RADAR TULUNGAGUNG - Babad Tulungagung kembali menjadi perbincangan setelah kisah dramatis Kyai Kasan Besari dan Pangeran Lembupeteng diangkat dalam narasi sejarah lisan yang sarat peperangan dan pengkhianatan.
Cerita ini tak sekadar legenda, tetapi juga diyakini menjadi asal-usul sejumlah nama desa di wilayah Tulungagung dan sekitarnya.
Dalam Babad Tulungagung, konflik bermula saat Kyai Kasan Besari melarikan diri dari pertarungan sebelumnya.
Tindakannya membuat Kyai Pacet murka dan memerintahkan pengejaran besar-besaran.
Pangeran Lembupeteng ditunjuk sebagai pemimpin pasukan untuk menangkap Kyai Kasan Besari dan Pangeran Kalang.
Peperangan hebat pun pecah. Kyai Kasan Besari melarikan diri ke Desa Ringinpitu, sementara Pangeran Kalang menuju Tamansari Kadipaten Bedalem.
Di Tamansari, Pangeran Kalang bertemu Roro Kembangsore, putri Pangeran Bedalem.
Hubungan kekerabatan membuat Roro Kembangsore bersedia menyembunyikannya.
Namun situasi semakin rumit ketika Pangeran Lembupeteng datang ke Tamansari dan justru terpikat pada kecantikan Roro Kembangsore.
Ia terang-terangan menyatakan cinta. Mengetahui hal itu, Pangeran Kalang melaporkan kepada Pangeran Bedalem. Amarah pun tak terelakkan.
Konflik Saudara dan Pusaka Keramat
Sementara itu, Kyai Kasan Besari menemui kakaknya, Kyai Becak, untuk meminjam pusaka Tombak Korowelang.
Permintaan itu ditolak karena Kyai Becak mengetahui niat jahat adiknya.
Pertikaian saudara pun terjadi dan berujung tragis, Kyai Becak tewas di tangan adiknya sendiri.
Dua putra Kyai Becak, Bangun Tolak dan Dadap Tolak, mengejar pamannya ke arah selatan.
Pertempuran kembali terjadi. Keduanya gugur dengan darah yang disebut berbau langu.
Dari peristiwa inilah diyakini muncul nama Desa Boyolangu dan Desa Dadapan.
Nama-Nama Desa dari Peristiwa Berdarah
Konflik terus meluas. Pangeran Bedalem akhirnya menangkap dan membunuh Pangeran Lembupeteng.
Jasadnya dibuang ke sungai yang kemudian dikenal sebagai Kali Lembupeteng.
Sementara itu, Pangeran Bedalem yang dikejar pasukan Majapahit memilih mengakhiri hidupnya di sebuah kedung yang kini disebut Kedung Pedalem.
Pasukan Majapahit yang dipimpin tokoh bernama Perwira Mada akhirnya berhasil mengalahkan Kyai Kasan Besari di Desa Tunggul.
Tempat itu kini dikenal sebagai Desa Tunggulsari. Atas jasanya, Perwira Mada diangkat menjadi patih dengan gelar Patih Gajah Mada.
Kisah dalam Babad Tulungagung ini memperlihatkan bagaimana peperangan, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan membentuk identitas wilayah.
Nama-nama desa seperti Boyolangu, Tunggulsari, Kedungsoko, hingga Kali Lembupeteng dipercaya lahir dari rentetan tragedi tersebut.
Terlepas dari unsur mitologisnya, cerita ini menjadi bagian penting dari warisan budaya Tulungagung.
Babad Tulungagung bukan sekadar legenda, melainkan narasi kolektif yang menautkan sejarah, geografi, dan identitas masyarakat hingga hari ini.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan