Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Prevalensi Stunting Tulungagung Awal 2026 Turun Jadi 5,12 Persen, Dinkes Perkuat Intervensi dari Remaja hingga Ibu Hamil

Sandy Sri Yuwana • Senin, 2 Maret 2026 | 09:34 WIB

Angka prevalensi balita stunting di Tulungagung pada awal 2026 terpantau menurun.
Angka prevalensi balita stunting di Tulungagung pada awal 2026 terpantau menurun.

RADAR TULUNGAGUNG – Angka prevalensi balita stunting di Tulungagung pada awal 2026 terpantau menurun.

Angka penurunannya tercatat menjadi 5,12 persen. Data tersebut setara dengan 2.661 balita dari total 51.963 balita yang telah diukur panjang atau tinggi badannya.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung, Mamik Hidayah menjelaskan, dari total 2.661 balita stunting tersebut, sebanyak 545 balita masuk kategori sangat pendek. Kemudian, 2.116 balita masuk kategori pendek.

“Angka prevalensi ini mengalami penurunan dibandingkan 2024 sebesar 5,17 persen,” ujarnya.

Menurut dia, penurunan tersebut merupakan hasil dari berbagai intervensi yang telah dilakukan Pemkab Tulungagung, khususnya dinkes.

Upaya tersebut akan dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun hingga menyasar seluruh siklus kehidupan.

Intervensi tersebut tidak hanya difokuskan pada balita, tetapi juga dimulai sejak remaja putri, wanita usia subur, calon pengantin, ibu hamil, hingga bayi dan balita.

Langkah ini dilakukan untuk mencegah munculnya kasus stunting baru.

“Upaya pencegahan kami lakukan secara komprehensif. Mulai dari edukasi gizi, pemantauan kesehatan, hingga pendampingan pada ibu hamil dan keluarga berisiko,” jelasnya.

Sementara itu, bagi balita yang telah terdeteksi mengalami stunting dilakukan penanganan melalui sistem rujukan berjenjang.

Rujukan dimulai dari tingkat posyandu, kemudian ke puskesmas, hingga rumah sakit.

Hal tersebut dilakukan apabila diperlukan penanganan lebih lanjut.

Mamik menambahkan, di fasilitas kesehatan rujukan, balita akan mendapatkan tata laksana dari tenaga kesehatan dan dokter spesialis anak. Termasuk pemberian PKMK sesuai indikasi medis.

"Saat ini, terdapat empat rumah sakit rujukan stunting di Tulungagung. Yakni, RSUD dr Iskak, RSUD dr Karneni, RS Bhayangkara Tulungagung, dan RS Madinah," pungkasnya.

Dinkes berharap tren penurunan prevalensi stunting ini dapat terus dipertahankan melalui kolaborasi lintas sektor dan peran aktif masyarakat dalam pemantauan tumbuh kembang anak secara rutin. (sri/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#puskesmas #dinkes tulungagung #stunting #balita