Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Kabupaten Tulungagung dari 1205 hingga Kini, Kisah Ngrowo, Prasasti Lawadan, dan Lahirnya Kota Marmer

Davina Ar Raafika • Minggu, 12 April 2026 | 18:17 WIB
Sejarah Kabupaten Tulungagung dari Prasasti Lawadan 1205 hingga jadi Kota Marmer, lengkap dengan asal-usul dan fakta menarik.
Sejarah Kabupaten Tulungagung dari Prasasti Lawadan 1205 hingga jadi Kota Marmer, lengkap dengan asal-usul dan fakta menarik.

TULUNGAGUNG – Sejarah Kabupaten Tulungagung menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan panjang wilayah di Jawa Timur. Tidak banyak yang tahu bahwa daerah ini memiliki akar sejarah sejak abad ke-13, jauh sebelum Indonesia merdeka dan sistem pemerintahan modern terbentuk.

Dalam sumber historis, Sejarah Kabupaten Tulungagung ditandai dengan keberadaan Prasasti Lawadan yang bertanggal 18 November 1205. Prasasti tersebut dikeluarkan oleh Raja Kertajaya dari Kerajaan Daha (Kediri) sebagai bentuk penghargaan kepada masyarakat Lawadan yang telah membantu menghadapi serangan musuh. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Tulungagung melalui keputusan pemerintah daerah pada tahun 2003.

Keberadaan prasasti ini menjadi bukti bahwa wilayah Tulungagung sudah memiliki peran penting sejak masa kerajaan. Oleh karena itu, Sejarah Kabupaten Tulungagung tidak hanya berkaitan dengan pemerintahan, tetapi juga erat dengan perkembangan sosial dan budaya masyarakatnya.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: Bupati Gatut Sunu Wibowo Sempat Bersembunyi di Garasi Pendopo, Modus Setoran OPD Capai Rp5 Miliar

Ngrowo, Awal Mula Tulungagung

Sebelum dikenal sebagai Tulungagung, wilayah ini bernama Ngrowo. Nama tersebut berasal dari kondisi geografisnya yang berupa rawa-rawa luas. Pada masa itu, sebagian besar wilayah tergenang air, sehingga kehidupan masyarakat sangat bergantung pada kemampuan mengelola lingkungan.

Pusat pemerintahan awal berada di Kalangbret. Meski kondisi alamnya cukup sulit, masyarakat Ngrowo mampu bertahan dan berkembang. Mereka mulai memanfaatkan lahan rawa untuk pertanian serta mengembangkan sistem pengairan sederhana.

Perubahan besar dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung terjadi pada tahun 1901. Pada masa kepemimpinan Bupati Raden Tumenggung Partowidjojo, nama Ngrowo resmi diubah menjadi Tulungagung. Perubahan ini menandai babak baru dalam perkembangan wilayah menuju sistem pemerintahan yang lebih modern.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: Terungkap Selisih Rp2,3 Miliar, Modus “Utang OPD” Dipakai Bupati untuk Biaya Pribadi

Filosofi Nama Tulungagung

Nama Tulungagung memiliki makna yang dalam. Dalam bahasa Jawa atau Sanskerta, “Tulung” berarti sumber air, sedangkan “Agung” berarti besar. Secara keseluruhan, Tulungagung dapat diartikan sebagai sumber air besar.

Makna ini sangat relevan dengan kondisi geografis masa lalu, di mana wilayah ini memiliki sumber air yang melimpah. Bahkan, kawasan yang kini menjadi pusat kota dulunya merupakan genangan air besar yang dikelilingi rawa.

Selain itu, terdapat pula versi legenda yang berkembang di masyarakat. Kisah tentang Joko Baru atau Baru Klinting menyebutkan bahwa ia berhasil mengeringkan rawa di Ngrowo. Peristiwa ini dianggap sebagai “Pitulung Agung” atau pertolongan besar dari Tuhan, yang kemudian menjadi asal-usul nama Tulungagung.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: Modus “Utang OPD” Terbongkar, Bupati Diduga Minta Rp5 Miliar untuk Kebutuhan Pribadi

Potensi Alam dan Julukan Kota Marmer

Dalam perkembangan selanjutnya, Sejarah Kabupaten Tulungagung juga tidak lepas dari potensi sumber daya alamnya. Salah satu yang paling menonjol adalah marmer. Tulungagung dikenal sebagai Kota Marmer karena menjadi salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia.

Wilayah Besuki, khususnya Desa Besole, menjadi pusat produksi marmer yang telah berkembang sejak masa kolonial. Industri ini terus bertahan hingga sekarang dan menjadi salah satu penopang utama perekonomian daerah.

Produk marmer dari Tulungagung bahkan telah dipasarkan hingga ke luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa daerah ini tidak hanya kaya sejarah, tetapi juga memiliki daya saing ekonomi yang kuat.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: 13 Orang Diboyong ke Jakarta, Bupati Gatut Sunu Wibowo Diperiksa Intensif, Uang Ratusan Juta Disita

Terowongan Niyama dan Upaya Mengatasi Banjir

Salah satu bukti nyata dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung adalah pembangunan terowongan air Niyama pada masa pendudukan Jepang. Terowongan ini dibangun untuk mengatasi banjir yang sering terjadi akibat kondisi wilayah yang berupa rawa.

Niyama berfungsi sebagai saluran pembuangan air menuju Samudra Hindia. Hingga saat ini, terowongan tersebut masih digunakan dan menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian banjir di Tulungagung.

Keberadaan Niyama menunjukkan bahwa sejak dahulu, masyarakat dan pemerintah telah berupaya mengatasi tantangan alam dengan solusi yang inovatif.

Sejarah sebagai Identitas Daerah

Kini, Sejarah Kabupaten Tulungagung tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat. Nilai-nilai sejarah tersebut terus diwariskan dan menjadi dasar dalam pembangunan daerah.

Dengan kombinasi antara sejarah panjang, kekayaan budaya, dan potensi ekonomi, Tulungagung terus berkembang menjadi daerah yang memiliki karakter kuat. Perjalanan dari Ngrowo hingga menjadi Tulungagung modern menjadi bukti bahwa daerah ini mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa melupakan akar sejarahnya.

Editor : Davina Ar Raafika
#Sejarah Kabupaten Tulungagung #Prasasti Lawadan 1205 #Ngrowo Tulungagung #asal usul Tulungagung #kota marmer