RADAR TULUNGAGUNG - Menunggu waktu berbuka alias ngabuburit bisa dilakukan di mana saja. Salah satunya di kawasan Street Food Pinka Tulungagung.
Bahkan saat sore tiba, banyak masyarakat Tulungagung yang menghabiskan waktu di sana.
Sore itu, jarum jam belum genap menunjuk pukul 16.30 WIB. Namun, kawasan Street Food Pinka sudah seperti lautan manusia.
Deretan gerobak berwarna-warni berjajar rapi di pinggir kali, aroma gorengan dan rempah menguar di udara, berpadu dengan suara tawar-menawar yang bersahutan.
Ramadan benar-benar mengubah wajah kawasan pinggir Sungai Ngrowo menjadi pusat denyut ngabuburit warga Tulungagung.
Anak-anak muda, keluarga kecil, hingga pekerja yang baru pulang kantor tumpah ruah menyusuri lapak demi lapak.
Tangan mereka menenteng plastik berisi es buah, kolak, gorengan hangat, kebab, hingga aneka lauk siap santap.
Pinka bukan lagi sekadar tempat jajan, melainkan menjelma menjadi ruang temu sosial yang hanya hadir setahun sekali dengan atmosfer berbeda.
Mei, 24, salah satu pengunjung, mengaku hampir setiap pekan datang ke Pinka selama Ramadan. Baginya, berburu takjil di sini adalah pilihan paling praktis setelah seharian bekerja.
“Kalau Ramadan begini rasanya lebih praktis beli di sini. Pilihannya banyak, harganya juga masih terjangkau. Jadi nggak perlu repot masak setelah seharian kerja,” ujarnya sambil memilih es buah.
Hal senada disampaikan Silvi, 23. Dia menyebut datang ke Pinka sudah seperti ritual tahunan yang tak pernah terlewat.
Bahkan, dia menganggap ngabuburit di situ sudah seperti kebiasaan tiap Ramadan.
"Sekalian jalan-jalan sore, lihat-lihat jajanan. Tapi biasanya tetap makan di rumah supaya bisa berbuka bareng keluarga,” katanya.
Menariknya, meski kawasan ini penuh sesak menjelang Magrib, sebagian besar pengunjung memilih tidak makan di tempat.
Menjelang azan berkumandang, suasana yang semula riuh mendadak berubah.
Warga bergegas menuju parkiran, menyalakan kendaraan, dan pulang membawa kantong-kantong belanjaan.
“Saya memang jarang makan di tempat. Rasanya lebih hangat kalau buka di rumah bersama keluarga. Jadi sebelum azan sudah harus sampai rumah,” tambah Mei.
Fenomena ini memperlihatkan dua wajah Ramadan di Pinka. Di satu sisi, kawasan ini menjadi motor penggerak ekonomi kecil.
Para pedagang mengaku omzet meningkat signifikan dibanding hari biasa. Lonjakan pengunjung menjelang berbuka menjadi berkah tersendiri.
Silvi juga mengamini adanya peningkatan jumlah pembeli.
“Melihat kepadatan seperti ini memang terasa ada kenaikan pembeli. Setiap sore pasti ramai,” pungkasnya.
Di sisi lain, nilai utama Ramadan tetap terjaga. Pinka menjadi tempat mencari hidangan, sementara momen berbuka tetap diprioritaskan di rumah.
Riuh rendah transaksi hanya menjadi pengantar menuju keheningan penuh syukur di meja makan keluarga. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri