Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Panen Perdana Melon Hidroponik Tunggangri Tulungagung Dinilai Maksimal, Kades Sri Lailatin Siap Kembangkan Greenhouse Baru

Rinto Wahyu Hidayat • Jumat, 20 Februari 2026 | 09:58 WIB
Kolaborasi nyata antara Kepala Desa Tunggangri (kiri) dan Direktur BUMDes Srikandi (kanan) saat menunjukkan kualitas melon hidroponik hasil greenhouse Dusun Ngrawan, Kalidawir, Tulungagung.
Kolaborasi nyata antara Kepala Desa Tunggangri (kiri) dan Direktur BUMDes Srikandi (kanan) saat menunjukkan kualitas melon hidroponik hasil greenhouse Dusun Ngrawan, Kalidawir, Tulungagung.

RADAR TULUNGAGUNG – Desa Tunggangri, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung, tidak lagi berbicara sebatas program ketahanan pangan.

Panen perdana melon hidroponik yang memasuki usia tanam 70 hari menjadi sinyal kuat bahwa desa ini tengah membangun model bisnis pertanian modern yang terukur dan berorientasi pasar.

Di greenhouse Dusun Ngrawan, deretan buah melon kuning dan hijau menggantung rapi.

Visualnya bersih, seragam, dan layak masuk segmen premium.

Pemerintah desa bersama BUMDes membaca momentum ini sebagai peluang branding, bukan sekadar panen.

Kepala Desa Tunggangri, Sri Lailatin, menegaskan bahwa budi daya melon hidroponik merupakan strategi jangka panjang desa.

“Penanaman perdana ini hasilnya sangat memuaskan. Buahnya manis dan tampilannya bagus. Ini awal yang baik untuk pengembangan,” ujarnya.

Model hidroponik dalam greenhouse tertutup memberi diferensiasi nyata dibanding pola tanam konvensional.

Risiko cuaca ditekan, kualitas buah lebih terkontrol, dan standar produksi bisa dijaga.

Dua varietas unggulan (Sweet Lavender) dan (Honey Blue) dipilih bukan tanpa kalkulasi: visual kuat, rasa kompetitif, dan memiliki nilai jual.

Sebagai bagian dari strategi pemasaran, BUMDes Srikandi akan membuka program Wisata Petik Melon pada 26–28 Februari mendatang, mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB, dan terbuka untuk umum.

Kegiatan ini menggabungkan strategi penjualan langsung dengan pengalaman konsumen.

Bukan hanya transaksi, melainkan juga penguatan citra produk desa.

Sementara itu, harga jual direncanakan Rp 25.000 – Rp 27.000 per kilogram pada program Wisata Petik Melon ini.

Pesanan bahkan sudah masuk sebelum pembukaan resmi.

Jejaring kepala desa, dinas pertanian, hingga relasi BUMDes menjadi pintu awal penetrasi pasar.

Harga jual ditentukan melalui koordinasi pemerintah desa dan BUMDes dengan pendekatan kalkulasi biaya produksi serta margin usaha yang sehat.

Target keuntungan minimal 50 persen bersih menunjukkan bahwa program ini dirancang sebagai entitas bisnis, bukan proyek seremonial.

Lebih jauh, pemerintah desa telah menyiapkan lahan pengembangan di sisi selatan greenhouse.

Artinya, keberhasilan panen perdana tidak berhenti sebagai euforia awal, tetapi langsung direspons dengan rencana ekspansi.

Desa Tunggangri sedang membangun positioning baru yakni desa dengan pertanian modern berbasis teknologi dan manajemen.

Jika konsisten, melon hidroponik berpotensi menjadi ikon agribisnis wilayah Kalidawir. 

“Kita ingin pertanian desa naik kelas dan memberi manfaat nyata,” tegas Sri Lailatin.

Panen perdana ini menjadi titik balik. Dari greenhouse sederhana di Dusun Kerawan, Desa Tunggangri sedang merancang narasi besar bahwa desa bisa membangun merek, menciptakan pasar, dan mengelola pertanian sebagai bisnis yang profesional.(rin)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#bumdes #Melon Hidroponik #tunggangri kalidawir #pertanian