RADAR TULUNGAGUNG – BUMDes Srikandi Desa Tunggangri, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung, membuktikan keseriusannya membangun pertanian modern melalui unit usaha melon hidroponik.
Panen perdana di satu unit greenhouse berhasil mencatatkan estimasi produksi lebih dari 1 ton dalam satu siklus tanam, menjadi sinyal kuat bahwa pengelolaan berbasis teknologi dan manajemen presisi mulai menunjukkan hasil konkret.
Direktur BUMDes Srikandi, Eko Siswoyo, menyampaikan bahwa keberhasilan ini bukan sekadar angka produksi, melainkan hasil dari proses teknis yang dijalankan disiplin sejak tahap pembibitan.
Saat ini, sebanyak 689 batang melon dibudidayakan dalam sistem hidroponik tertutup.
Dengan rata-rata bobot buah mencapai 2 kilogram per tanaman produktif, capaian tonase panen perdana tetap melampaui 1 ton meski terdapat sebagian tanaman yang tidak berbuah akibat faktor teknis.
“Ini bukan hanya panen pertama, tetapi momentum pembuktian bahwa desa mampu mengelola pertanian modern secara profesional dan terukur,” ujarnya.
Dalam greenhouse tersebut dikembangkan dua varietas unggulan, yakni Sweet Lavender dan Honey Blue. Dari evaluasi musim tanam pertama, Sweet Lavender menunjukkan performa paling stabil.
Daya tahan terhadap hama lebih baik, daun lebih lebat, dan kualitas buah dinilai unggul dengan tekstur crunchy serta tampilan visual yang menarik untuk pasar premium.
Proses budi daya dimulai dari fase semai lima hari sebelum dipindah tanam ke sistem hidroponik. Masa panen ditetapkan pada 70 Hari Setelah Tanam (HST).
Dua fase teknis menjadi kunci keberhasilan produksi, yakni tujuh hari pertama pasca pindah tanam dan fase polinasi di usia 20 HST.
Pada fase awal, tanaman mendapatkan pengocoran nutrisi rutin pagi dan sore untuk memastikan adaptasi akar optimal.
Sementara pada fase polinasi, pengelola melakukan pengawasan intensif satu per satu tanaman, terutama pada sore hari saat intensitas matahari rendah. Ketelitian pada tahap ini menentukan keberhasilan pembentukan buah.
Meski musim hujan meningkatkan risiko kelembapan dan penyakit, manajemen greenhouse mampu melakukan mitigasi melalui pemangkasan selektif dan pengaturan sirkulasi udara.
Pendekatan ini menjadi bagian dari sistem pengendalian risiko yang diterapkan secara terukur.
Dari sisi ekonomi, biaya produksi diperkirakan berada pada kisaran Rp13.000–Rp 15.000 per kilogram.
Dengan harga jual Rp 25.000 per kilogram melalui program wisata petik, unit usaha ini dinilai memiliki margin yang sehat dan prospek keberlanjutan yang menjanjikan.
Skema pembagian keuntungan diterapkan secara profesional, yakni 50 persen untuk BUMDes dan 50 persen untuk pengelola lapangan, memastikan keseimbangan antara kelembagaan dan tenaga teknis.
Berdasarkan analisa usaha, titik impas diproyeksikan tercapai dalam 1,5 hingga 2 siklus produksi. Dengan kapasitas empat kali panen per tahun, potensi penguatan arus kas desa dinilai realistis dalam dua tahun operasional.
Melihat hasil musim tanam perdana, BUMDes Srikandi telah menyiapkan rencana pengembangan greenhouse baru di sisi selatan lokasi saat ini.
Fokus pengembangan sementara diarahkan pada varietas yang terbukti adaptif dan stabil, guna menjaga konsistensi kualitas produksi.
Lebih dari sekadar bisnis, melon hidroponik di Tunggangri diproyeksikan menjadi ikon pertanian modern desa.
Dengan dukungan pemerintah desa, kelompok tani muda, serta pendampingan teknis, model ini diharapkan dapat direplikasi dan menjadikan Tunggangri sebagai sentra melon hidroponik berbasis greenhouse di wilayah Kalidawir.
Sebagai bagian dari promosi dan edukasi publik, BUMDes Srikandi juga membuka program Wisata Petik Melon pada 26–28 mendatang, pukul 13.00–17.00 WIB.
Masyarakat dapat merasakan langsung pengalaman memetik melon segar dari greenhouse, sekaligus melihat bagaimana sistem pertanian modern dikelola di tingkat desa.
Panen perdana ini bukan akhir, melainkan langkah awal. Dengan fondasi teknis yang semakin matang dan komitmen pengembangan berkelanjutan, melon hidroponik BUMDes Srikandi optimistis menjadi kebanggaan sekaligus motor ekonomi baru Desa Tunggangri.(rin)
Editor : Vidya Sajar Fitri