TULUNGAGUNG – Makam Putri Roro Kembangsore di Tulungagung menjadi salah satu situs sejarah yang hingga kini masih dijaga dan dihormati masyarakat. Terletak di puncak Gunung Bolo, Desa Pulorejo, Kecamatan Kauman, tempat ini menyimpan cerita panjang tentang tokoh perempuan yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah daerah tersebut.
Lokasi makam Putri Roro Kembangsore di Tulungagung berada di kawasan perbukitan yang cukup terpencil. Meski demikian, situs ini tetap menjadi tujuan kunjungan bagi masyarakat yang ingin mengetahui jejak sejarah sekaligus mengenang tokoh yang dianggap sebagai sesepuh daerah.
Perjalanan menuju makam Putri Roro Kembangsore di Tulungagung biasanya dilakukan bersama tim pemerhati budaya maupun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata setempat. Mereka berupaya menjaga dan merawat situs tersebut sebagai bagian dari warisan sejarah yang terus diuri-uri atau dilestarikan hingga sekarang.
Tokoh Perempuan yang Dihormati Masyarakat
Setiap daerah biasanya memiliki tokoh yang dianggap berjasa dan berpengaruh dalam perjalanan sejarahnya. Penghormatan terhadap tokoh tersebut dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari merawat makam, mengenang kisah hidupnya, hingga menuturkan cerita kepada generasi berikutnya.
Hal yang sama juga terjadi pada sosok Roro Kembangsore. Menurut penuturan juru kunci makam, tokoh ini dipercaya sebagai salah satu sesepuh di wilayah Tulungagung pada masa ketika daerah tersebut masih berupa hutan lebat atau “alas gede”.
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat, Roro Kembangsore dikenal sebagai seorang perempuan yang memiliki kemampuan spiritual tinggi. Ia disebut sebagai murid dari seorang tokoh agama atau guru spiritual pada masa lampau.
Cerita tentang dirinya kemudian diwariskan secara turun-temurun melalui dongeng rakyat dan penuturan para sesepuh desa.
Kisah Legenda yang Melekat pada Roro Kembangsore
Legenda yang berkembang menyebutkan bahwa Roro Kembangsore memiliki hubungan dengan sejumlah tokoh penting pada masa kerajaan di Jawa. Ia digambarkan sebagai sosok perempuan yang disegani, baik oleh masyarakat maupun para pemimpin daerah.
Dalam kisah yang diceritakan juru kunci makam, Roro Kembangsore pernah menjalani masa pertapaan dan perjalanan spiritual yang panjang. Ia dikenal sebagai pribadi yang tekun menjalani laku tirakat.
Bahkan dalam beberapa cerita rakyat, disebutkan bahwa ia tidak makan dan minum dalam jangka waktu lama sebagai bagian dari proses semedi.
Cerita lain juga mengisahkan adanya konflik dengan tokoh-tokoh tertentu yang akhirnya membuat Roro Kembangsore memilih hidup menyendiri di kawasan perbukitan.
Perjalanan hidupnya yang penuh misteri itulah yang kemudian membuat namanya terus dikenang oleh masyarakat sekitar.
Situs Sejarah yang Terus Dilestarikan
Hingga kini, makam Roro Kembangsore tetap dirawat oleh masyarakat dan juru kunci yang menjaga situs tersebut. Keberadaan makam ini tidak hanya dianggap sebagai tempat pemakaman biasa, tetapi juga simbol sejarah dan identitas budaya daerah.
Masyarakat sekitar percaya bahwa cerita tentang Roro Kembangsore merupakan bagian penting dari sejarah Tulungagung. Karena itu, kisahnya terus diceritakan kepada generasi muda agar tidak hilang ditelan waktu.
Selain sebagai tempat ziarah, lokasi makam di Gunung Bolo juga memiliki nilai wisata sejarah. Pengunjung yang datang biasanya tidak hanya ingin berziarah, tetapi juga mempelajari legenda yang berkembang di balik sosok Roro Kembangsore.
Upaya pelestarian ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga warisan budaya. Dengan begitu, cerita tentang tokoh-tokoh lokal seperti Roro Kembangsore tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas sejarah Tulungagung.
Editor : Novica Satya Nadianti