Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Sejarah Kabupaten Tulungagung Terungkap, dari Prasasti Lawadan 1205 hingga Julukan Kota Marmer yang Mendunia

Davina Ar Raafika • Minggu, 12 April 2026 | 18:38 WIB
Sejarah Kabupaten Tulungagung dari Prasasti Lawadan 1205 hingga julukan Kota Marmer, lengkap dengan fakta dan asal-usul namanya.
Sejarah Kabupaten Tulungagung dari Prasasti Lawadan 1205 hingga julukan Kota Marmer, lengkap dengan fakta dan asal-usul namanya.

TULUNGAGUNG – Sejarah Kabupaten Tulungagung menyimpan perjalanan panjang yang tidak hanya kaya akan nilai historis, tetapi juga sarat dengan legenda dan fakta penting. Dari masa kerajaan hingga era modern, Tulungagung berkembang menjadi salah satu daerah strategis di Jawa Timur dengan identitas kuat sebagai Kota Marmer.

Dalam catatan sejarah, Sejarah Kabupaten Tulungagung secara resmi dimulai pada 18 November 1205. Tanggal ini ditetapkan sebagai hari jadi kabupaten berdasarkan Prasasti Lawadan yang dikeluarkan oleh Raja Kertajaya dari Kerajaan Daha atau Kediri. Prasasti tersebut berisi penghargaan kepada masyarakat Lawadan yang berjasa membantu raja menghadapi serangan musuh dari arah timur.

Penetapan hari jadi ini sendiri baru dilakukan secara resmi oleh pemerintah daerah pada tahun 2003. Namun, keberadaan prasasti tersebut menjadi bukti kuat bahwa wilayah Tulungagung telah memiliki peran penting sejak abad ke-13. Tidak heran jika Sejarah Kabupaten Tulungagung menjadi salah satu yang tertua di wilayah Jawa Timur.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: Bupati Gatut Sunu Wibowo Sempat Bersembunyi di Garasi Pendopo, Modus Setoran OPD Capai Rp5 Miliar

Dari Ngrowo, Wilayah Rawa yang Strategis

Sebelum dikenal dengan nama Tulungagung, wilayah ini bernama Ngrowo. Nama tersebut merujuk pada kondisi geografisnya yang berupa rawa-rawa luas dan sering tergenang air. Pada masa itu, pusat pemerintahan berada di wilayah Kalangbret.

Dalam perjalanan waktu, Ngrowo berkembang menjadi kawasan yang lebih terstruktur. Faktor geografis yang awalnya menjadi tantangan justru menjadi potensi, terutama dalam sektor pertanian dan pengairan. Kondisi ini menjadi bagian penting dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung karena membentuk karakter wilayah yang adaptif terhadap lingkungan.

Perubahan besar terjadi pada tahun 1901, ketika nama Ngrowo resmi diganti menjadi Tulungagung. Pergantian ini dilakukan pada masa kepemimpinan Bupati Raden Tumenggung Partowidjojo. Sejak saat itu, nama Tulungagung mulai digunakan hingga sekarang.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: Modus “Utang OPD” Terbongkar, Bupati Diduga Minta Rp5 Miliar untuk Kebutuhan Pribadi

Asal-Usul Nama Tulungagung

Dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung, asal-usul nama daerah ini memiliki dua versi yang populer di masyarakat. Versi pertama berasal dari bahasa Sanskerta atau Jawa, yakni “Tulung” yang berarti sumber air dan “Agung” yang berarti besar. Dengan demikian, Tulungagung diartikan sebagai sumber air besar.

Makna ini sesuai dengan kondisi geografis masa lalu, di mana wilayah sekitar alun-alun merupakan sumber air besar yang dikelilingi rawa. Sumber air tersebut menjadi pusat kehidupan masyarakat saat itu.

Sementara itu, versi kedua berasal dari legenda rakyat tentang Joko Baru atau Baru Klinting. Dalam cerita tersebut, ia berhasil mengeringkan rawa di Ngrowo dengan cara menyumbat sumber air menggunakan lidi. Peristiwa ini kemudian disebut sebagai “Pitulung Agung” atau pertolongan besar dari Tuhan, yang diyakini menjadi asal-usul nama Tulungagung.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: 16 Orang Diamankan, Bupati Gatut Sunu Wibowo Tiba di Jakarta, 12 Pejabat Dibawa Bertahap

Julukan Kota Marmer dan Potensi Daerah

Selain kaya sejarah, Tulungagung juga dikenal dengan julukan Kota Marmer. Julukan ini tidak lepas dari potensi sumber daya alam berupa batu marmer yang melimpah, terutama di wilayah Besuki, seperti Desa Besole.

Industri marmer di Tulungagung telah berkembang sejak masa kolonial dan terus menjadi salah satu sektor unggulan hingga saat ini. Produk marmer dari daerah ini bahkan telah menembus pasar nasional maupun internasional.

Keberadaan industri ini semakin memperkuat identitas daerah dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung, tidak hanya sebagai wilayah bersejarah tetapi juga sebagai pusat ekonomi berbasis sumber daya alam.

Baca Juga: Saham Ciklikal Bikin Investor Salah Timing! Ini Strategi Jitu Masuk dan Keluar Saat IHSG Terkoreksi, Jangan Sampai Rugi Besar!

Terowongan Niyama, Solusi Banjir Sejak Zaman Jepang

Fakta menarik lainnya dalam Sejarah Kabupaten Tulungagung adalah pembangunan terowongan air Niyama atau Neyama pada masa pendudukan Jepang. Terowongan ini dibangun untuk mengatasi masalah banjir akibat kondisi wilayah yang berupa rawa.

Niyama berfungsi sebagai saluran pembuangan air menuju Samudra Hindia. Hingga kini, terowongan tersebut masih digunakan dan menjadi salah satu infrastruktur penting dalam pengendalian banjir di Tulungagung.

Keberadaan Niyama menjadi bukti bahwa sejak dahulu, Tulungagung telah menghadapi tantangan geografis dengan solusi teknik yang inovatif.

Warisan Sejarah yang Terus Hidup

Hingga saat ini, Sejarah Kabupaten Tulungagung tidak hanya menjadi catatan masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat. Dari prasasti kuno, perubahan nama wilayah, hingga perkembangan ekonomi, semua menjadi rangkaian perjalanan panjang yang membentuk Tulungagung modern.

Dengan potensi sejarah dan sumber daya yang dimiliki, Tulungagung terus berkembang sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan budaya, tetapi juga memiliki peran penting dalam perekonomian Jawa Timur.

Editor : Davina Ar Raafika
#Sejarah Kabupaten Tulungagung #Ngrowo Tulungagung #asal usul Tulungagung #prasasti lawadan #kota marmer