Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Misteri Pusaka Tombak Kiai Upas Tulungagung: Senjata Sakti Penolak Banjir dan Benteng Gaib dari Serangan Penjajah Belanda

Natasha Eka Safrina • Sabtu, 28 Februari 2026 | 19:30 WIB

Tombak Kiai Upas adalah pusaka sakti Tulungagung yang diyakini mampu menolak banjir dan mengusir penjajah. Simak legenda dan ritual sakralnya!
Tombak Kiai Upas adalah pusaka sakti Tulungagung yang diyakini mampu menolak banjir dan mengusir penjajah. Simak legenda dan ritual sakralnya!

TULUNGAGUNG – Kabupaten Tulungagung tidak hanya dikenal sebagai penghasil marmer terbesar di Indonesia, tetapi juga menyimpan legenda mistis yang mengakar kuat dalam denyut nadi masyarakatnya. Salah satu warisan leluhur yang paling dikeramatkan adalah Tombak Kiai Upas. Pusaka ini bukan sekadar senjata tajam biasa, melainkan simbol kedaulatan, kekuatan magis, dan identitas spiritual yang telah menjaga wilayah berjuluk Kota Marmer ini selama berabad-abad.

Asal-usul Tombak Kiai Upas berkaitan erat dengan sosok Ki Ageng Mangir, menantu Raja Mataram yang dikenal berani dan teguh memegang prinsip keadilan. Setelah wafatnya sang ksatria, pusaka ini jatuh ke tangan Raden Mas Tumenggung Pringgodiningrat, seorang bangsawan bijaksana asal Yogyakarta. Pada tahun 1824, saat Pringgodiningrat diangkat menjadi Bupati Ngrowo (nama lama Tulungagung), ia membawa serta pusaka ini sebagai pelindung wilayah barunya.

Kehadiran Tombak Kiai Upas di tanah Ngrowo disambut dengan penghormatan luar biasa oleh masyarakat setempat. Pusaka ini dipercaya menjadi "paku bumi" yang menyatukan dua wilayah administratif, yaitu Ngrowo dan Tulungagung, menjadi satu kabupaten yang utuh. Melalui kekuatan spiritual yang terpancar dari mata tombaknya, proses penyatuan yang awalnya penuh konflik dan tantangan politik berhasil diredam, melahirkan komunitas yang bersatu padu.

Baca Juga: THR 2026 PNS dan Pensiunan Dikabarkan Cair 11–15 Maret, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Resmi Pemerintah

Kesaktian Menolak Banjir dan Serangan Belanda

Secara geografis, Tulungagung merupakan daerah yang dikelilingi perbukitan namun memiliki dataran rendah yang rawan terendam air. Banjir menjadi ancaman abadi yang sering merusak pemukiman warga. Dalam kondisi darurat inilah, masyarakat bersandar pada kekuatan doa dan wasilah Tombak Kiai Upas. Pusaka ini diyakini memiliki kekuatan magis untuk menolak banjir besar yang mengancam wilayah tersebut, tentu dengan seizin Tuhan Yang Maha Esa.

Tak hanya menjadi penawar bencana alam, sejarah mencatat peran pusaka ini dalam masa kolonialisme. Konon, saat pasukan penjajah Belanda mencoba mengekspansi dan menekan wilayah Tulungagung, Tombak Kiai Upas memancarkan energi spiritual yang membuat nyali musuh ciut. Masyarakat percaya bahwa keberadaan tombak ini mampu memancarkan benteng gaib yang membuat penjajah seringkali gagal memasuki wilayah tertentu atau mendadak mundur tanpa alasan yang jelas.

Kepercayaan akan tuah pusaka ini memberi keberanian luar biasa bagi pejuang lokal. Mereka merasa tidak berjuang sendirian karena ada perlindungan magis dari warisan leluhur Mataram tersebut. Kekuatan ini bukan hanya soal fisik senjata, melainkan simbol perlawanan batin terhadap segala bentuk penindasan yang masuk ke tanah kelahiran mereka.

Baca Juga: Viral Tabel Angsuran KUR BRI 2026 Bisa Tanpa Jaminan hingga Rp100 Juta, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Kenaikan Pensiun

Tradisi Jamasan: Ritual Sakral Setiap Bulan Sura

Meskipun zaman telah berganti menuju era modern, penghormatan terhadap Tombak Kiai Upas tidak pernah luntur. Setiap tahun, tepat pada hari Jumat setelah tanggal 10 bulan Sura dalam kalender Jawa, ribuan masyarakat berkumpul untuk menyaksikan ritual Jamasan Pusaka. Ritual ini adalah prosesi pembersihan dan perawatan pusaka yang dilakukan dengan protokol adat yang sangat ketat dan sakral.

Ritual dimulai dengan lantunan doa dan nyanyian (kidung) khusus sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur. Tombak kemudian dibasuh dengan air suci dan wewangian, lalu dibungkus kembali dengan kain putih bersih yang melambangkan kesucian. Bagi warga Tulungagung, Jamasan bukan sekadar mencuci besi tua, melainkan momen untuk memperbarui ikatan batin dengan sejarah masa lalu dan memperkuat persaudaraan antarwarga.

Hingga kini, Tombak Kiai Upas tetap menjadi saksi bisu perjalanan panjang Tulungagung. Ia adalah cerminan nilai keberanian, kehormatan, dan ketahanan sebuah bangsa. Keberadaannya mengingatkan generasi muda bahwa di balik kemajuan teknologi, ada nilai-nilai kearifan lokal dan kekuatan spiritual yang harus tetap dijaga demi ketentraman dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Baca Juga: Viral Simulasi Cicilan KUR BRI 2026 Bunga 6 Persen, TASPEN Kediri Tegaskan Belum Ada Keputusan Kenaikan Pensiun

Editor : Natasha Eka Safrina
#Pusaka Tulungagung #Tombak Kiai Upas #tombak kiai upas tulungagung