Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mitos Gunung Bolo Tulungagung: Kisah Pesugihan Nyi Roro Kembang Sore hingga Praktik Prostitusi di Makam Keramat

Davina Ar Raafika • Minggu, 12 April 2026 | 19:34 WIB
Mitos Gunung Bolo Tulungagung ungkap kisah pesugihan Nyi Roro Kembang Sore hingga isu prostitusi di makam keramat.
Mitos Gunung Bolo Tulungagung ungkap kisah pesugihan Nyi Roro Kembang Sore hingga isu prostitusi di makam keramat.

TULUNGAGUNG – Mitos Gunung Bolo Tulungagung kembali mencuat dan menjadi perhatian publik setelah berbagai cerita tentang praktik pesugihan hingga aktivitas prostitusi di kawasan pemakaman keramat tersebut beredar luas. Lokasi yang berada di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman ini dikenal memiliki aura mistis yang kuat, terutama di area makam yang diyakini sebagai tempat bersemayam Nyi Roro Kembang Sore.

Mitos Gunung Bolo Tulungagung sudah lama berkembang di tengah masyarakat. Selain dikenal sebagai kawasan pemakaman Tionghoa, tempat ini juga kerap dikaitkan dengan ritual-ritual mencari kekayaan secara instan atau pesugihan. Bahkan, cerita tersebut semakin menguat karena keberadaan makam keramat di puncak Gunung Bolo yang sering diziarahi banyak orang.

Untuk mencapai lokasi makam, pengunjung harus melewati jalur menanjak yang cukup ekstrem. Meski sebagian akses jalan sudah bisa dilalui kendaraan, kondisi jalan semakin ke atas justru semakin rusak dan berbatu. Setelah itu, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki menaiki puluhan anak tangga hingga mencapai puncak.

Baca Juga: Polytron Fox 350 Resmi Meluncur, Harga Mulai Rp7,5 Juta! Skuter Listrik Murah dengan Fitur Canggih dan Desain Mirip NMAX

Makam Nyi Roro Kembang Sore Jadi Pusat Mitos

Di puncak Gunung Bolo, terdapat makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Nyi Roro Kembang Sore. Makam ini telah mengalami pemugaran sehingga tampak lebih rapi dan layak untuk dikunjungi para peziarah.

Menurut cerita yang berkembang, Nyi Roro Kembang Sore merupakan putri dari seorang adipati di wilayah Tulungagung pada masa lampau. Ia dikisahkan menjalin hubungan asmara dengan Pangeran Lembu Peteng, utusan dari Kerajaan Majapahit.

Hubungan tersebut dianggap terlarang karena situasi politik saat itu tidak harmonis. Konflik pun terjadi hingga berujung pada kematian sang pangeran. Sementara itu, Nyi Roro Kembang Sore memilih melarikan diri dan mengasingkan diri di kawasan pegunungan.

Karena kesetiaannya, ia bersumpah tidak akan menikah seumur hidup dan menghabiskan sisa hidupnya dengan bertapa. Setelah wafat, ia dimakamkan di puncak Gunung Bolo, yang kini menjadi lokasi ziarah sekaligus pusat berbagai mitos yang berkembang.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: Bupati Gatut Sunu Wibowo Sempat Bersembunyi di Garasi Pendopo, Modus Setoran OPD Capai Rp5 Miliar

Dikaitkan dengan Praktik Pesugihan

Seiring waktu, kisah cinta tragis tersebut berkembang menjadi mitos yang lebih kompleks. Sebagian masyarakat percaya bahwa makam Nyi Roro Kembang Sore menjadi tempat untuk melakukan ritual pesugihan.

Ritual tersebut konon dilakukan dengan cara berdoa di makam, lalu dilanjutkan dengan tindakan tertentu yang diyakini sebagai syarat untuk memperoleh kekayaan. Meski demikian, informasi ini masih sebatas kepercayaan yang belum terbukti secara fakta.

Juru kunci makam setempat bahkan telah membantah adanya praktik pesugihan tersebut. Ia menegaskan bahwa makam tersebut hanyalah tempat ziarah biasa yang digunakan masyarakat untuk berdoa.

Namun demikian, mitos yang sudah terlanjur berkembang membuat sebagian orang tetap mempercayainya. Hal ini menjadikan kawasan Gunung Bolo kerap dikunjungi oleh orang-orang dengan berbagai tujuan, tidak hanya ziarah.

Baca Juga: OTT KPK Tulungagung: Modus “Utang OPD” Terbongkar, Bupati Diduga Minta Rp5 Miliar untuk Kebutuhan Pribadi

Isu Prostitusi di Area Pemakaman

Selain isu pesugihan, kawasan ini juga sempat dikenal sebagai lokasi praktik prostitusi ilegal. Aktivitas tersebut disebut-sebut berkaitan dengan mitos pesugihan yang berkembang di masyarakat.

Beberapa pihak meyakini bahwa praktik tersebut muncul karena adanya anggapan bahwa ritual tertentu membutuhkan “syarat khusus”. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mencari keuntungan.

Meski begitu, keberadaan praktik prostitusi di area ini telah menjadi perhatian berbagai pihak. Upaya penertiban dan pengawasan terus dilakukan agar kawasan tersebut kembali pada fungsi utamanya sebagai situs budaya dan religi.

Baca Juga: IHSG Naik 2%, Ini 10 Saham Murah Tapi Kuat Fundamentalnya! BBRI hingga Telkom Afiliasi Masuk Radar Investor 2026

Antara Mitos dan Kearifan Lokal

Terlepas dari berbagai cerita yang beredar, mitos Gunung Bolo Tulungagung tetap menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat. Kisah Nyi Roro Kembang Sore tidak hanya dipandang sebagai legenda, tetapi juga sebagai pengingat nilai kesetiaan dan pengorbanan.

Sebagian masyarakat juga menilai bahwa mitos yang berkembang bisa menjadi cara tradisional untuk menjaga kawasan tetap dihormati dan tidak dirusak sembarangan.

Namun demikian, masyarakat diimbau untuk tetap bijak dalam menyikapi cerita-cerita tersebut. Aktivitas ziarah sebaiknya tetap dilakukan dengan tujuan spiritual yang benar, tanpa terpengaruh oleh praktik-praktik yang menyimpang.

Hingga kini, Gunung Bolo masih menjadi salah satu lokasi yang menyimpan banyak misteri di Tulungagung. Perpaduan antara sejarah, legenda, dan mitos menjadikan tempat ini terus menarik perhatian, baik bagi peneliti budaya maupun masyarakat umum.

 

Editor : Davina Ar Raafika
#mitos Gunung Bolo Tulungagung #makam keramat Gunung Bolo #Pesugihan Tulungagung #Nyi Roro Kembang Sore #cerita mistis Tulungagung