Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Jejak Panjang Sejarah Tulungagung: Dari Hunian Manusia Purba, Pusat Spiritualitas Majapahit, hingga Kabupaten Maju di Jawa Timur

Davina Ar Raafika • Minggu, 22 Februari 2026 | 12:30 WIB

Sejarah Tulungagung dari masa prasejarah, kerajaan, kolonial, hingga modern. Kisah lengkap perjalanan daerah penting di Jawa Timur.
Sejarah Tulungagung dari masa prasejarah, kerajaan, kolonial, hingga modern. Kisah lengkap perjalanan daerah penting di Jawa Timur.

RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Tulungagung menyimpan perjalanan panjang yang membentang sejak masa prasejarah hingga era modern.

Wilayah yang kini dikenal sebagai salah satu kabupaten penting di Jawa Timur ini ternyata telah menjadi tempat hunian manusia sejak ribuan tahun lalu, terbukti dari berbagai temuan arkeologis di kawasan pegunungan selatan.

Jejak Prasejarah dan Awal Peradaban

Dalam kajian sejarah Tulungagung, para arkeolog menemukan berbagai artefak di gua-gua seperti Songgentong, Song Terus, dan Song Banyu Urip.

Di lokasi tersebut ditemukan alat batu, sisa tulang binatang, serta jejak kehidupan berburu dan meramu.

Temuan menhir, dolmen, dan sarkofagus di beberapa desa juga menunjukkan bahwa masyarakat prasejarah telah mengenal kepercayaan spiritual dan sistem penguburan yang kompleks.

Bukti-bukti ini memperlihatkan bahwa wilayah Tulungagung telah dihuni jauh sebelum munculnya kerajaan besar di Jawa Timur.

Lokasinya yang dekat sungai dan lahan subur menjadikannya tempat ideal untuk kehidupan manusia pada masa itu.

Masa Kerajaan Hindu-Buddha

Memasuki abad ke-8, wilayah Tulungagung mulai masuk dalam pengaruh kerajaan Hindu awal, termasuk Kerajaan Kanjuruhan.

Pengaruh ini terlihat dari sistem pertanian, irigasi, serta tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat.

Pada abad ke-10, wilayah ini menjadi bagian dari kekuasaan Kerajaan Medang di bawah pemerintahan Mpu Sindok.

Salah satu bukti penting adalah Prasasti Lawadan di Boyolangu yang menyebut penetapan wilayah sima atau tanah perdikan.

Perkembangan terus berlanjut pada masa Kerajaan Kediri, ketika Tulungagung berperan sebagai lumbung pangan dan pusat pertanian.

Sistem irigasi dan pembagian tanah yang tertata menunjukkan kemajuan ekonomi yang signifikan.

Pada abad ke-13, wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Singhasari yang memperkuat sistem administrasi serta pengawasan produksi pertanian.

Pengaruh sinkretisme Siwa-Buddha juga meninggalkan banyak peninggalan arca dan situs pemujaan.

Puncak peran Tulungagung terjadi pada masa Kerajaan Majapahit, terutama di era Hayam Wuruk dan Gajah Mada.

Wilayah ini menjadi daerah penyangga ekonomi sekaligus pusat spiritual.

Arca Gayatri di Boyolangu menjadi salah satu peninggalan penting yang menunjukkan kedudukan religius kawasan tersebut.

Islamisasi dan Perubahan Sosial

Memasuki abad ke-15 hingga ke-16, proses islamisasi berlangsung secara damai melalui perdagangan, dakwah budaya, dan jaringan ulama.

Pengaruh kerajaan Islam seperti Kesultanan Demak dan kemudian Kesultanan Pajang memperkuat identitas keislaman masyarakat.

Selanjutnya, wilayah Tulungagung berada di bawah kekuasaan Kesultanan Mataram pada masa Sultan Agung.

Sistem pemerintahan daerah mulai tertata melalui penunjukan adipati dan bupati sebagai wakil kekuasaan pusat.

Masa Kolonial dan Perubahan Nama

Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, Tulungagung berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda.

Saat itu wilayah ini dikenal sebagai Ngowo dan menjadi bagian dari sistem administrasi kolonial di bawah Karesidenan Kediri.

Belanda menerapkan sistem tanam paksa dan membangun infrastruktur seperti kanal irigasi, jalan, dan jembatan untuk mendukung produksi pertanian dan perkebunan.

Tahun 1901 menjadi tonggak penting ketika nama Ngowo resmi diubah menjadi Tulungagung, yang berarti “mata air besar”.

Perjuangan Kemerdekaan dan Awal Pembangunan

Pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan, Tulungagung menjadi basis gerilya.

Wilayah perbukitan dan hutan dimanfaatkan sebagai markas pejuang dalam melawan agresi militer Belanda.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada 1949, pemerintah mulai membangun struktur administratif, memperluas kecamatan, serta mendirikan berbagai instansi pelayanan publik.

Sekolah rakyat, pesantren, dan madrasah juga berkembang pesat sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia.

Era Modern dan Perkembangan Ekonomi

Pada masa Orde Baru di bawah pemerintahan Soeharto, Tulungagung berkembang sebagai lumbung pangan nasional.

Program intensifikasi pertanian dan pemanfaatan sistem irigasi meningkatkan produksi padi secara signifikan.

Selain sektor agraris, industri marmer di Campurdarat berkembang hingga dikenal secara nasional.

Kerajinan marmer menjadi salah satu identitas ekonomi daerah yang bertahan hingga kini.

Memasuki era modern, Tulungagung terus memperkuat identitasnya melalui pelestarian budaya seperti batik khas daerah, seni tradisional, dan festival budaya.

Sektor pariwisata, UMKM, serta digitalisasi pemasaran turut mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Kini, Tulungagung dikenal sebagai kabupaten yang mampu memadukan kemajuan ekonomi dengan pelestarian warisan sejarah dan budaya, menjadikannya salah satu daerah yang terus berkembang di Jawa Timur.

Editor : Davina Ar Raafika
#sejarah tulungagung #tulungagung jawa timur #Arca Gayatri Boyolangu #Islamisasi Jawa Timur #kerajaan majapahit