TULUNGAGUNG – Menelusuri sejarah Tulungagung ibarat membuka lembaran buku peradaban Nusantara yang sangat lengkap. Dari penemuan fosil manusia purba di gua-gua pegunungan selatan hingga kemegahan era kolonial, wilayah ini menyimpan catatan perjalanan panjang yang membentuk identitas masyarakatnya hingga saat ini. Keberadaan artefak di Gua Songgentong dan penemuan sarkofagus di Campurdarat membuktikan bahwa wilayah ini telah menjadi lokasi penting aktivitas manusia sejak masa prasejarah.
Perjalanan sejarah Tulungagung semakin menarik ketika memasuki abad ke-10, di mana bukti tertulis tertua berupa Prasasti Lawadan (921 M) ditemukan. Prasasti peninggalan Mpu Sindok dari Kerajaan Medang ini menetapkan wilayah Boyolangu sebagai tanah perdikan atau sima. Hal ini menegaskan bahwa sejak seribu tahun lalu, Tulungagung telah memegang peranan signifikan, baik secara politis maupun religius dalam konstelasi kerajaan-kerajaan besar di Jawa Timur.
Memasuki era keemasan Majapahit, profil sejarah Tulungagung mencapai puncak spiritualnya melalui keberadaan Arca Gayatri di Boyolangu. Arca ini merupakan perwujudan Sri Rajapatni, sosok biksuni agung sekaligus nenek dari Raja Hayam Wuruk. Sebagai tempat perabuan tokoh sentral Majapahit, Tulungagung tidak lagi sekadar wilayah penyangga logistik, melainkan telah menjadi tanah suci yang dihormati oleh keluarga kerajaan.
Jejak Kerajaan Medang hingga Simbol Keagungan Majapahit
Transformasi wilayah ini terus berlanjut seiring berpindahnya pusat kekuasaan. Pada masa Kerajaan Kediri dan Singhasari, Tulungagung berperan sebagai lumbung pangan utama berkat kesuburan Lembah Sungai Brantas. Namun, Arca Gayatri tetap menjadi peninggalan yang paling ikonik. Sosok Gayatri yang digambarkan dalam posisi meditatif menunjukkan kedalaman spiritualitas masyarakat masa itu. Hingga kini, situs Boyolangu masih menjadi pusat perhatian para arkeolog dan komunitas spiritual yang ingin melakukan napak tilas kejayaan Majapahit di selatan Jawa.
Islamisasi dan Era Kolonial: Peralihan Nama dari Ngrowo ke Tulungagung
Memasuki abad ke-15, pengaruh Islam mulai merasuk secara damai melalui jalur dakwah budaya dan perdagangan. Melemahnya Majapahit memberi ruang bagi Kesultanan Demak, Pajang, hingga Mataram Islam untuk menanamkan pengaruhnya. Di era Mataram Islam, Tulungagung berada di bawah administrasi Kabupaten Ngrowo. Nama "Ngrowo" sendiri merujuk pada kondisi geografis wilayah yang saat itu banyak dikelilingi rawa dan aliran sungai.
Perubahan signifikan terjadi pada tahun 1901 di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Nama Ngrowo secara resmi diganti menjadi Tulungagung. Secara etimologi, Tulungagung berasal dari kata "Tulung" yang berarti mata air dan "Agung" yang berarti besar. Perubahan nama ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan simbol modernisasi dan reorganisasi wilayah yang dilakukan Belanda untuk memperkuat sektor perkebunan tebu dan kopi melalui pembangunan irigasi teknis dan jalan poros.
Basis Perjuangan Kemerdekaan dan Agresi Militer Belanda
Tulungagung juga mencatatkan tinta emas dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Medan yang berbukit di Sendang dan Besuki menjadi markas gerilya yang tangguh bagi para pejuang saat Agresi Militer Belanda II tahun 1948. Rakyat sipil bersatu padu mendukung TNI dengan menyediakan logistik dan informasi intelijen. Semangat "perang semesta" di Tulungagung menjadi salah satu kunci kegagalan Belanda untuk menguasai wilayah selatan secara penuh, hingga akhirnya kedaulatan Indonesia diakui secara internasional pada akhir 1949.
Era Orde Baru hingga Modern: Menjadi Pusat Marmer dan Batik
Di bawah pemerintahan Orde Baru, Tulungagung bertransformasi menjadi daerah penyangga ketahanan pangan nasional melalui program swasembada pangan. Namun, lonjakan ekonomi yang paling kentara berasal dari pemanfaatan kekayaan alam di pegunungan selatan, yakni industri marmer. Kawasan Campurdarat tumbuh menjadi pusat industri marmer rakyat yang kualitasnya diakui hingga mancanegara.
Kini, di era modern, Tulungagung tampil sebagai kabupaten mandiri yang mampu memadukan kemajuan ekonomi dengan pelestarian budaya. Selain industri marmer, kerajinan batik khas Tulungagung dengan motif flora dan fauna yang unik menjadi ikon baru kebanggaan daerah. Pembangunan infrastruktur yang pesat tidak lantas menggerus nilai gotong-royong. Dengan akar sejarah yang kuat dari masa prasejarah hingga era digital, Tulungagung terus melangkah maju tanpa melupakan jati dirinya sebagai daerah yang kaya akan mata air peradaban.
Editor : Natasha Eka Safrina