TULUNGAGUNG – Bagi masyarakat Tulungagung, keberadaan pusaka Kanjeng Kyai Upas bukan sekadar benda peninggalan sejarah biasa. Tombak sakti ini diyakini sebagai "paku bumi" dan pengayom wilayah yang dulunya dikenal sebagai daerah rawa tersebut. Setiap bulan Sura, ritual jamasan atau pemandian pusaka ini selalu menjadi pusat perhatian, menyimpan deretan kisah mistis yang dipercaya mampu menolak banjir besar hingga membentengi kota dari serangan penjajah.
Berdasarkan penelusuran sejarah dan penuturan lisan para juru kunci, Kanjeng Kyai Upas memiliki asal-usul yang berkaitan erat dengan keruntuhan Majapahit. Adalah Ki Suarsena atau yang lebih dikenal sebagai Ki Wonoboyo, seorang punggawa Majapahit yang memilih "babat alas" di wilayah Mataram, Jawa Tengah. Namun, di balik sosoknya yang sakti, tersimpan legenda tragis tentang kelahiran seekor naga bernama Baru Klinting yang lidahnya kemudian bertransformasi menjadi bilah pusaka yang sangat disegani.
Keajaiban Kanjeng Kyai Upas tak hanya berhenti pada legenda kelahirannya. Dalam catatan tutur masyarakat, pusaka ini disebut sebagai senjata toyo atau penolak bala yang murni digunakan untuk perlindungan, bukan peperangan. Konon, keberadaan tombak ini menjadi alasan mengapa tentara Belanda di masa lalu seringkali mengurungkan niat untuk merangsek masuk ke wilayah Tulungagung, lantaran merasa adanya kekuatan gaib yang membentengi setiap jengkal tanah di kota ini.
Legenda Lidah Naga Baru Klinting dan Ki Wonoboyo
Kisah bermula saat Ki Wonoboyo sedang mengadakan acara bersih desa. Seorang perempuan juru masak meminjam pisau miliknya dengan pesan agar tidak diletakkan di pangkuan. Namun, pantangan itu dilanggar hingga pisau tersebut masuk ke dalam rahim dan menyebabkan kehamilan gaib. Lahirlah seekor naga bernama Baru Klinting.
Demi mendapatkan pengakuan sang ayah, Baru Klinting diminta untuk melingkari Gunung Merapi. Nyaris berhasil, lidahnya dijulurkan untuk menyambung lingkaran tubuhnya yang kurang sedikit. Saat itulah, Ki Wonoboyo memotong lidah naga tersebut yang seketika berubah menjadi pusaka sakti, sementara tubuh Baru Klinting lenyap ke Laut Selatan dan bertransformasi menjadi kayu landeyan (gagang) tombak tersebut.
Perisai Gaib dari Banjir dan Agresi Belanda
Salah satu mitos paling kuat yang menyelimuti Kanjeng Kyai Upas adalah kemampuannya menahan bencana hidrologi. Tulungagung, yang secara geografis berada di dataran rendah dan dikelilingi rawa (Ngrowo), sangat rentan terhadap banjir besar. Konon, setiap kali banjir bandang mengancam, keberadaan pusaka ini dipercaya mampu "menyumbat" luapan air dan meminimalisir kerusakan di pusat kota, termasuk area alun-alun.
Tak hanya bencana alam, kekuatan mistisnya juga dirasakan saat masa penjajahan. "Cerita dari para sesepuh, saat Belanda ingin menyerang lewat Surabaya dan hendak masuk ke Tulungagung, mereka mendadak batal. Ada rasa takut atau segan yang muncul akibat perbawa pusaka ini," ujar salah satu narasumber dalam program lorong sejarah tersebut. Hal ini memperkuat status pusaka tersebut sebagai pangayoman (pelindung) rakyat.
Ritual Jamasan Sura: Warisan Keluarga Pringgokusumo
Hingga kini, pemegang amanah pusaka ini secara turun-temurun adalah keluarga Denmas Tumenggung Pringgokusumo, Bupati pertama Tulungagung. Meskipun secara administratif kepemilikan sempat diserahkan kepada pemerintah daerah pada tahun 2016, tradisi jamasan setiap hari Jumat setelah tanggal 10 Sura tetap dijalankan dengan protokol sakral yang kental.
Ritual ini bukan sekadar membersihkan karat pada besi, melainkan simbol permohonan kepada Sang Pencipta agar masyarakat Tulungagung tetap diberikan keselamatan, kedamaian, dan rezeki yang melimpah. "Pusaka ini tidak untuk mencelakai orang lain, melainkan untuk menjaga agar rakyat tetap ayem tentrem," tegas juru kunci pusaka tersebut.
Dengan segala balutan misteri dan sejarahnya, Kanjeng Kyai Upas tetap berdiri kokoh sebagai simbol ketangguhan mental masyarakat Tulungagung dalam menghadapi tantangan zaman, mulai dari ganasnya alam hingga ancaman invasi dari luar.
Editor : Natasha Eka Safrina