TULUNGAGUNG – Mitos Tulungagung kembali menjadi perbincangan setelah muncul kisah misterius tentang keberadaan monyet-monyet di sekitar Jembatan Ngujang. Cerita ini tidak hanya berkembang dari mulut ke mulut, tetapi juga dipercaya sebagian warga sebagai bagian dari fenomena mistis yang melekat di kawasan tersebut.
Mitos Tulungagung tentang Jembatan Ngujang menyebutkan bahwa monyet-monyet yang sering terlihat di sekitar jembatan bukanlah hewan biasa. Banyak yang percaya bahwa mereka adalah “monyet siluman” atau makhluk jadi-jadian yang berkaitan dengan praktik pesugihan hingga ritual tertentu.
Jembatan Ngujang sendiri merupakan jalur penghubung penting antara Tulungagung dan Kediri. Jembatan ini melintang di atas Sungai Brantas dan menjadi salah satu akses vital dengan lalu lintas yang cukup padat setiap harinya. Namun di balik fungsi vital tersebut, tersimpan cerita-cerita mistis yang terus hidup di tengah masyarakat.
Monyet Siluman atau Hewan Biasa?
Berdasarkan penelusuran di lapangan, keberadaan monyet memang nyata. Namun, tidak selalu terlihat di atas jembatan. Pada waktu tertentu, seperti pagi hari, monyet-monyet tersebut lebih banyak ditemukan di area pemakaman sekitar Jembatan Ngujang.
Isu yang berkembang menyebutkan bahwa monyet tersebut merupakan jelmaan makhluk gaib atau hasil dari praktik pesugihan. Bahkan ada anggapan bahwa monyet-monyet itu berasal dari “tumbal” yang digunakan dalam ritual tertentu saat pembangunan jembatan.
Namun, tidak semua pihak sepakat dengan anggapan tersebut. Seorang narasumber yang memahami aspek spiritual menyebut bahwa monyet-monyet itu sebenarnya adalah hewan biasa, bukan makhluk jadi-jadian. Ia menilai anggapan tersebut sebagai salah kaprah yang berkembang di masyarakat.
“Kalau makhluk gaib, tidak semua orang bisa melihatnya. Apalagi di siang hari. Jadi yang terlihat itu ya monyet asli,” ujarnya.
Energi Mistis di Sekitar Jembatan
Meski demikian, keberadaan unsur mistis di Jembatan Ngujang tidak sepenuhnya ditepis. Beberapa pihak percaya bahwa lokasi tersebut memang memiliki energi tertentu yang kuat.
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, pembangunan jembatan besar seringkali dikaitkan dengan ritual khusus, termasuk penggunaan “tumbal” sebagai bagian dari tradisi lama. Hal ini diyakini bertujuan untuk menjaga kekuatan struktur bangunan sekaligus menghindari hal-hal buruk.
Energi tersebut, menurut kepercayaan, bisa menarik hewan-hewan tertentu seperti monyet untuk berkumpul di area tersebut. Hewan dianggap memiliki sensitivitas lebih tinggi terhadap energi tak kasat mata dibandingkan manusia.
Baca Juga: OTT KPK Bupati Tulungagung: Sita Rp335 Juta dan Sepatu Mewah, Terungkap Modus Pemerasan Rp5 Miliar
Antara Mitos dan Realita
Fenomena ini menunjukkan bagaimana mitos Tulungagung masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat modern. Cerita tentang monyet siluman di Jembatan Ngujang menjadi contoh bagaimana kepercayaan lokal tetap bertahan meski di era informasi seperti sekarang.
Di sisi lain, penjelasan logis tetap diperlukan untuk memahami fenomena ini secara rasional. Keberadaan monyet bisa jadi disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti ketersediaan makanan dan habitat yang mendukung di sekitar area jembatan dan pemakaman.
Namun, bagi sebagian masyarakat, mitos tetap memiliki peran penting. Tidak hanya sebagai cerita turun-temurun, tetapi juga sebagai bentuk kearifan lokal yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam dan hal-hal yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah.
Warisan Budaya yang Perlu Disikapi Bijak
Mitos seperti ini pada akhirnya menjadi bagian dari identitas budaya daerah. Tulungagung, yang dikenal dengan kekayaan sejarah dan tradisinya, memiliki banyak cerita serupa yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat menyikapi mitos tersebut secara bijak. Tidak serta-merta mempercayai tanpa logika, tetapi juga tidak sepenuhnya mengabaikan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Dengan begitu, mitos Tulungagung seperti cerita Jembatan Ngujang tidak hanya menjadi kisah menyeramkan, tetapi juga bahan refleksi tentang kearifan lokal dan cara manusia memahami dunia di sekitarnya.
Editor : Davina Ar Raafika