Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Babad Tulungagung, Perang Berdarah Kyai Kasan Besari hingga Lahirnya Patih Gajah Mada

Muhamad Ahsanul Wildan • Minggu, 1 Maret 2026 | 14:10 WIB

Babad Tulungagung kisahkan perang Kyai Kasan Besari hingga lahirnya Patih Gajah Mada di Majapahit.
Babad Tulungagung kisahkan perang Kyai Kasan Besari hingga lahirnya Patih Gajah Mada di Majapahit.

RADAR TULUNGAGUNG - Babad Tulungagung menyimpan kisah politik penuh intrik yang berujung pada kematian para bangsawan dan lahirnya seorang tokoh besar Majapahit.

Cerita tentang Kyai Kasan Besari, Pangeran Lembupeteng, hingga pengangkatan Patih Gajah Mada menjadi bagian penting dalam sejarah tutur masyarakat Tulungagung.

Dalam Babad Tulungagung, konflik bermula dari pelarian Kyai Kasan Besari yang membuat Kyai Pacet mengerahkan pasukan besar.

Pangeran Lembupeteng ditugaskan memimpin pengejaran terhadap Kyai Kasan Besari dan Pangeran Kalang.

Pertempuran sengit tak terhindarkan. Pangeran Kalang melarikan diri ke Tamansari Kadipaten Bedalem dan bersembunyi atas bantuan Roro Kembangsore.

Namun kedatangan Pangeran Lembupeteng mengubah situasi.

Ketertarikannya pada sang putri memicu kemarahan Pangeran Bedalem.

Intrik Cinta dan Perebutan Kekuasaan

Konflik tidak hanya soal pengejaran politik, tetapi juga urusan perasaan.

Pernyataan cinta Pangeran Lembupeteng kepada Roro Kembangsore dianggap penghinaan.

Pangeran Bedalem mengejar dan akhirnya membunuh Lembupeteng.

Jasadnya dibuang ke sungai yang kemudian dikenal sebagai Kali Lembupeteng.

Sementara itu, Kyai Kasan Besari terlibat pertikaian dengan kakaknya sendiri, Kyai Becak, demi pusaka Tombak Korowelang.

Penolakan sang kakak berujung duel maut. Kyai Becak tewas, disusul kematian dua putranya yang mencoba membalas dendam.

Majapahit Turun Tangan

Kematian Pangeran Lembupeteng sampai ke telinga Kyai Pacet.

Ia mengutus Adipati Trenggalek untuk melapor kepada utusan Raja Majapahit yang tengah mencari putra raja yang hilang.

Situasi semakin genting ketika pasukan Majapahit turun tangan mengejar para pelaku.

Pangeran Bedalem yang terdesak memilih bunuh diri di Kedung Pedalem.

Sementara itu, Kyai Kasan Besari terus melarikan diri hingga akhirnya dikalahkan di Desa Tunggul oleh seorang perwira Majapahit bernama Mada.

Kemenangan tersebut menjadi titik balik penting. Sang perwira diangkat menjadi patih dan mendapatkan gelar Patih Gajah Mada.

Dalam Babad Tulungagung, momentum inilah yang disebut sebagai awal kebesaran tokoh legendaris Majapahit tersebut.

Cerita ini menggambarkan betapa konflik lokal di wilayah Tulungagung terhubung dengan dinamika besar Kerajaan Majapahit.

Babad Tulungagung bukan sekadar kisah peperangan, tetapi juga narasi tentang ambisi, pengkhianatan, dan lahirnya kepemimpinan besar.

Hingga kini, jejak kisah tersebut dipercaya tertanam dalam nama-nama tempat seperti Boyolangu, Kedungsoko, hingga Tunggulsari.

Warisan cerita ini terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai bagian dari identitas sejarah Tulungagung.

Baca Juga: Sheva Millanisty, Pemuda Pelopor Tulungagung 2024 yang Sukses Bagi Waktu antara Kuliah, MC, dan Industri Kreatif

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#majapahit #patih gajah mada #Pangeran Lembupeteng #babad tulungagung #Kyai Kasan Besari