RADAR TULUNGAGUNG – Produksi perikanan tangkap di Kabupaten Tulungagung sepanjang 2025 mengalami penurunan cukup signifikan.
Berdasarkan data Dinas Perikanan (Diskan) Tulungagung, total produksi tahun lalu tercatat 9.788,4 ton.
Angka tersebut turun dibandingkan 2024 yang sempat mencapai 14.857 ton. Jika melihat tren lima tahun terakhir, produksi memang fluktuatif.
Pada 2021 tercatat 10.272 ton, kemudian sedikit turun pada 2022 menjadi 10.188,2 ton.
Tahun 2023 bahkan merosot tajam ke angka 6.032 ton sebelum melonjak pada 2024. Namun capaian itu kembali terkoreksi pada 2025.
Kepala Dinas Perikanan Tulungagung, Robinson Pasaoran Nadeak, menjelaskan penurunan tersebut dipicu kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah pesisir selatan Tulungagung.
Gelombang tinggi dan intensitas hujan yang meningkat membuat aktivitas melaut tidak bisa berlangsung optimal sepanjang tahun.
Sepanjang 2025, nelayan disebut hanya menikmati masa tangkapan relatif baik pada April hingga Agustus.
“Puncaknya memang di Agustus 2025. Saat itu cuaca relatif panas dan stabil. Setelah itu hujan mulai intens dan gelombang fluktuatif, bahkan bisa mencapai tiga meter,” ujarnya kemarin (24/2).
Di luar periode tersebut, kondisi laut sulit diprediksi. Angin kencang serta gelombang tinggi memaksa nelayan lebih selektif menentukan waktu melaut.
Faktor keselamatan menjadi pertimbangan utama, di samping efisiensi biaya operasional yang kian meningkat saat cuaca tidak bersahabat.
Akibatnya, frekuensi melaut berkurang dan volume tangkapan ikut terpengaruh.
Diskan mencatat, hampir seluruh titik pendaratan ikan di pesisir selatan mengalami penurunan produksi pada semester akhir 2025.
Pemkab berharap kondisi cuaca tahun ini lebih bersahabat sehingga produktivitas nelayan dapat kembali meningkat dan stabil seperti tahun-tahun sebelumnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana