Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legenda Gunung Cilik Tulungagung dan Kisah Tragis Nyi Roro Kembangsore, Cinta Terlarang hingga Dendam Berdarah di Zaman Majapahit

Novica Satya Nadianti • Senin, 9 Maret 2026 | 16:45 WIB

Legenda Gunung Cilik Tulungagung mengisahkan Nyi Roro Kembangsore, cinta tragis, fitnah, hingga dendam berdarah di masa Majapahit.
Legenda Gunung Cilik Tulungagung mengisahkan Nyi Roro Kembangsore, cinta tragis, fitnah, hingga dendam berdarah di masa Majapahit.

TULUNGAGUNG – Legenda Gunung Cilik Tulungagung menjadi salah satu kisah sejarah lokal yang hingga kini masih dikenang masyarakat. Gunung kecil yang berada di Desa Bolo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung itu diyakini menyimpan cerita panjang tentang sosok pertapa sakti yang dikenal sebagai Resi Winadi, yang ternyata merupakan samaran dari Nyi Roro Kembangsore.

Dalam berbagai catatan babad daerah, Legenda Gunung Cilik Tulungagung berkaitan erat dengan kisah cinta, fitnah, hingga dendam yang terjadi pada masa Kerajaan Majapahit. Cerita ini juga tercatat dalam buku “Tulungagung dalam Rangkaian Oke Indonesia” serta babad yang diterbitkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung.

Hingga kini, lokasi yang diyakini sebagai bekas pertapaan tokoh tersebut masih sering dikunjungi masyarakat. Banyak orang datang untuk berziarah atau sekadar mengenang cerita dalam Legenda Gunung Cilik Tulungagung yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Awal Kisah Nyi Roro Kembangsore

Menurut cerita rakyat, sosok Resi Winadi yang tinggal di Gunung Cilik sebenarnya adalah seorang wanita bernama Nyi Roro Kembangsore. Ia dikenal sebagai putri cantik dari Pangeran Bedalem, penguasa Kadipaten Betak.

Selain memiliki kecantikan yang termasyhur, Kembangsore juga digambarkan memiliki kemampuan spiritual tinggi. Dalam kisah tersebut, ia bahkan mampu menciptakan pusaka sakti yang konon dapat merontokkan daun-daun pohon, menumbangkan beringin, serta menandingi pusaka milik Pangeran Kalang.

Namun kehidupan sang putri berubah drastis ketika muncul fitnah yang menyebut dirinya melakukan perbuatan asusila dengan Pangeran Lembupeteng, putra Raja Majapahit. Tuduhan itu dilontarkan oleh Pangeran Kalang yang merupakan pamannya sendiri.

Fitnah tersebut berujung tragedi. Pangeran Lembupeteng akhirnya dibunuh oleh ayahnya sendiri setelah kabar tersebut sampai ke telinga penguasa. Sementara itu, Roro Kembangsore berhasil melarikan diri dari kejaran pasukan.

Cinta yang Berujung Petaka

Dalam kisahnya, hubungan antara Roro Kembangsore dan Pangeran Lembupeteng sebenarnya bermula dari pertemuan di taman Kadipaten Betak. Pertemuan itu membuat keduanya saling jatuh cinta.

Namun kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Pangeran Kalang yang mengetahui kedekatan keduanya kemudian melaporkan hal tersebut kepada Pangeran Bedalem. Amarah sang ayah memicu konflik besar.

Pangeran Bedalem kemudian mengejar pasangan tersebut. Dalam sebuah peristiwa tragis di tepi sungai, Pangeran Lembupeteng akhirnya dibunuh. Jenazahnya bahkan disebut dibuang ke sungai.

Peristiwa itu meninggalkan luka mendalam bagi Roro Kembangsore. Ia kemudian melarikan diri dan mengembara hingga tiba di Desa Dadapan.

Pertemuan dengan Joko Bodo

Di Desa Dadapan, Roro Kembangsore ditolong oleh seorang perempuan tua yang dikenal sebagai Mbok Rondo Dadapan. Ia diizinkan tinggal di rumah tersebut.

Namun kehadiran wanita cantik itu justru memunculkan masalah baru. Anak Mbok Rondo yang bernama Joko Bodo jatuh cinta kepada Kembangsore dan berkali-kali memintanya menjadi istri.

Permintaan itu selalu ditolak. Hingga akhirnya Roro Kembangsore meminta Joko Bodo melakukan topo bisu atau bertapa tanpa bicara di sebuah gunung sebagai syarat.

Ketika Mbok Rondo kembali dan mendapati anaknya hanya diam seperti batu, ia mengumpat karena kesal. Konon pada saat itulah petir menyambar dan Joko Bodo berubah menjadi batu. Gunung tempat kejadian itu kemudian dikenal dengan nama Gunung Budeg.

Pertapaan dan Balas Dendam

Setelah meninggalkan Desa Dadapan, Roro Kembangsore pergi ke Gunung Cilik dan menjalani pertapaan dengan menyamar sebagai Resi Winadi. Dari tempat itulah kisah Legenda Gunung Cilik Tulungagung semakin berkembang.

Dalam cerita babad, ia akhirnya menyusun rencana untuk membalas dendam kepada Pangeran Kalang yang dianggap sebagai penyebab seluruh penderitaannya.

Ketika Pangeran Kalang datang ke Gunung Cilik, ia terkejut mengetahui bahwa Resi Winadi ternyata adalah keponakannya sendiri, Roro Kembangsore.

Rasa takut membuat Pangeran Kalang mencoba melarikan diri. Namun ia akhirnya dikejar oleh pasukan yang dipimpin perwira Majapahit yang kelak dikenal sebagai Patih Gajah Mada.

Dalam kisah tersebut, Pangeran Kalang akhirnya tewas dengan tubuh tercincang oleh pasukan tersebut.

Legenda ini pun berakhir dengan kisah tragis. Meski dendamnya terbalaskan, Roro Kembangsore disebut memilih menjalani pertapaan hingga akhir hayatnya karena tidak mampu melupakan cinta pertamanya, Pangeran Lembupeteng.

Hingga kini, cerita Legenda Gunung Cilik Tulungagung masih menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal yang terus diceritakan kepada generasi berikutnya.

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#sejarah tulungagung