Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tragisnya Legenda Roro Kembang Sore dari Tulungagung, Cinta Berdarah, Pengkhianatan Kyai Besari, hingga Kutukan Gunung Butak

Muhamad Ahsanul Wildan • Minggu, 1 Maret 2026 | 12:40 WIB

Legenda Roro Kembang Sore dari Tulungagung, kisah cinta tragis, pengkhianatan, dan asal-usul Gunung Butak.
Legenda Roro Kembang Sore dari Tulungagung, kisah cinta tragis, pengkhianatan, dan asal-usul Gunung Butak.

RADAR TULUNGAGUNG - Legenda Roro Kembang Sore dari Tulungagung kembali menjadi perbincangan hangat di kalangan pecinta sejarah dan kisah rakyat Jawa.

Cerita tragis yang sarat cinta, pengkhianatan, hingga kutukan ini dipercaya memiliki keterkaitan dengan sejumlah tempat bersejarah di wilayah Tulungagung dan sekitarnya.

Legenda Roro Kembang Sore mengisahkan seorang gadis cantik jelita yang menyamar sebagai resi bernama Winardi dan bertapa di Gunung Cilik.

Sosok resi perempuan tersebut sejatinya adalah Roro Kembang Sore, putri dari seorang bangsawan Dukuh Ponorogo.

Ia memilih jalan pertapaan setelah pria yang sangat dicintainya tewas dibunuh secara tragis.

Kisah cinta dalam legenda Roro Kembang Sore bermula saat ia bertemu dengan seorang pangeran gagah dari Majapahit.

Keduanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Hubungan mereka terjalin begitu cepat, seolah takdir telah mempertemukan dua insan yang sama-sama belum pernah merasakan gejolak asmara.

Namun, kisah bahagia itu tidak berlangsung lama. Hubungan Roro Kembang Sore dengan sang pangeran diketahui oleh keluarganya sendiri.

Amarah besar pun meledak. Konflik berdarah tak terhindarkan hingga terjadi pertempuran sengit. Dalam pelarian mereka, tragedi memilukan terjadi.

Pengkhianatan dan Pembunuhan di Tepi Sungai

Saat pasangan tersebut beristirahat di tepi sungai, datanglah Kyai Hasan Besari bersama pihak yang memusuhi sang pangeran.

Tanpa ampun, pangeran dibunuh dan jasadnya dibuang ke sungai.

Roro Kembang Sore menyaksikan pembunuhan itu dengan mata kepala sendiri.

Peristiwa tersebut menjadi titik balik hidupnya. Hatinya hancur, kebenciannya membuncah, bahkan kepada ayahnya sendiri yang dianggap terlibat dalam intrik berdarah itu.

Ia memilih melarikan diri dan meninggalkan kehidupan lamanya.

Roro Kembang Sore kemudian singgah di sebuah desa bernama Dadapan.

Di sana ia tinggal bersama seorang janda tua yang dikenal sebagai Mbok Rondo.

Namun ketenangannya kembali terusik saat putra Mbok Rondo, Joko Bodo, terpikat oleh kecantikannya.

Lamaran Joko Bodo ditolak mentah-mentah. Karena terus didesak, Roro Kembang Sore memberikan syarat agar Joko Bodo bertapa bisu di gunung dekat desa tersebut. Permintaan itu dipenuhi, tetapi takdir berkata lain.

Asal-Usul Gunung Butak

Dalam pertapaannya, Joko Bodo duduk termenung menghadap ke barat tanpa bergerak.

Saat ibunya memanggil, ia tak bergeming. Petir menyambar, langit menggelap, dan tubuh Joko Bodo seketika berubah menjadi arca batu.

Konon, peristiwa itulah yang menjadi asal-usul nama Gunung Butak.

Kutukan dan penyesalan menyelimuti desa tersebut, memperkuat aura mistis dalam legenda Roro Kembang Sore.

Sementara itu, Roro Kembang Sore melanjutkan pelariannya hingga akhirnya menetap di Gunung Cilik dengan menyamar sebagai Resi Winardi.

Di sanalah ia merancang pembalasan atas kematian kekasihnya.

Baca Juga: 500–600 ASN Pemkab Tulungagung Pensiun Sepanjang 2026, Bupati Gatut Sunu Siapkan Regenerasi dan Pengisian Jabatan Strategis

Konspirasi dan Akhir Tragis

Dengan kecerdikan dan kesabaran, ia menyusun konspirasi untuk menjebak pihak yang bertanggung jawab atas tragedi masa lalunya.

Saat identitasnya terbongkar, rasa malu dan takut membuat lawannya mencoba melarikan diri.

Dalam pengejaran tersebut, pasukan yang dipimpin oleh Patih Gajah Mada turun tangan.

Sosok penting dalam sejarah Majapahit itu dikenal sebagai panglima perang tangguh yang tak memberi ampun kepada pengkhianat.

Akhirnya, musuh Roro Kembang Sore tewas secara mengenaskan.

Namun kemenangan itu tak menghapus luka di hatinya.

Ia memilih mengakhiri hidupnya dalam pertapaan, menanggalkan ambisi duniawi.

Legenda Roro Kembang Sore dari Tulungagung bukan sekadar kisah cinta tragis.

Cerita ini mengandung pesan tentang pengkhianatan, kesetiaan, dendam, dan konsekuensi dari keputusan yang dilandasi amarah.

Hingga kini, kisah tersebut masih hidup dalam tradisi lisan masyarakat.

Gunung Cilik dan Gunung Butak kerap dikaitkan dengan jejak cerita ini, menjadikannya bagian dari kekayaan folklore Jawa Timur yang terus diwariskan lintas generasi.

Legenda ini sekaligus menjadi pengingat bahwa cinta yang dikhianati dapat melahirkan kekuatan besar, namun juga menyisakan luka mendalam yang tak pernah benar-benar sembuh.

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#gunung butak #tulungagung #patih gajah mada #Legenda Roro Kembang Sore #Kyai Besari