TULUNGAGUNG – Jauh sebelum dikenal sebagai kabupaten yang makmur dan gagah seperti sekarang, wilayah di Lembah Selatan Gunung Wilis ini menyimpan lembaran hitam yang penuh perjuangan. Berdasarkan catatan sejarah Tulungagung, daerah ini dulunya merupakan cekungan raksasa yang menjadi muara alami aliran air dari pegunungan sekitar. Akibatnya, daratan lebih banyak digenangi air daripada kering, menciptakan bentangan rawa-rawa tak bertepi yang dikenal masyarakat luas dengan sebutan Bonorowo.
Pada masa lampau, identitas wilayah ini bukanlah Tulungagung, melainkan Ngowo. Nama ini diambil dari akar kata bahasa Jawa "Rowo" yang berarti rawa atau paya. Dalam catatan sejarah Tulungagung, penggunaan nama Ngowo mencerminkan kondisi geografis yang sangat menantang, di mana masyarakat harus bertaruh nyawa melawan luapan Bengawan Brantas yang sering membawa petaka banjir bandang. Kehidupan saat itu berjalan lambat, terisolasi oleh genangan lumpur yang memutus akses antar-dusun dan menjadi sarang berbagai penyakit mematikan seperti malaria.
Tragedi Bonorowo di era Ngowo ini memaksa penduduk untuk memiliki karakter ulet dan pantang menyerah. Selama berabad-abad, mereka hidup dalam kepasrahan sekaligus harapan. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul dorongan kolektif untuk mengubah nasib. Inilah titik awal transformasi besar dalam sejarah Tulungagung, di mana ikhtiar manusia mulai berpadu dengan kebijakan penguasa untuk menaklukkan alam yang selama ini dianggap sebagai musuh utama kemajuan daerah.
Ikhtiar Menaklukkan Bonorowo
Masyarakat Ngowo tidak tinggal diam menghadapi ganasnya alam. Upaya-upaya awal dimulai dengan pembangunan tanggul-tanggul kecil secara gotong royong dan penggalian saluran drainase sederhana. Namun, proyek berskala besar baru benar-benar menemui titik terang saat pengaruh Mataram Islam menguat dan dilanjutkan oleh intervensi teknologi pengairan di masa kolonial Belanda.
Pembangunan drainase raksasa yang terencana bertujuan mengalirkan air rawa langsung menuju laut. Proyek ini membutuhkan tenaga kerja masif dan pengetahuan teknis tinggi. Perlahan tapi pasti, lautan lumpur Bonorowo mulai menyusut, membuka ribuan hektar lahan subur baru yang siap menjadi sumber penghidupan. Keberhasilan ini dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah keajaiban yang tak terlukiskan.
Lahirnya Nama Tulungagung: Dari Bencana Menjadi Berkah
Momen keberhasilan mengeringkan rawa inilah yang disebut sebagai "Pitulungan Agung" atau pertolongan besar. Nama Ngowo yang selama ini identik dengan keterbelakangan dan bencana dirasa tidak lagi relevan. Maka, dipilihlah nama Tulungagung sebagai identitas baru. Kata "Tulung" merujuk pada pitulungan (pertolongan) atau sumber air, sementara "Agung" berarti besar atau mulia.
Secara filosofis, Tulungagung adalah doa yang tersemat dalam identitas daerah. Nama ini menandai transisi air dari sumber bencana di era Ngowo menjadi sumber kehidupan melalui irigasi yang teratur. Transformasi ini mengubah citra daerah rawa yang terisolasi menjadi lumbung agraris yang menjanjikan kemakmuran bagi seluruh penduduknya.
Hari Jadi Berdasarkan Prasasti Lawadan
Meski nama Tulungagung lahir dari proses penaklukan rawa pada sekitar abad ke-17 atau 18, Pemerintah Kabupaten Tulungagung menetapkan hari jadi resmi pada tanggal 18 November 1205. Penetapan ini didasarkan pada bukti otentik Prasasti Lawadan (Prasasti Boyolangu) yang berangka tahun 1127 Saka.
Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Kertajaya dari Kerajaan Kadiri sebagai penghargaan status "Sima" atau tanah perdikan bagi rakyat Lawadan atas kesetiaan mereka. Keputusan ini diambil untuk memberikan kedalaman historis bahwa meskipun nama Tulungagung relatif baru, eksistensi komunitas masyarakat di wilayah ini telah diakui sejak zaman kerajaan kuno, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari peradaban panjang Nusantara.
Hingga saat ini, Tulungagung terus berkembang sebagai kabupaten yang mandiri. Sejarah perjuangan para leluhur dalam menaklukkan Rawa Bonorowo menjadi pengingat bagi generasi penerus akan pentingnya ketangguhan, kerja keras, dan rasa syukur atas "Pitulungan Agung" yang telah mengubah wajah daerah ini selamanya.
Editor : Natasha Eka Safrina