Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mitos Tulungagung di Telaga Buret Bangkit Lagi, Cara Unik Selamatkan Sumber Air dari Ancaman Tambang

Davina Ar Raafika • Minggu, 12 April 2026 | 19:20 WIB
Mitos Tulungagung di Telaga Buret bangkit, jadi cara unik warga menjaga sumber air dan kelestarian lingkungan.
Mitos Tulungagung di Telaga Buret bangkit, jadi cara unik warga menjaga sumber air dan kelestarian lingkungan.

TULUNGAGUNG - Mitos Tulungagung kembali menjadi perbincangan publik, terutama yang berkembang di kawasan Telaga Buret. Di tengah ancaman kerusakan lingkungan akibat penambangan dan pembalakan liar, masyarakat setempat justru menghidupkan kembali mitos dan ritual tradisional sebagai upaya menjaga kelestarian alam.

Mitos Tulungagung ini tidak sekadar cerita turun-temurun, melainkan bagian dari strategi sosial yang terbukti efektif dalam menjaga sumber air. Kawasan Telaga Buret yang menjadi sumber kehidupan bagi ratusan hektare lahan pertanian kini dilindungi melalui pendekatan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Fenomena mitos Tulungagung di Telaga Buret menjadi contoh bagaimana kearifan lokal dapat berperan penting dalam menjaga keseimbangan alam. Terlebih, kawasan ini memiliki peran vital sebagai penyedia air bagi sekitar 700 hektare sawah di empat desa di Kecamatan Campurdarat.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: Bupati Gatut Sunu Wibowo Sempat Bersembunyi di Garasi Pendopo, Modus Setoran OPD Capai Rp5 Miliar

Ancaman Lingkungan dan Krisis Air

Julukan Tulungagung sebagai kota marmer tidak lepas dari aktivitas penambangan batu alam yang telah berlangsung sejak era kolonial Belanda sekitar tahun 1934. Namun, aktivitas tersebut membawa dampak besar terhadap lingkungan.

Penambangan skala besar dan pembukaan lahan hutan menyebabkan berkurangnya daerah resapan air. Akibatnya, debit air di Telaga Buret mengalami penurunan signifikan, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini sempat menimbulkan kekhawatiran warga akan krisis air untuk kebutuhan pertanian.

Kerusakan hutan akibat eksploitasi alam menjadi titik balik bagi masyarakat untuk mencari solusi. Tidak hanya melalui pendekatan modern, warga juga kembali menggali nilai-nilai tradisional yang selama ini dianggap sebagai mitos.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: Terungkap Selisih Rp2,3 Miliar, Modus “Utang OPD” Dipakai Bupati untuk Biaya Pribadi

Menghidupkan Kembali Mitos Telaga Buret

Sejak 1998, seorang pegiat lingkungan bernama Karsineru mulai menginisiasi gerakan pelestarian Telaga Buret dengan pendekatan unik, yakni menghidupkan kembali mitos yang sempat memudar.

Melalui kelompok HAMBAR (Habitat Masyarakat Peduli Alam Raya), ia menggabungkan upaya reboisasi dengan ritual tradisional seperti membakar dupa, menabur bunga, hingga menciptakan suasana sakral di sekitar telaga.

Tujuannya sederhana, namun efektif: menanamkan rasa takut sekaligus hormat terhadap alam, terutama bagi generasi muda yang mulai tergerus modernisasi. Dengan adanya nuansa mistis, kawasan telaga menjadi lebih dihormati dan terjaga dari aktivitas perusakan.

Baca Juga: OTT KPK Bupati Tulungagung: 16 Orang Terjaring, 13 Dibawa ke Jakarta, Kasus Masih Misterius

Asal Usul Mitos dan Tradisi Ulur-Ulur

Mitos Tulungagung di Telaga Buret memiliki akar sejarah yang panjang. Cerita ini berkaitan dengan sosok punggawa Majapahit bernama Jigang Jaya yang dipercaya menemukan sumber mata air di kawasan tersebut.

Dalam kisahnya, Jigang Jaya berpesan agar sumber air tersebut dijaga dan dilestarikan demi keberlangsungan hidup generasi mendatang. Pesan itu kemudian diwujudkan dalam tradisi tahunan yang dikenal sebagai ulur-ulur.

Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas melimpahnya air. Warga membawa berbagai hasil bumi dan makanan, kemudian berdoa bersama agar sumber air tetap terjaga. Ritual ini juga menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Baca Juga: OTT KPK Bupati Tulungagung: Diboyong ke Jakarta, Pemeriksaan Intensif Dimulai di Gedung Merah Putih

Peran Kearifan Lokal dalam Konservasi

Pendekatan berbasis mitos dan ritual terbukti mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan. Kawasan Telaga Buret yang dulunya terancam kini berangsur pulih berkat kombinasi antara reboisasi dan penguatan nilai budaya.

Atas kontribusinya, Karsineru menerima penghargaan Kalpataru pada 2018. Selain itu, kelompok HAMBAR juga dipercaya mengelola kawasan hutan seluas 22,8 hektare oleh Perhutani.

Langkah ini menunjukkan bahwa mitos Tulungagung bukan sekadar kepercayaan, melainkan bagian dari strategi konservasi yang relevan hingga saat ini. Kearifan lokal mampu menjadi solusi alternatif di tengah keterbatasan pendekatan modern.

Harmoni Manusia dan Alam

Mitos Tulungagung di Telaga Buret menjadi bukti bahwa tradisi dan budaya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Di tengah ancaman kerusakan alam, pendekatan berbasis kearifan lokal justru mampu menjadi benteng perlindungan yang efektif.

Masyarakat kini semakin sadar bahwa alam bukan warisan semata, melainkan titipan untuk generasi mendatang. Dengan menjaga sumber air dan lingkungan, mereka turut menjaga keberlangsungan hidup di masa depan.

Editor : Davina Ar Raafika
#mitos Tulungagung #konservasi lingkungan #tradisi ulur ulur #kearifan lokal #telaga buret