RADAR TULUNGAGUNG - Warga Tulungagung harus memutar otak. Pasalnya, keberadaan gas elpiji tabung 3 kilogram (kg) kian sulit didapat di pasaran dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi ini memaksa masyarakat berburu hingga ke pelosok desa demi memastikan dapur tetap mengepul.
Informasi yang diterima Koran ini, kondisi ini sudah berlangsung sejak dua minggu lalu. Di tingkat pengecer, stok gas elpiji 3 kilogram langsung ludes tak bersisa begitu mobil pengirim datang.
Hal ini dipicu meningkatnya permintaan yang tidak dibarengi dengan jumlah stok yang memadai.
Salah satu pengecer elpiji di Desa Doroampel, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung, Dadang, mengungkapkan bahwa antusiasme warga saat ini sangat luar biasa.
Jika biasanya stok bisa bertahan hampir seminggu, kini hanya dalam hitungan hari sudah kosong melompong.
"Sudah dua minggu ini kondisinya sulit. Biasanya barang datang 60 tabung itu habisnya tiga sampai empat hari. Kalau sekarang, barang datang langsung habis karena saking banyaknya orang yang cari," jelasnya, kemarin (23/2).
Hal senada diungkapkan Maksum, pedagang lainnya. Dia menyebut ada pengurangan kuota yang cukup signifikan dari pihak distributor.
"Dulu kuotanya loss (bebas), sekarang dibatasi. Kadang cuma diantar 10, kadang 13 atau 15 tabung. Itu pun jadwalnya hanya seminggu dua kali, setiap Senin dan Kamis," keluhnya.
Keresahan ini tidak hanya merambah rumah tangga, tapi juga mulai mengganggu sektor UMKM. Banyak pelaku usaha kecil yang terpaksa berhenti produksi sementara karena tidak kebagian jatah gas.
Meski harga masih terpantau stabil di kisaran Rp 18 ribu hingga Rp 20 ribu di beberapa titik, tetapi bayang-bayang kenaikan harga mulai menghantui. Kelangkaan stok ini rawan dimanfaatkan oknum untuk memainkan harga di atas kewajaran.
Bahkan, sinyal kenaikan harga sudah mulai muncul di wilayah pinggiran. Sebagaimana yang disampaikan Alam.
Menurut dia, jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan akan semakin mencekik ekonomi masyarakat kecil, terutama bagi mereka yang bergantung penuh pada subsidi gas melon untuk menyambung hidup.
"Harapannya pemerintah dan Pertamina segera manangani agar pasokan gas kembali lancar, apalagi menjelang hari raya. Rasa-rasanya masalah ini ada dari distribusi yang mengakibatkan suplai tidak begitu merata,” tuturnya.
Sementara itu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Tulungagung memastikan distribusi elpiji 3 kilogram di wilayahnya berjalan normal.
Kelangkaan yang dikeluhkan warga dalam dua pekan terakhir disebut lebih dipicu lonjakan permintaan, bukan karena gangguan pasokan.
Kabid Perdagangan Disperindag Tulungagung, Siti Mahmudah, menjelaskan bahwa peningkatan kebutuhan terjadi bersamaan dengan sejumlah momentum.
Mulai tradisi Megengan menjelang Ramadan, perayaan Imlek, hingga fenomena bermunculannya pedagang takjil dadakan.
“Permintaan memang naik signifikan. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, juga untuk pedagang musiman dan persiapan sahur,” ungkapnya.
Menurutnya, dari sisi distribusi, agen dan pangkalan tidak mengalami kendala. Pengiriman elpiji 3 kg dilakukan sesuai prosedur.
Yaitu tiga kali dalam sepekan. Hal itu juga sudah sesuai dengan kuota yang ditetapkan.
“Untuk agen dan pangkalan, aman. Pendistribusian tepat waktu dan sesuai kuota,” tegasnya.
Disperindag juga telah melakukan pengawasan di lapangan guna memastikan tidak ada penyimpangan. Termasuk potensi penimbunan atau distribusi tidak tepat sasaran.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi Ramadan dan Idul Fitri, Pemkab Tulungagung melalui bagian perekonomian telah bersurat ke Pertamina untuk mengajukan penambahan kuota elpiji 3 kg.
Disperindag mengimbau masyarakat membeli sesuai kebutuhan dan tidak melakukan panic buying.
Dengan distribusi yang tetap berjalan serta upaya penambahan kuota, pemerintah optimistis ketersediaan elpiji melon akan kembali stabil dalam waktu dekat. (mg3/sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri