TULUNGAGUNG – Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung menjadi salah satu cerita rakyat yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat. Kisah ini tidak hanya menceritakan tragedi cinta pada masa akhir Kerajaan Majapahit, tetapi juga menjelaskan asal-usul dua bukit yang saling berhadapan di wilayah selatan Tulungagung, yakni Gunung Bolo dan Gunung Budeg.
Dalam Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung, kedua bukit tersebut diyakini menjadi saksi bisu perjalanan hidup seorang putri cantik yang harus menghadapi dua tragedi cinta sekaligus. Hingga kini, makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan tokoh tersebut di Gunung Bolo masih sering dikunjungi masyarakat untuk berziarah.
Cerita rakyat ini berkembang dari berbagai sumber babad dan cerita lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak warga Tulungagung masih mempercayai bahwa kisah tersebut memiliki kaitan dengan sejarah lokal di masa kejayaan Majapahit.
Putri Cantik dari Kadipaten Bonorowo
Menurut cerita yang berkembang, Roro Kembang Sore adalah putri tunggal dari Pangeran Bedalem, penguasa Kadipaten Bonorowo yang juga dikenal sebagai Kadipaten Betak.
Roro Kembang Sore dikenal memiliki kecantikan luar biasa. Wajahnya digambarkan seperti bulan purnama, kulitnya kuning langsat, dan senyumnya mampu memikat banyak bangsawan yang datang untuk meminangnya.
Namun sang putri tidak mudah menjatuhkan pilihan. Meski banyak pangeran dari berbagai daerah datang melamar, tidak ada satu pun yang berhasil merebut hatinya.
Di balik kehidupannya sebagai putri kadipaten, Roro Kembang Sore sebenarnya menginginkan kebebasan untuk menentukan pilihan hidup, terutama dalam urusan cinta.
Pertemuan dengan Lembu Peteng
Takdir akhirnya mempertemukan Roro Kembang Sore dengan seorang pemuda gagah bernama Lembu Peteng. Beberapa sumber menyebut ia merupakan keturunan Majapahit, sementara versi lain mengatakan ia adalah murid seorang guru sakti.
Pertemuan keduanya terjadi secara tidak sengaja di taman kadipaten. Sejak saat itu, benih cinta tumbuh di antara mereka.
Hubungan keduanya berlangsung secara rahasia. Mereka sering bertemu tanpa sepengetahuan keluarga istana.
Namun rahasia tersebut akhirnya terbongkar. Pangeran Bedalem dan Pangeran Kalang murka mengetahui putri mereka menjalin hubungan dengan seorang pemuda yang dianggap tidak sepadan dengan status bangsawan.
Pelarian yang Berakhir Tragis
Lembu Peteng sempat mencoba melamar Roro Kembang Sore secara resmi. Namun niat baiknya ditolak mentah-mentah oleh keluarga kadipaten.
Situasi semakin buruk ketika Pangeran Kalang memerintahkan seorang pendekar bernama Kiai Kasan Besari untuk mengawasi dan bahkan menghabisi Lembu Peteng.
Merasa cinta mereka terancam, Roro Kembang Sore dan Lembu Peteng akhirnya memutuskan melarikan diri dari kadipaten pada suatu malam.
Setelah perjalanan panjang, keduanya beristirahat di tepi sungai. Namun di tempat itulah tragedi terjadi.
Kiai Kasan Besari bersama pasukannya menemukan mereka. Dalam pertarungan sengit, Lembu Peteng akhirnya ditikam dari belakang hingga tewas. Jenazahnya kemudian dibuang ke sungai.
Peristiwa itu membuat Roro Kembang Sore hancur dan memilih meninggalkan kehidupan istana.
Pertapaan di Gunung Bolo
Roro Kembang Sore kemudian mengasingkan diri ke sebuah bukit kecil yang kini dikenal sebagai Gunung Cilik atau Gunung Bolo.
Di tempat itu ia menjalani kehidupan sebagai pertapa dengan nama baru, Resi Winadi. Ia bersumpah tidak akan menikah seumur hidupnya sebagai bentuk kesetiaan kepada Lembu Peteng.
Selama bertahun-tahun, Resi Winadi hidup dalam kesunyian dan menjadi sosok yang dihormati masyarakat sekitar.
Tragedi Kedua di Gunung Budeg
Kisah tragis kembali terjadi ketika seorang pemuda bernama Joko Budeg datang dan jatuh cinta kepada Resi Winadi.
Meski awalnya menolak, Resi Winadi akhirnya memberikan syarat agar Joko Budeg bertapa membisu selama 40 hari di bukit seberang.
Pemuda itu menyanggupi syarat tersebut. Namun ketika ibunya, Mbah Rondo Dadapan, datang memanggil dan tidak mendapat jawaban, ia marah dan mengutuk anaknya yang diam seperti batu.
Konon, ucapan tersebut menjadi kenyataan. Joko Budeg berubah menjadi batu di tempat ia bertapa.
Bukit tempat kejadian itu kemudian dikenal sebagai Gunung Budeg.
Makam yang Masih Diziarahi
Setelah tragedi tersebut, Resi Winadi kembali ke Gunung Bolo dan menjalani hidup dalam kesunyian hingga akhir hayatnya.
Menurut cerita masyarakat, makamnya berada di puncak Gunung Bolo dan masih sering dikunjungi peziarah hingga sekarang.
Bagi masyarakat Tulungagung, Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung bukan sekadar cerita rakyat, tetapi juga bagian dari warisan budaya yang mengandung pesan moral tentang cinta, kesetiaan, dan akibat dari amarah serta kutukan.
Legenda tentang Gunung Bolo dan Gunung Budeg pun terus diceritakan sebagai pengingat bahwa kisah cinta yang tulus pun terkadang harus menghadapi takdir yang tragis.
Editor : Novica Satya Nadianti