Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung: Kisah Cinta Tragis, Pengkhianatan hingga Asal-usul Gunung Budeg dan Gunung Cilik

Novica Satya Nadianti • Senin, 9 Maret 2026 | 16:57 WIB

Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung mengisahkan cinta tragis, pengkhianatan, dan asal-usul Gunung Cilik serta Gunung Budeg.
Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung mengisahkan cinta tragis, pengkhianatan, dan asal-usul Gunung Cilik serta Gunung Budeg.

TULUNGAGUNG – Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung menjadi salah satu cerita rakyat yang hingga kini masih dikenal luas di masyarakat. Kisah ini tidak hanya menceritakan tragedi cinta yang memilukan, tetapi juga diyakini berkaitan dengan asal-usul beberapa tempat bersejarah di wilayah Tulungagung, seperti Gunung Cilik dan Gunung Budeg.

Dalam berbagai cerita lisan yang berkembang, Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung berkisah tentang seorang putri cantik yang akhirnya memilih hidup sebagai pertapa setelah kehilangan orang yang paling dicintainya. Cerita ini juga memuat konflik keluarga, pengkhianatan, hingga dendam yang terjadi pada masa kejayaan Majapahit.

Hingga kini, kisah Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung masih sering diceritakan kembali oleh masyarakat sebagai bagian dari warisan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Putri Cantik Kadipaten Betak

Menurut cerita rakyat yang berkembang, Roro Kembang Sore merupakan putri dari Pangeran Bedalem, penguasa Kadipaten Betak yang berada di wilayah Tulungagung pada masa lampau.

Roro Kembang Sore dikenal memiliki kecantikan yang luar biasa. Selain cantik, ia juga digambarkan sebagai perempuan yang lembut dan memiliki budi pekerti baik.

Dalam kisah tersebut, kehidupannya berubah ketika ia bertemu dengan seorang pemuda gagah bernama Pangeran Lembu Peteng. Pemuda itu disebut berasal dari keturunan Kerajaan Majapahit dan memiliki kemampuan bela diri yang tinggi.

Pertemuan keduanya terjadi di taman kadipaten dan menjadi awal dari kisah cinta yang penuh gejolak.

Cinta yang Ditentang Keluarga

Hubungan antara Roro Kembang Sore dan Lembu Peteng berkembang dengan cepat. Keduanya saling jatuh cinta dan sering bertemu secara diam-diam.

Namun kisah cinta tersebut akhirnya diketahui oleh keluarga istana. Pangeran Bedalem yang merupakan ayah Roro Kembang Sore merasa murka karena menganggap hubungan tersebut tidak pantas.

Situasi semakin rumit ketika Pangeran Kalang, yang merupakan paman Roro Kembang Sore, ikut memperkeruh keadaan. Ia bahkan disebut memerintahkan seorang pendekar bernama Kyai Kasan Besari untuk mengawasi dan menyingkirkan Lembu Peteng.

Ancaman tersebut membuat pasangan itu memilih melarikan diri dari kadipaten.

Tragedi di Tepi Sungai

Pelarian Roro Kembang Sore dan Lembu Peteng tidak berlangsung lama. Dalam perjalanan, mereka akhirnya disusul oleh Kyai Kasan Besari dan pasukannya.

Di sebuah tepi sungai, terjadi pertempuran sengit antara Lembu Peteng dan para pengejarnya. Meskipun berusaha melawan, Lembu Peteng akhirnya tewas setelah diserang secara tiba-tiba.

Jenazahnya kemudian dibuang ke sungai. Peristiwa tragis tersebut disaksikan langsung oleh Roro Kembang Sore.

Kematian orang yang dicintainya membuat Roro Kembang Sore sangat terpukul. Ia bahkan menolak kembali ke istana meski diminta oleh ayahnya.

Menjadi Resi di Gunung Cilik

Setelah kejadian tersebut, Roro Kembang Sore memilih meninggalkan kehidupan istana. Ia kemudian mengasingkan diri dan bertapa di Gunung Cilik.

Dalam pertapaannya, ia menggunakan nama Resi Winadi. Dengan kehidupan sederhana, ia menjalani hari-hari dalam kesunyian dan kesedihan.

Konon, kesaktiannya membuat banyak orang datang untuk meminta nasihat atau pertolongan kepadanya.

Kisah Joko Bodo dan Gunung Budeg

Cerita tragis kembali terjadi ketika seorang pemuda bernama Joko Bodo jatuh cinta kepada Roro Kembang Sore.

Meski berkali-kali menyatakan perasaan, cintanya selalu ditolak. Untuk menghindari desakan tersebut, Roro Kembang Sore akhirnya memberikan syarat agar Joko Bodo melakukan tapa bisu di sebuah gunung dekat desa.

Pemuda itu menyanggupi syarat tersebut. Ia duduk bersila dan bertapa tanpa berbicara.

Ketika ibunya datang memanggil dan tidak mendapat jawaban, sang ibu marah dan menyebut anaknya diam seperti batu. Konon, ucapan tersebut langsung menjadi kenyataan.

Joko Bodo berubah menjadi batu dan gunung tempat kejadian itu kemudian dikenal sebagai Gunung Budeg.

Akhir Hidup Sang Putri

Dalam cerita rakyat tersebut, Resi Winadi atau Roro Kembang Sore akhirnya menjalani sisa hidupnya sebagai pertapa hingga akhir hayat.

Ia disebut tetap setia pada cinta pertamanya, Lembu Peteng, dan tidak pernah menikah sepanjang hidupnya.

Legenda ini masih sering diceritakan masyarakat Tulungagung sebagai pengingat tentang kesetiaan, cinta, serta akibat dari pengkhianatan dan amarah yang tidak terkendali.

Hingga kini, Legenda Roro Kembang Sore Tulungagung tetap menjadi bagian penting dari sejarah budaya lokal yang terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

Editor : Novica Satya Nadianti
#Gunung Budeg Tulungagung #Legenda Tulungagung #Gunung Cilik