TULUNGAGUNG – Membedah Sejarah Kabupaten Tulungagung seperti membuka kembali lembaran kitab lama yang penuh dengan keajaiban dan perjuangan. Daerah yang terletak di pesisir selatan Jawa Timur ini tidak muncul begitu saja sebagai pusat ekonomi. Ada narasi panjang tentang bagaimana sebuah wilayah genangan air bertransformasi menjadi salah satu kabupaten paling berpengaruh di Jawa Timur.
Bagi masyarakat lokal maupun wisatawan, memahami Sejarah Kabupaten Tulungagung adalah kunci untuk mengagumi setiap sudut kotanya. Dari keberadaan prasasti peninggalan kerajaan besar hingga pembangunan infrastruktur raksasa di masa penjajahan, semuanya membentuk identitas Tulungagung yang tangguh dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Keyword utama dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung ini bermuara pada satu titik waktu di abad ke-13. Saat itu, peta kekuasaan di Jawa masih didominasi oleh persaingan antar-wangsa, dan wilayah yang kita kenal sekarang sebagai Tulungagung telah mengambil peran penting sebagai benteng pertahanan kerajaan.
Baca Juga: Polytron Fox 350 dengan Skema Sewa Baterai Seumur Hidup, Solusi Hemat atau Jebakan Manis?
Anugerah Raja Kertajaya dalam Prasasti Lawadan
Titik awal administratif wilayah ini tertuang abadi dalam Prasasti Lawadan. Bertarikh 18 November 1205, prasasti ini merupakan bentuk "piagam penghargaan" dari Raja Kertajaya, penguasa terakhir Kerajaan Kadiri (Daha). Dalam catatan tersebut, sang raja memuji habis-habisan loyalitas penduduk Lawadan.
Mereka dianggap berjasa besar karena menjadi garda terdepan dalam menghalau serangan musuh yang merongrong kerajaan dari sisi timur. Atas dasar bukti otentik inilah, melalui proses kajian sejarah yang panjang, Pemerintah Kabupaten akhirnya menetapkan 18 November sebagai hari jadi resmi sejak tahun 2003 lalu.
Evolusi Nama: Dari Kabupaten Ngrowo yang Berair
Fakta unik yang sering terlupakan adalah nama asli daerah ini. Sebelum menyandang nama yang sekarang, para leluhur mengenalnya sebagai Kabupaten Ngrowo. Sesuai namanya, "Ngrowo" menggambarkan kondisi geografis masa itu yang berupa bentang rawa-rawa luas. Hampir sebagian besar wilayah daratannya tergenang air, menjadikan mobilitas warga saat itu sangat bergantung pada kondisi alam.
Dahulu, pusat denyut nadi pemerintahan bukan berada di pusat kota saat ini, melainkan di Kalangbret. Pergeseran besar baru terjadi pada 1901. Di bawah kepemimpinan visioner Raden Tumenggung Partowidjojo, identitas "Ngrowo" resmi ditanggalkan dan diganti menjadi Tulungagung, menandai berakhirnya era pemukiman rawa menuju kota yang lebih terorganisir.
Legenda Baru Klinting dan Makna Tulungagung
Asal-usul nama Tulungagung sendiri menyerap dua unsur kuat: fakta alam dan mitologi masyarakat. Secara bahasa, "Tulung" berarti sumber air dan "Agung" berarti besar. Hal ini selaras dengan kondisi Alun-Alun Tulungagung purba yang merupakan mata air raksasa di tengah rawa.
Namun, bagi pecinta cerita rakyat, nama ini tak lepas dari legenda Joko Baru atau Baru Klinting. Dikisahkan, ia menggunakan kesaktiannya untuk menyumbat sumber banjir dengan sebuah lidi. Keberhasilan Joko Baru menyelamatkan warga dari kepungan air rawa ini dikenang sebagai "Pitulungan Agung" atau pertolongan yang sangat besar dari Sang Pencipta. Nama itulah yang kemudian diserap menjadi Tulungagung yang kita kenal hari ini.
Baca Juga: OTT KPK Bupati Tulungagung: 16 Orang Diciduk, Dugaan Jual Beli Jabatan Mulai Terkuak
Kejayaan Marmer dan Terowongan Niyama
Melompat ke era modern, sejarah mencatat Tulungagung sebagai pemain utama industri pertambangan. Desa Besole di Kecamatan Besuki menjadi saksi bisu bagaimana kekayaan alam berupa marmer telah dieksploitasi sejak zaman kolonial. Kualitas marmer Tulungagung diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia, membawa nama kabupaten ini hingga ke mancanegara.
Tak hanya kekayaan alam, sejarah teknik sipil juga terukir melalui Terowongan Niyama. Dibangun pada masa pendudukan Jepang, terowongan ini adalah solusi ekstrem untuk mengatasi masalah banjir tahunan yang menghantui sejak zaman Ngrowo. Air rawa dialirkan menembus gunung menuju Samudra Hindia. Kini, Niyama bukan sekadar pengatur air, melainkan monumen sejarah betapa kerasnya usaha manusia dalam menaklukkan tantangan geografis Tulungagung.
Editor : Davina Ar Raafika