RADAR TULUNGAGUNG – Legenda Roro Kembang Sore di Tulungagung kembali menjadi perbincangan warganet setelah kisahnya ramai diangkat dalam sebuah video YouTube bertema sejarah dan cerita rakyat Jawa Timur.
Cerita pilu tentang cinta, kesetiaan, dan kutukan ini dipercaya menjadi asal-usul dua bukit yang saling berhadapan, Gunung Bolo dan Gunung Budek.
Dalam Legenda Roro Kembang Sore di Tulungagung, dikisahkan pada masa akhir kejayaan Majapahit berdiri Kadipaten Bonorowo yang dipimpin Adipati Pangeran Bedalem.
Sang adipati memiliki putri jelita bernama Roro Kembang Sore, yang kecantikannya tersohor hingga ke penjuru negeri.
Julukan “Kembang Sore” melekat karena pesonanya disebut memancar paling indah saat senja.
Cinta Terlarang di Kadipaten Bonorowo
Roro Kembang Sore tumbuh di lingkungan istana yang sarat aturan.
Ia diharapkan menikah dengan bangsawan pilihan keluarga demi kepentingan politik.
Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda gagah bernama Lembu Peteng.
Beberapa versi menyebut Lembu Peteng masih memiliki garis keturunan Majapahit.
Pertemuan keduanya di taman kadipaten menumbuhkan cinta pada pandangan pertama.
Mereka menjalin hubungan secara diam-diam, jauh dari pengawasan istana.
Namun rahasia tak bertahan lama. Hubungan itu akhirnya diketahui Pangeran Bedalem dan Pangeran Kalang.
Penolakan keras pun terjadi. Lembu Peteng dianggap tak sepadan untuk mempersunting putri kadipaten.
Bahkan, ancaman pembunuhan dilayangkan. Pangeran Kalang memerintahkan seorang pendekar bernama Kiai Kasan Besari untuk menyingkirkan Lembu Peteng.
Pelarian yang Berujung Tragedi
Merasa cintanya terancam, Roro Kembang Sore dan Lembu Peteng memutuskan melarikan diri dari istana.
Mereka menembus malam menuju hutan lebat, berharap menemukan kehidupan baru.
Namun harapan itu sirna. Di sebuah hutan dekat sungai, mereka disergap pasukan Kiai Kasan Besari.
Pertarungan sengit terjadi. Lembu Peteng akhirnya tewas ditikam dari belakang, lalu jasadnya dihanyutkan ke sungai.
Roro Kembang Sore menyaksikan sendiri kekasihnya meregang nyawa.
Hancur dan kehilangan segalanya, ia memilih mengasingkan diri ke sebuah bukit sunyi yang kini dikenal sebagai Gunung Bolo.
Gunung Bolo dan Sumpah Resi Winadi
Di puncak bukit itu, Roro Kembang Sore mengganti namanya menjadi Resi Winadi.
Ia bersumpah tak akan menikah seumur hidupnya. Hari-harinya diisi dengan pertapaan dan doa.
Gunung Cilik tempat ia bertapa lambat laun dikenal sebagai Gunung Bolo.
Kata “bolo” yang berarti teman diyakini merujuk pada kesetiaannya kepada mendiang Lembu Peteng serta kedekatannya dengan masyarakat sekitar.
Kutukan yang Melahirkan Gunung Budek
Bertahun-tahun kemudian, seorang pemuda desa bernama Joko Budek datang dan jatuh cinta pada Resi Winadi.
Meski ditolak, ia tak menyerah. Untuk menguji kesungguhan, sang resi memberi syarat, bertapa membisu selama 40 hari 40 malam di bukit seberang.
Joko Budek menyanggupi. Ia duduk bersila tanpa bergerak.
Namun sang ibu, Mbah Rondo Dadapan, yang cemas melihat anaknya tak pulang, datang memanggilnya.
Karena tak mendapat jawaban, ia mengucap kutukan dalam amarah.
Seketika, Joko Budek berubah menjadi batu tepat pada hari ke-40.
Bukit tempatnya bertapa kemudian dikenal sebagai Gunung Budek.
Pesan Moral Legenda Abadi
Resi Winadi kembali menanggung luka untuk kedua kalinya.
Ia wafat dalam pertapaan di Gunung Bolo, dan makamnya hingga kini diyakini masih ada serta sering diziarahi.
Legenda Roro Kembang Sore di Tulungagung bukan sekadar cerita cinta tragis.
Ia menjadi simbol tentang kesetiaan, janji, dan bahaya amarah yang tak terkendali.
Dua bukit yang saling berhadapan itu kini menjadi saksi bisu kisah cinta yang tak pernah sampai.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan