Sosok putri cantik yang kemudian menyamar sebagai resi sakti ini dipercaya masyarakat pernah bertapa di Gunung Cilik, sebuah kawasan yang hingga kini masih dikeramatkan.
Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung mengisahkan seorang gadis jelita yang dikenal sebagai Resi Winardi. Namun di balik identitasnya sebagai pendeta wanita, ia sebenarnya adalah Nyi Roro Kembang Sore, putri bangsawan dari keturunan Kadipaten Ponorogo.
Keputusan menjadi pertapa di Gunung Cilik diambil setelah tragedi memilukan merenggut nyawa orang yang sangat dicintainya.
Kisah Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung tidak hanya berbicara tentang romansa, tetapi juga tentang dendam, fitnah, serta luka batin yang mendalam akibat pengkhianatan orang-orang terdekat.
Awal Kisah Putri Bangsawan yang Jatuh Cinta
Roro Kembang Sore dikenal sebagai putri cantik jelita yang memikat hati banyak orang. Suatu hari, di taman kadipaten, ia bertemu dengan seorang pangeran gagah dari Kerajaan Majapahit bernama Pangeran Lembu Peteng.
Pertemuan tersebut menjadi awal tumbuhnya benih cinta di antara keduanya. Tatapan mata yang saling bertemu membuat keduanya seolah telah lama saling mengenal. Hubungan mereka berkembang cepat hingga dipenuhi kemesraan layaknya pasangan yang tengah dimabuk asmara.
Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Hubungan mereka diam-diam diawasi oleh Pangeran Kalang, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Roro Kembang Sore. Situasi semakin rumit karena konflik politik dan persaingan kekuasaan di lingkungan kadipaten.
Fitnah dan Pembunuhan yang Mengubah Segalanya
Hubungan cinta Roro Kembang Sore dan Pangeran Lembu Peteng memicu kemarahan keluarga istana. Fitnah pun menyebar hingga memicu pertempuran sengit antara pihak kadipaten dan sang pangeran Majapahit.
Dalam pelarian mereka, pasangan tersebut sempat berharap dapat memulai hidup baru. Namun takdir berkata lain. Di tepi sungai, mereka disergap oleh pasukan yang dipimpin Kyai Hasan Besari bersama ayah sang putri.
Pangeran Lembu Peteng tewas terbunuh dan jasadnya dibuang ke sungai. Roro Kembang Sore yang menyaksikan langsung peristiwa itu merasakan luka batin luar biasa.
Kesedihan berubah menjadi kemarahan mendalam, terutama karena ayahnya sendiri terlibat dalam tragedi tersebut.
Pelarian ke Desa Dadapan dan Kutukan Gunung Budeg
Setelah tragedi berdarah itu, Roro Kembang Sore memilih melarikan diri hingga tiba di Desa Dadapan. Di sana ia ditolong seorang janda tua yang dikenal sebagai Mbok Rondo Dadapan.
Namun ketenangan hidupnya terusik oleh Joko Bodho, putra Mbok Rondo, yang jatuh cinta kepadanya. Karena terus didesak, Roro Kembang Sore meminta Joko Bodho bertapa bisu di gunung dekat desa.
Peristiwa ganjil terjadi ketika petir menyambar dan Joko Bodho berubah menjadi arca batu. Masyarakat kemudian menyebut kawasan tersebut sebagai Gunung Budeg, yang kisahnya masih dipercaya hingga kini.
Pertapaan di Gunung Cilik dan Balas Dendam Berdarah
Roro Kembang Sore kemudian melanjutkan pelariannya ke Gunung Cilik dan menyamar sebagai Resi Winardi. Di tempat sunyi tersebut, ia menjalani pertapaan panjang sekaligus menyusun rencana balas dendam.
Penyamarannya akhirnya terbongkar saat Adipati Kalang datang ke Gunung Cilik. Pertempuran besar tak terhindarkan. Pasukan Majapahit yang dipimpin Patih Gajah Mada turun tangan membantu sang resi.
Dalam pertempuran itu, Adipati Kalang tewas mengenaskan. Meski dendamnya terbalaskan, Roro Kembang Sore tetap larut dalam kesedihan karena kehilangan cinta sejatinya.
Ia akhirnya memilih menghabiskan sisa hidupnya dalam pertapaan hingga akhir hayat, menjadikan Gunung Cilik sebagai saksi bisu perjalanan hidupnya yang penuh luka.
Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung kini terus hidup sebagai warisan budaya yang dipercaya masyarakat. Kisahnya tidak hanya menjadi cerita rakyat, tetapi juga bagian dari sejarah spiritual yang melekat kuat di Tulungagung.
Editor : Fadhilah Salsa Bella