan? Bocoran Skema Pencairan Sekaligus dan Rapel 2025 Bikin Deg-Degan

Pelarian dan Gunung Budeg

Dalam pelariannya, Roro Kembang Sore tiba di Desa Dadapan dan tinggal bersama Mbok Rondo Dadapan. Di sana, ia bertemu Joko Bodo yang terpikat pada kecantikannya.

Namun lamaran Joko Bodo ditolak. Sang putri meminta syarat berat: menjalani topo bisu di gunung terdekat. Ketika ibunya memanggil Joko Bodo dan tak mendapat jawaban, sang ibu mengumpat bahwa anaknya “diam seperti batu”. Konon, saat itu petir menyambar dan Joko Bodo berubah menjadi batu.

Sejak peristiwa itu, gunung tersebut dikenal sebagai Gunung Budeg.

Baca Juga: Pertemuan Prabowo dan Donald Trump Disorot Media Internasional, Bahas Tarif Resiprokal hingga Geopolitik Global

Resi Winadi dan Akhir Adipati Kalang

Roro Kembang Sore kemudian bertapa di Gunung Cilik dengan nama Resi Winadi. Ia dikenal sebagai empu sakti yang mampu menciptakan pusaka berdaya luar biasa.

Dalam kisah lanjutan, Resi Winadi menyusun siasat untuk menjatuhkan Adipati Kalang yang dianggap sebagai dalang fitnah dan tragedi masa lalunya. Saat identitasnya terbongkar, Adipati Kalang dilaporkan tewas dalam pertempuran oleh pasukan Majapahit yang dipimpin perwira yang kelak dikenal sebagai Gajah Mada.

Meski berhasil membalas dendam, Roro Kembang Sore memilih mengakhiri hidupnya dalam pertapaan, setia pada cinta pertamanya.

Baca Juga: Skema Baru MBG Saat Ramadan: Begini Cara Badan Gizi Nasional Atur Makan Bergizi Gratis untuk Siswa dan Pesantren

Warisan Legenda

Hingga kini, Gunung Cilik kerap dikunjungi peziarah yang percaya tempat tersebut menyimpan aura spiritual kuat. Makam dan petilasan yang dikaitkan dengan Resi Winadi menjadi bagian dari tradisi ziarah masyarakat setempat.

Kisah ini tak sekadar legenda cinta dan pengkhianatan, melainkan juga cerminan nilai budaya Jawa tentang kehormatan, kesetiaan, dan konsekuensi dari fitnah.

Di Tulungagung, nama Gunung Cilik dan Gunung Budeg bukan sekadar bentang alam. Keduanya adalah pengingat akan cerita panjang yang hidup dari generasi ke generasi.

Editor : Divka Vance Yandriana
#tulungagung #Gunung Cilik