TULUNGAGUNG – Sejarah Kabupaten Tulungagung menyimpan kisah panjang yang menarik untuk ditelusuri, mulai dari masa kerajaan hingga berkembang menjadi daerah modern seperti sekarang. Wilayah yang dulunya dikenal sebagai Ngrowo ini memiliki latar belakang geografis, budaya, dan sejarah yang unik dibanding daerah lain di Jawa Timur.
Dalam catatan resmi, Sejarah Kabupaten Tulungagung bermula dari penetapan hari jadi pada 18 November 1205. Tanggal tersebut diambil dari Prasasti Lawadan yang dikeluarkan oleh Raja Kertajaya dari Kerajaan Daha (Kediri). Isi prasasti tersebut menyebutkan adanya penghargaan kepada masyarakat Lawadan karena telah membantu kerajaan dalam menghadapi serangan musuh.
Meski baru ditetapkan secara resmi pada tahun 2003, keberadaan prasasti ini menunjukkan bahwa wilayah Tulungagung sudah memiliki peran penting sejak masa kerajaan. Hal ini menjadikan Sejarah Kabupaten Tulungagung sebagai salah satu yang memiliki akar kuat dalam sejarah Jawa Timur.
Ngrowo, Wilayah Rawa yang Jadi Cikal Bakal
Sebelum menggunakan nama Tulungagung, wilayah ini dikenal dengan nama Ngrowo. Nama tersebut berasal dari kondisi geografisnya yang berupa rawa luas dan sering tergenang air. Bahkan, sebagian besar wilayah dulunya merupakan genangan air yang sulit dihuni.
Pusat pemerintahan pada masa itu berada di Kalangbret. Meskipun kondisi alamnya menantang, masyarakat Ngrowo mampu beradaptasi dan mengembangkan kehidupan, terutama dalam sektor pertanian dan pengelolaan air.
Perubahan besar dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung terjadi pada tahun 1901. Pada masa kepemimpinan Raden Tumenggung Partowidjojo, nama Ngrowo resmi diganti menjadi Tulungagung. Perubahan ini menandai transformasi wilayah menjadi lebih modern dan terstruktur.
Makna Nama Tulungagung
Ada dua versi yang menjelaskan asal-usul nama Tulungagung. Versi pertama berasal dari bahasa Jawa atau Sanskerta, yaitu “Tulung” yang berarti sumber air dan “Agung” yang berarti besar. Nama ini menggambarkan kondisi wilayah yang memiliki sumber air besar di masa lalu.
Versi kedua berasal dari legenda masyarakat tentang tokoh Joko Baru atau Baru Klinting. Dalam kisah tersebut, ia berhasil mengeringkan rawa di wilayah Ngrowo dengan cara menyumbat sumber air. Peristiwa ini dianggap sebagai “Pitulung Agung” atau pertolongan besar dari Tuhan.
Kedua versi tersebut menjadi bagian penting dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung dan masih dipercaya oleh masyarakat hingga saat ini.
Kota Marmer yang Mendunia
Selain dikenal karena sejarahnya, Tulungagung juga memiliki julukan sebagai Kota Marmer. Julukan ini muncul karena daerah ini merupakan salah satu penghasil marmer terbesar di Indonesia, khususnya dari wilayah Besuki seperti Desa Besole.
Industri marmer di Tulungagung sudah berkembang sejak masa kolonial. Hingga kini, produk marmer dari daerah ini tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke berbagai negara.
Keberadaan marmer menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan ekonomi daerah dan memperkuat posisi Tulungagung dalam peta industri nasional.
Baca Juga: Polytron Fox 350 dengan Skema Sewa Baterai Seumur Hidup, Solusi Hemat atau Jebakan Manis?
Terowongan Niyama, Warisan Bersejarah
Salah satu bukti nyata dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung adalah terowongan air Niyama. Terowongan ini dibangun pada masa pendudukan Jepang sebagai solusi untuk mengatasi banjir akibat kondisi wilayah yang berupa rawa.
Niyama berfungsi sebagai saluran pembuangan air menuju Samudra Hindia. Infrastruktur ini masih digunakan hingga sekarang dan menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian banjir di Tulungagung.
Keberadaan Niyama menunjukkan bahwa sejak dahulu, wilayah ini telah memiliki solusi teknis untuk menghadapi tantangan alam.
Warisan Sejarah yang Terus Dijaga
Hingga kini, Sejarah Kabupaten Tulungagung tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Berbagai peninggalan sejarah, mulai dari prasasti hingga infrastruktur lama, masih dijaga sebagai warisan budaya.
Dengan kombinasi antara sejarah panjang, potensi alam, dan perkembangan ekonomi, Tulungagung terus berkembang menjadi daerah yang tidak hanya kaya akan sejarah, tetapi juga memiliki masa depan yang menjanjikan.
Editor : Davina Ar Raafika