TULUNGAGUNG - Sejarah Nusantara selalu menyimpan tabir mistis yang tak habis dikupas, salah satunya adalah kisah Tombak Kyai Upas. Sebagai pusaka kebanggaan Kabupaten Tulungagung, tombak ini bukan sekadar senjata tajam biasa, melainkan sebuah warisan yang menurut buku Babad Tulungagung lahir dari pengorbanan, kesaktian, hingga kutukan yang mengubah jalannya sejarah kerajaan di tanah Jawa.
Berdasarkan cerita rakyat yang turun-temurun, khususnya versi keluarga Raden Mas Pringgokusumo (Bupati Tulungagung ke-10), asal-usul pusaka ini bermula pada masa akhir kejayaan Majapahit. Salah seorang kerabat raja bernama Wonoboyo melarikan diri ke wilayah Mataram, tepatnya di sekitar Rawa Pening, Ambarawa. Di sana, ia membuka hutan dan mendirikan sebuah pedukuhan yang kemudian dikenal sebagai Dukuh Mangir. Nama Tombak Kyai Upas pun mulai terjalin dalam rentetan peristiwa ajaib yang melibatkan naga raksasa dan intrik politik kerajaan.
Kisah Tombak Kyai Upas menjadi semakin menarik ketika Ki Wonoboyo, yang kala itu sedang bertapa di puncak Gunung Merapi, dihadapkan pada kenyataan pahit. Seorang gadis di dukuhnya hamil secara misterius setelah melanggar pantangan dengan menaruh pisau pinjaman dari Ki Wonoboyo di atas pangkuannya. Namun, bukan bayi manusia yang lahir, melainkan seekor ular naga yang diberi nama Baru Klinting. Naga inilah yang kelak menjadi bagian tak terpisahkan dari terciptanya pusaka agung Tulungagung tersebut.
Tragedi Lidah Naga di Puncak Merapi
Perjalanan Baru Klinting untuk mendapatkan pengakuan sebagai anak dari Ki Wonoboyo tidaklah mudah. Sang naga harus memenuhi syarat berat, yakni melingkari Gunung Merapi dengan tubuhnya. Saat lingkaran itu hampir menyatu namun masih tersisa sedikit jarak, Baru Klinting menjulurkan lidahnya untuk menyambung antara kepala dan ujung ekornya [03:37].
Melihat hal tersebut, Ki Wonoboyo justru memotong lidah naga itu. Lidah yang terputus seketika berubah wujud menjadi mata tombak yang sangat tajam dan sakti. Sementara itu, Baru Klinting melarikan diri ke Laut Selatan dan berubah menjadi sebatang kayu, yang kemudian diambil oleh Wonoboyo untuk dijadikan gagang atau landean tombak. Inilah momen kelahiran Tombak Kyai Upas, sebuah pusaka yang memiliki kekuatan spiritual luar biasa namun menyimpan energi yang sangat kuat.
Perlawanan Ki Ajar Mangir dan Jebakan Mataram
Pusaka ini kemudian diwariskan kepada putra Wonoboyo, yaitu Ki Ajar Mangir. Berbekal kesaktian Tombak Kyai Upas, Mangir tumbuh menjadi sosok yang sangat perkasa dan memilih untuk tidak tunduk pada kekuasaan Kerajaan Mataram. Sikap membangkang ini membuat pihak Keraton Mataram cemas, namun mereka sadar bahwa Mangir tak mungkin ditaklukkan dengan kekerasan fisik selama pusaka itu berada di tangannya.
Raja Mataram akhirnya menggunakan strategi intelijen (telik sandi) yang halus. Ia mengirimkan penari Waranggono, yang sebenarnya adalah putri raja sendiri, untuk memikat hati Mangir. Strategi ini berhasil; Ki Ajar Mangir jatuh cinta dan memperistri sang putri tanpa menyadari bahwa itu adalah jebakan maut. Atas bujukan istrinya, Mangir akhirnya bersedia datang ke Keraton Mataram untuk menghaturkan sembah bakti sebagai menantu.
Kematian Tragis dan Kutukan Pagebluk
Tragedi berdarah terjadi saat Ki Ajar Mangir hendak sungkem di hadapan mertuanya. Karena aturan keraton melarang senjata dibawa masuk, Tombak Kyai Upas terpaksa ditinggal di luar. Di saat Mangir bersujud, Raja Mataram memegang kepala Mangir dan membenturkannya ke kursi batu pualam hingga tewas seketika. Kursi maut tersebut kini dikenal sebagai Watu Gatheng dan masih dapat dijumpai di Kotagede.
Kematian Mangir yang tragis ternyata membawa dampak mengerikan bagi Mataram. Konon, kerajaan tersebut terserang pagebluk atau wabah penyakit hebat yang disebabkan oleh energi dari Tombak Kyai Upas. Untuk meredam bala tersebut, pusaka ini akhirnya dipindahkan dan diberikan kepada keturunan Raja Mataram yang menjabat sebagai Bupati di Kabupaten Rowo, yang kini dikenal sebagai Tulungagung. Hingga hari ini, pusaka tersebut tetap dirawat dengan sakral sebagai simbol perlindungan sekaligus pengingat sejarah panjang Tulungagung.
Editor : Natasha Eka Safrina