RADAR TULUNGAGUNG – Misteri Legenda Roro Kembang Sore di Tulungagung kembali menyita perhatian publik.
Kisah tragis yang dipercaya menjadi asal-usul Gunung Bolo dan Gunung Budek ini memadukan cinta terlarang, pengkhianatan, hingga kutukan seorang ibu.
Dalam Misteri Legenda Roro Kembang Sore di Tulungagung, cerita bermula dari Kadipaten Bonorowo pada masa akhir Majapahit.
Roro Kembang Sore, putri Adipati Pangeran Bedalem, dikenal cantik dan berbudi luhur.
Banyak bangsawan melamar, namun tak satu pun diterima.
Cinta yang Ditentang Restu
Takdir mempertemukan sang putri dengan Lembu Peteng, pemuda berwibawa yang disebut-sebut memiliki darah bangsawan. Cinta tumbuh di antara keduanya.
Namun hubungan itu memicu murka keluarga istana. Lembu Peteng dianggap tak pantas.
Pangeran Kalang bahkan menyusun rencana untuk membunuhnya dengan bantuan Kiai Kasan Besari.
Lembu Peteng yang mencoba melamar secara resmi justru diusir dan dihina.
Ancaman nyata membuat pasangan ini memilih kabur dari istana.
Darah di Tepi Sungai
Pelarian mereka berakhir di sebuah hutan. Di sanalah pasukan Kiai Kasan Besari menyerang.
Dalam pertarungan sengit, Lembu Peteng tewas ditikam dari belakang. Jasadnya dibuang ke sungai.
Roro Kembang Sore terpukul hebat. Ia meninggalkan identitasnya dan bertapa di Gunung Cilik yang kemudian dikenal sebagai Gunung Bolo. Ia bersumpah tak akan menikah.
Ujian Cinta Kedua
Tahun berganti. Seorang pemuda desa bernama Joko Budek jatuh cinta pada sang resi. Meski ditolak, ia tetap setia membantu.
Untuk menguji tekadnya, Resi Winadi memberi syarat berat, tapa membisu selama 40 hari 40 malam di bukit seberang.
Joko Budek menjalani syarat itu. Namun ibunya, yang cemas, memanggilnya berkali-kali.
Tak dijawab karena sumpah tapa, sang ibu melontarkan kutukan.
Petir menyambar. Tubuh Joko Budek berubah menjadi batu. Bukit itu kini dikenal sebagai Gunung Budek.
Jejak Mistis yang Masih Dipercaya
Konon, posisi batu di Gunung Budek menyerupai sosok manusia bersila.
Sementara makam Resi Winadi di Gunung Bolo masih sering diziarahi.
Legenda ini mengajarkan tentang kekuatan kata-kata, kesetiaan pada janji, dan konsekuensi amarah.
Dua gunung yang saling berhadapan itu menjadi simbol cinta yang dua kali direnggut takdir.
Misteri Legenda Roro Kembang Sore di Tulungagung tetap hidup dari generasi ke generasi, menjadi bagian tak terpisahkan dari khazanah cerita rakyat Jawa Timur.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan