Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menguak Sejarah Astana Gedong Tulungagung, Situs Makam Kuno yang Simpan Rahasia Peradaban Islam dan Budaya Jawa

Muhammad Rusdian Nuzula • Minggu, 1 Maret 2026 | 13:35 WIB

Sejarah Astana Gedong Tulungagung ungkap situs makam kuno abad 15 dan jejak akulturasi budaya Islam dan Hindu-Buddha.
Sejarah Astana Gedong Tulungagung ungkap situs makam kuno abad 15 dan jejak akulturasi budaya Islam dan Hindu-Buddha.

RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Astana Gedong Tulungagung menjadi salah satu topik yang menarik perhatian karena menyimpan jejak panjang peradaban Islam di Jawa. Kompleks makam kuno yang berada di Karangrejo ini diyakini memiliki nilai historis tinggi yang berkaitan dengan perkembangan masyarakat pada masa lampau.

Dalam kajian sejarah Astana Gedong Tulungagung, situs ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-15. Hal tersebut dibuktikan melalui temuan batu nisan dengan tulisan Jawa kuno yang menunjukkan angka tahun sekitar 1485 Masehi.

Situs ini dipercaya sebagai tempat peristirahatan Raden Ketawangan, seorang tokoh penting yang memiliki hubungan dengan kerajaan Mataram. Ia dikenal sebagai sosok yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah Tulungagung.

Baca Juga: Viral Alumni LPDP Dwias Setia Ningas Bangga Anak Jadi WNA Inggris, Publik Geram dan Soroti Komitmen Pengabdian

Struktur Makam dan Sistem Sosial

Kompleks Astana Gedong memiliki tata letak yang unik. Area makam terbagi dalam beberapa bagian yang mencerminkan hierarki sosial pada masa itu.

Bagian paling utara diyakini sebagai lokasi makam tokoh utama, sementara bagian lainnya ditempati oleh keluarga dan pengikutnya. Pola ini menunjukkan adanya sistem kepemimpinan yang kuat dalam masyarakat.

Selain itu, keberadaan pohon-pohon tertentu seperti Nogosari menjadi penanda penting dalam mengidentifikasi makam tokoh berpengaruh.

Simbol Transisi Peradaban

Sejarah Astana Gedong Tulungagung juga mencerminkan proses transisi budaya dari Hindu-Buddha ke Islam. Hal ini terlihat dari adanya peninggalan seperti lingga, yoni, serta struktur batu yang menyerupai candi.

Alih-alih menghilangkan budaya lama, masyarakat pada masa itu justru mempertahankan dan mengadaptasinya dalam kehidupan baru yang berlandaskan ajaran Islam. Proses ini menciptakan harmoni budaya yang khas di Tulungagung.

Baca Juga: Tragisnya Legenda Roro Kembang Sore dari Tulungagung, Cinta Berdarah, Pengkhianatan Kyai Besari, hingga Kutukan Gunung Butak

Peran Sungai dalam Perkembangan Wilayah

Letak Astana Gedong yang berada di dekat aliran sungai menunjukkan pentingnya jalur air dalam kehidupan masyarakat masa lalu. Sungai tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi, tetapi juga sebagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial.

Kawasan ini diduga awalnya merupakan hutan yang kemudian dibuka menjadi permukiman oleh tokoh-tokoh terdahulu. Proses ini dikenal sebagai babad alas yang menjadi bagian penting dalam sejarah Jawa.

Temuan Artefak dan Nilai Historis

Selain makam, ditemukan pula berbagai artefak seperti arca yang menjadi bukti adanya peradaban sebelum Islam. Artefak tersebut kini disimpan di museum sebagai bentuk pelestarian sejarah.

Keberadaan benda-benda tersebut menunjukkan bahwa Astana Gedong merupakan kawasan yang mengalami perkembangan budaya secara bertahap, dari masa Hindu-Buddha hingga Islam.

Baca Juga: Misteri Legenda Roro Kembang Sore di Tulungagung, Kutukan 40 Hari yang Melahirkan Gunung Budek

Pelajaran dari Sejarah

Sejarah Astana Gedong Tulungagung memberikan banyak pelajaran berharga, terutama tentang pentingnya menjaga nilai budaya dan sejarah. Situs ini menjadi bukti bahwa perbedaan budaya dapat menyatu tanpa konflik.

Nilai toleransi dan kebersamaan yang tercermin dari sejarah ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi masa kini dalam membangun kehidupan yang harmonis.

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#AstanaGedong #SejarahTulungagung #WisataReligiJatim