RADAR TULUNGAGUNG – Keberadaan 8 makam wali di Tulungagung menjadi daya tarik tersendiri bagi peziarah dan wisatawan religi. Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur, dikenal memiliki banyak situs sejarah Islam yang berkaitan dengan penyebaran agama di wilayah selatan Pulau Jawa.
Informasi mengenai 8 makam wali di Tulungagung kerap dibagikan melalui berbagai dokumentasi perjalanan religi. Selain memiliki nilai spiritual, makam-makam ini juga menyimpan kisah perjuangan tokoh agama, ulama, hingga pejuang yang berperan dalam perkembangan masyarakat.
Keberadaan 8 makam wali di Tulungagung menunjukkan bahwa daerah ini sejak lama menjadi jalur penting dakwah Islam, baik sebelum maupun sesudah era Wali Songo. Berikut beberapa makam yang hingga kini sering dikunjungi peziarah.
Makam Mbah Gurowali di Kawasan Pantai Popoh
Salah satu makam yang dikenal masyarakat adalah makam Syekh Shamsuddin atau Mbah Gurowali. Makam ini berada di kawasan wisata Pantai Popoh.
Menurut cerita masyarakat setempat, Syekh Shamsuddin merupakan tokoh penyebar Islam yang hidup sebelum masa Wali Songo. Ia disebut-sebut sebagai ulama yang berperan dalam mengenalkan ajaran Islam kepada masyarakat pesisir selatan Jawa.
Lokasi makam yang berada di kawasan wisata membuat tempat ini kerap dikunjungi peziarah sekaligus wisatawan.
Makam K.H. Raden Abdul Fattah
Makam K.H. Raden Abdul Fattah berada di Desa Mangunsari. Ia dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Menara Al Fattah Mangunsari.
K.H. Raden Abdul Fattah merupakan tokoh ulama yang memiliki garis keturunan ulama besar dan berperan dalam pendidikan Islam di daerah tersebut. Ia wafat pada tahun 1954 dalam usia 82 tahun dan hingga kini makamnya masih sering diziarahi santri maupun masyarakat umum.
Makam Nyai Lidah Hitam
Tokoh lain yang cukup dikenal adalah Fatimah yang lebih populer dengan sebutan Nyai Lidah Hitam. Ia dikenal sebagai sosok perempuan yang dihormati masyarakat karena keteguhan dan keberaniannya pada masa penjajahan.
Julukan Nyai Lidah Hitam konon diberikan oleh pihak kolonial karena ucapannya yang dianggap tajam dan berpengaruh. Makamnya berada di wilayah Kedungwaru dan sering dikunjungi peziarah.
Makam Raden Mas Jayeng Kusumo
Makam Raden Mas Jayeng Kusumo berada di Desa Demuk. Ia dikenal sebagai tokoh yang berjuang melawan penjajah Belanda.
Dalam kisah yang beredar di masyarakat, setelah ditangkap pada abad ke-19, ia dibuang ke hutan belantara. Bersama para pengikutnya, ia membuka wilayah tersebut hingga menjadi cikal bakal Desa Demuk yang dikenal sekarang.
Makam Syekh Syarqowi
Makam Syekh Syarqowi berada di Desa Ngujang. Kisah yang berkembang menyebutkan bahwa seorang pengusaha pernah ditolong oleh seorang tua misterius yang kemudian diketahui sebagai Syekh Syarqowi setelah ia menemukan makamnya.
Hingga kini, makam tersebut banyak didatangi peziarah dari berbagai daerah, terutama pada hari-hari tertentu.
Makam Sunan Kuning
Tokoh berikutnya adalah Raden Mas Garandi yang dikenal sebagai Sunan Kuning. Ia disebut berasal dari wilayah Mataram dan dikenal sebagai pejuang yang gigih melawan kolonial Belanda.
Makamnya berada di wilayah Gondang dan menjadi salah satu tujuan ziarah masyarakat setempat.
Makam Pangeran Benowo
Makam Pangeran Benowo berada di wilayah Besuki. Ia merupakan putra dari Sultan Hadiwijaya, penguasa Kesultanan Pajang.
Menurut cerita sejarah, Pangeran Benowo meninggalkan kehidupan istana dan memilih berdakwah. Ia mendirikan masjid dan tempat pendidikan agama di berbagai wilayah yang disinggahinya.
Makam Syekh Basharuddin
Makam Syekh Basharuddin berada di wilayah Kauman. Makam ini dikenal tidak pernah sepi, terutama pada malam Jumat. Banyak santri dan masyarakat datang untuk berziarah.
Keberadaan makam ini menunjukkan besarnya pengaruh ulama dalam kehidupan masyarakat setempat, khususnya dalam bidang pendidikan dan dakwah.
Wisata Religi yang Terus Berkembang
Keberadaan 8 makam wali di Tulungagung menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki sejarah panjang dalam penyebaran Islam dan perjuangan masyarakat. Selain menjadi tempat ziarah, makam-makam tersebut juga menjadi bagian dari potensi wisata religi yang terus berkembang di Jawa Timur.
Banyak peziarah datang tidak hanya untuk berdoa, tetapi juga untuk mengenal sejarah tokoh-tokoh yang berperan dalam perjalanan agama dan budaya di Nusantara.
Editor : Davina Ar Raafika