RADAR TULUNGAGUNG - Sejarah Astana Gedong Tulungagung menjadi salah satu kisah penting dalam perjalanan panjang peradaban di Jawa Timur. Situs pemakaman kuno yang berada di Desa Sukodono, Kecamatan Karangrejo ini menyimpan bukti peralihan budaya dari masa Hindu, Buddha, hingga Islam.
Sejarah Astana Gedong Tulungagung menunjukkan bagaimana sebuah tempat dapat bertahan melintasi berbagai zaman, tanpa kehilangan nilai sakralnya. Kompleks ini diyakini telah digunakan sejak era kerajaan Hindu dan Buddha sebelum akhirnya berkembang pada masa Islam.
Bukti sejarah Astana Gedong Tulungagung dapat dilihat dari berbagai peninggalan yang masih tersisa. Salah satunya adalah dua lingga yang berada di pintu masuk kawasan, yang menjadi simbol kuat pengaruh Hindu pada masa awal.
Selain itu, ditemukan pula arca Buddha Akshobhya yang memperkuat dugaan bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari tradisi Buddha. Artefak tersebut kini disimpan di Museum Wajakensis sebagai bagian dari upaya pelestarian sejarah.
Baca Juga: Sejarah Astana Gedong Tulungagung Terungkap, Jejak Peradaban Islam dan Misteri Makam Kuno Abad ke-15
Transformasi Fungsi Situs
Seiring waktu, fungsi Astana Gedong mengalami perubahan. Dari yang awalnya diduga sebagai tempat pemujaan atau kawasan suci, situs ini kemudian beralih menjadi kompleks pemakaman keluarga bangsawan.
Hal ini didukung oleh temuan nisan bertuliskan tahun 1470 Saka atau 1548 Masehi. Penanggalan tersebut menandai awal perkembangan Islam di kawasan tersebut, sekaligus menunjukkan keberlanjutan fungsi situs.
Penulisan tahun pada nisan menggunakan aksara Jawa kuno dengan arah penulisan terbalik, yang menjadi ciri khas sistem sengkalan dalam budaya Jawa.
Pembagian Area yang Sarat Filosofi
Astana Gedong memiliki struktur ruang yang unik dan sarat makna. Kompleks ini terbagi menjadi tiga bagian, yakni pendopo sebagai halaman luar, kampung sebagai halaman tengah, dan dalem sebagai halaman inti.
Pembagian ini diduga mencerminkan konsep tata ruang tradisional Jawa, meskipun belum ada sumber pasti yang menjelaskan asal-usulnya.
Di bagian dalem, terdapat makam-makam utama yang dianggap paling penting dalam keseluruhan kompleks.
Tokoh yang Masih Menjadi Teka-Teki
Baca Juga: Sejarah Astana Gedong Tulungagung Terungkap, Jejak Peradaban Islam dan Misteri Makam Kuno Abad ke-15
Dalam sejarah Astana Gedong Tulungagung, terdapat makam yang diyakini sebagai milik Raden Lembur atau Raden Ketawang. Namun, identitas tokoh tersebut masih belum dapat dipastikan.
Tidak adanya prasasti atau keterangan tertulis membuat para peneliti hanya dapat mengandalkan interpretasi dari simbol dan angka tahun yang tertera pada nisan.
Selain itu, terdapat pula makam dengan tulisan aksara Arab bertahun 1842 yang menunjukkan keberlanjutan penggunaan situs hingga periode Islam yang lebih modern.
Lingkungan Alam yang Mendukung
Salah satu daya tarik utama Astana Gedong adalah keberadaan sekitar 51 pohon nogosari yang berusia ratusan tahun. Pohon ini sering ditemukan di area pemakaman tokoh penting dalam tradisi Islam di Jawa.
Selain itu, lokasi Astana Gedong yang berada di pertemuan tiga sungai besar, yaitu Brantas, Ngrowo, dan Picisan, menegaskan bahwa kawasan ini memiliki posisi strategis sejak masa lampau.
Pada era terdahulu, sungai menjadi jalur transportasi utama yang menghubungkan berbagai wilayah. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Astana Gedong memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat saat itu.
Nilai Sejarah dan Spiritual
Sejarah Astana Gedong Tulungagung bukan hanya sekadar catatan masa lalu, tetapi juga menjadi refleksi perjalanan budaya dan spiritual masyarakat Jawa.
Keberadaan situs ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai tradisi dapat bertahan di tengah perubahan zaman. Oleh karena itu, pelestarian Astana Gedong menjadi hal penting agar warisan sejarah ini tetap terjaga.
Selain sebagai tempat ziarah, kawasan ini juga menjadi sumber pembelajaran tentang keberagaman budaya yang pernah berkembang di Tulungagung.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula