TULUNGAGUNG – Kabupaten Tulungagung tidak hanya dikenal sebagai pusat marmer, tetapi juga menyimpan harta karun spiritual yang sangat dikeramatkan. Adalah Tombak Kyai Upas, sebuah pusaka legendaris dengan panjang bilah sekitar 35 sentimeter yang ditopang landean (kayu pegangan) sepanjang empat meter. Bukan sekadar senjata tajam, pusaka ini diyakini memiliki daya magis luar biasa yang sanggup melindungi seluruh wilayah dari marabahaya.
Sejarah mencatat bahwa Tombak Kyai Upas menjadi pahlawan tak kasat mata saat masa penjajahan. Konon, berkat kekuatan supranatural pusaka ini, tentara Belanda dibuat kocar-kacir dan tidak mampu menembus masuk ke jantung Kadipaten Tulungagung. Kekuatan magisnya yang dipercaya mampu menolak musuh ini akhirnya membuat pemerintah daerah dan masyarakat setempat memberikan penghormatan tinggi melalui upacara ritual adat yang digelar secara rutin hingga saat ini.
Keberadaan Tombak Kyai Upas sebagai piandel (pegangan) Bupati Tulungagung secara turun-temurun bukanlah tanpa alasan. Di balik bilah besi yang dihiasi lafal Allah dan Muhammad tersebut, tersimpan legenda tragis nan ajaib yang bermula dari masa akhir runtuhnya Kerajaan Majapahit. Kisah ini melibatkan sosok Ki Wonoboyo dan seekor naga bernama Baru Klinting.
Keajaiban di Pangkuan: Kelahiran Naga Baru Klinting
Legenda bermula saat Ki Wonoboyo membuka hutan di wilayah Mataram, dekat Rawa Pening. Saat mengadakan acara bersih desa, seorang juru masak perempuan meminjam pisau milik Ki Wonoboyo. Dengan pesan tegas, Ki Wonoboyo melarang pisau itu diletakkan di atas pangkuan. Namun, takdir berkata lain; sang perempuan lupa dan melanggar pantangan tersebut.
Seketika, pisau itu lenyap masuk ke dalam perut sang perempuan hingga menyebabkan kehamilan ajaib. Alih-alih melahirkan manusia, perempuan tersebut justru melahirkan seekor ular naga yang diberi nama Baru Klinting. Merasa malu, Ki Wonoboyo memutuskan untuk bersemedi di puncak Gunung Merapi hingga akhirnya Baru Klinting dewasa datang menyusul untuk mencari pengakuan sang ayah.
Tragedi Lidah Naga: Asal-Usul Bilah Pusaka
Untuk mendapatkan pengakuan sebagai anak, Ki Wonoboyo memberikan syarat yang hampir mustahil: Baru Klinting harus mampu melingkari puncak Gunung Merapi dengan tubuh raksasanya. Naga sakti itu hampir berhasil, namun ekor dan kepalanya kurang sedikit bersentuhan. Dalam keputusasaannya, Baru Klinting menjulurkan lidahnya agar lingkaran tersebut tersambung.
Melihat kecurangan itu, Ki Wonoboyo lantas memutus lidah Baru Klinting. Ajaibnya, lidah yang jatuh ke tanah itu seketika berubah menjadi bilah pusaka tombak. Baru Klinting sendiri menghilang ke Laut Selatan, meninggalkan sebatang kayu yang kemudian digunakan Ki Wonoboyo sebagai tempat (landean) tombak tersebut. Sejak saat itulah, pusaka tersebut dinamakan Tombak Kyai Upas.
Siasat Putri Pembayun dan Perpindahan ke Tulungagung
Pusaka ini kemudian diwariskan kepada Ki Ajar Mangir. Kekuatan tombak ini membuat Ki Ajar Mangir berani membangkang terhadap Kerajaan Mataram. Tak mampu menaklukkan dengan fisik, Raja Mataram mengirim putri sulungnya, Putri Pembayun, untuk menyamar menjadi penari keliling guna mencari kelemahan Ki Ajar Mangir.
Siasat itu berhasil. Ki Ajar Mangir jatuh cinta dan menikahi sang putri. Namun, cinta itu berujung maut saat Ki Ajar Mangir diajak menghadap Raja Mataram (ayah mertuanya) untuk sungkem. Tanpa membawa pusaka yang dilarang masuk keraton, kepala Ki Ajar Mangir dibenturkan oleh Sang Raja ke singgasana batu hingga tewas.
Pasca kejadian tragis itu, keberadaan pusaka tersebut justru membawa musibah di Mataram. Akhirnya, raja memutuskan untuk menyerahkan pusaka sakti tersebut kepada salah satu putranya yang menjabat sebagai Adipati di Ngrowo (sekarang Tulungagung). Hingga kini, Tombak Kyai Upas tetap berdiri kokoh sebagai simbol perlindungan bagi warga Tulungagung, menjaga ketentraman dari bencana alam maupun ancaman musuh dari luar.
Editor : Natasha Eka Safrina